ImageAda beberapa bukti mengenai Wali Songo datang ke Jawa dengan membawa beberapa aliran thoriqoh. Salah satunya adalah tradisi Tahlilan yang berkembang di Jawa.Terlepas dari segala bentuk keterikatan dengan upacara kematian, konsep Tahlilan di Jawa memiliki ciri khas Sufi Jawa.

Bila di luar Jawa terlebih luar Nusantara ada beberapa tradisi yang hadir, seperti dzikiran dengan media Whirling Dervish yang berkombinasi dengan thoriqoh Naqshaband. Maka, di Jawa memberikan konsep yang lain dari Turki.

1. Lingkaran
Majlis tahlilan di Jawa membentuk lingkaran ataupun duduk melingkar, dalam arti dari satu titik menuju titik itu lagi. Hal ini menunjukkan ranah filosofis mengenai manusia yang sejatinya akan kembali keharibaan Allah SWT setelah atas karuniaNya manusia terlahir di Dunia.

2. Kaum Rois
Majlis tahlilan di Jawa memiliki satu titik yang disebut sebagai Kaum Rois, beliaulah yang akan menjadi imam atau penuntun hati dalam dzikrullah. Konsep ini patokan dari thoriqoh yang artinya posisi Kaum Rois tersebut adalah badal dari mursyid.

3. Intro Tahlil
Sebelum menapaki puncak dalam tahlilan maka jamaah (muridun) akan mengikuti imam (Kaum Rois) membaca beberapa surat Al Quranul Kariim, dan bacaan yang baik lainnya, seperti sholawat dan istighfar. Hal inilah yang akan menuntun hati agar lebih siap secara ruhaniyyah ketika lafadl “laa ilaha illallah” itu diucapkan berulang kali. Sama seperti pada Naqshanband Dzikr yang sebelum pelafalan “laa ilaha illallah” intro pun dibawakan oleh imam.

4. Gedek-gedek
Tatkala pelafadlan “laa ilaha illallah” maka kepala akan dituntun oleh imam untuk bergoyang ke kanan dan ke kiri. Kadang ada beberapa Kaum Rois yang menuntun pelan di awal kemudian semakin kencang dan menginggalkan lafadl “Hu Hu Hu,” dibibir mereka. Hal iki, terkira sama dengan tradisi di luar Nusantara.

5. Duduk
Posisi dalam majlis ini mengutamakan duduk dengan beberapa pertimbangan aspek sosiologis. Terlebih pada prespektif keberadaban dalam ibadah, mengingat Allah. Jawa beranggapan duduklah yang beradab itu ketika seorang hamba menghadap kepada sang raja.

Advertisements