Mengaji tempore doeloeAda pelajaran menarik malam ini, diskusi dengan hati saja, kita hanya memainkan sebuah perasaan dan tarik ulurnya ke dalam
paradigma berpikir kita.


Jika hak asasi manusia melalui kontrak sosial di masyarakat menyatakan sebagian haknya diberikan kepada lembaga (Pondok Pesantren) maka itu akan menjadi kewajiban Pon
dok Pesantren untuk memenuhi, menghormati, dan melindungi hak-hak asasi manusia di ma
syarakat. Pondok Pesantren dalam kewajibannya memenuhi, artinya pola suatu pendidikan moral dan keagamaan itu didedikasikan untuk memenuhi (fulfill) hak-hak manusia dalam masyarakat. Pondok Pesantren dalam kewajibannya menghormati, artinya menghormati (respect) kepada hak-hak individu manusia karena sebuah keberagaman cara berpikir seorang manusia. Pondok Pesantren berkewajiban melindungi, artinya memberikan perlindungan terhadap keadaan yang buta moral dan agama untuk dapat mengerti moral dan agama. Ketiga pola kewajiban tersebut merupakan serangkaian studi mengenai aktor hak asasi manusia.

Dalam hal yang demikian, menempatkan Pondok Pesantren sebagai aktor pemangku kewajiban merupakan hal yang berbeda dengan menempatkan Negara sebagai pemangku kewajiban. Hal ini terutama pada kewajiban untuk menghormati dan melindungi. Ketika suatu negara menghormati hak asasi individu artinya bila negara melakukan hak politik (melakukan intervensi) maka negara telah melakukan pelanggaran HAM by commnission. Ketika suatu negara melindungi hak asasi individu artinya bila ada seorang anak kelaparan maka negara berkewajiban memberi makan atau membawanya ke yayasan panti asuhan, apabila negara hanya diam maka negara telah melakukan pelanggaran HAM by ommnission.

Ketika Pondok Pesantren menghormati hak-hak individu untuk tidak mengaji, apabila Pondok Pesantren mencoba memaksakan individu untuk mengaji maka Pondok Pesantren telah melakukan pelanggaran by commnision. Padahal Pondok Pesantren memiliki kewajiban melindungi individu yang buta moral dan agama dengan memberikannya ilmu moral dan agama dengan mengaji, artinya kehendak individu untuk tidak mengaji akan ditentang oleh kewajiban melindungi ini. Hal ini merupakan sesuatu yang memang ada di dalam Islam, yakni Tholabul ‘Ilmi Faridhotun Ala Kulli Muslimin wal Muslimat. Jadi, bila ada individu ‘kok’ berujar, “lha ngaji gak ngaji iku hak-hak ku to?” bukan menjadi halangan suatu majlis ilmu (Pondok Pesantren) untuk melaksanakan kewajibannya dalam melindungi individu-individu yang buta akan agama dan moral.

Kesimpulan akhirnya adalah sebetulnya Mengaji di Pondok Pesantren itu merupakan sebuah kebutuhan. Kebutuhan individu dalam mengerti moral (akhlak) dan agama (fiqih) atau mengerti secara tasawuf dan syari’at. Sudah bukan merupakan hak individu tetapi kebutuhan individu. Bila hal itu adalah hak individu maka Pondok Pesantren akan menjalankan kewajibannya sebagai pemegang kewajiban untuk melindungi individu yang buta moral dan agama. Bila itu kebutuhan maka hanya individu yang ‘tidak beruntung’ jika ia justru menjauhi Pondok Pesantren.

Advertisements