Semuanya berjalan dengan cepat dan tidak terduga. Hanya dengan kisaran waktu yang cepat, intrik-intrik terpaksa masuk dalam otak. Merubah segala bentuk pandangan yang sebelumnya berjalan dengan tenang. Ada suatu kegelisahan ketika akan melangkah, pertimbangan dan dilematisan atas suatu kebijakan harus dipikirkan secara matang. Semuanya tidak boleh gegabah, ada aspek-aspek yang harus diperhatikan dan beberapa kemungkinan lainnya.

Meskipun mendung menggelayut menghitam di angkasa, sebuah asa terhadap harapan tidak terus menghitam dan putus. Justru harus menggantikan prespektif lain untuk menapaki sebuah kebijaksanaan. Hujan salah satu mengapa Pelangi ada, berpikir bahwa Pelangi dapat muncul kapan saja tentu akan berbeda jika berpikir bahwa Pelangi akan ada ketika hujan pun ada. Ada sebuah asa yang terlihat di satu prespektif lain. Tidak terkaku pada satu sudut pandang.

Begitu pula belajar sebuah intrik. Tidak mungkin berpikir pada satu sudut pandang. Tetapi juga akan berpengaruh besar jika berpikir pada sudut yang berbeda. Ada kemungkinan-kemungkinan lain yang akan dapat terbaca sebelumnya. Meski tidak dijamin seratus persen benar atas kemungkinan tersebut, setidaknya mengkaitkannya pada hal yang dikemungkinkan sebelumnya itu bisa dilakukan. Ada ranah toleransi tinggi di dalam mempelajari ini, terlebih bagi yang memiliki prinsip terbuka.

Mengkaitkan dengan ilmu agama tentu hal ini bersangkut paut pada sebuah ilmu dasar akhlak. Menjaga toleransi adalah sebuah akhlak yang dianjurkan. Meski dalam Islam ada batasan-batasan tertentu atas asas toleransi ini. Tetapi kaitanya berpikir secara intrik dan dibarengi oleh akhlak tentu akan menimbulkan sebuah sinergi yang kuat. Dimana ada ketoleransian yang akan muncul sebagai sebuah kebijakan.

Apabila didalami secara jauh maka hal ini akan bersingunggan lagi dengan Tasawuf. Tetapi pandangan seorang Sufi intrik sebagai gejala yang alamiyah sebagai suatu interaksi sosial. Bukan menjadi alat penguasaan seperti yang dipandang kebanyakan orang. Sebab dari itulah mengapa mereka yang mendalami dunia Sufisme secara komprehensif menjadikan diri mereka hebat dipandangan orang awam. Karena rasa untuk menguasai adalah berada di nomer sekian, nomor pertama adalah Cinta.

Mengapa intrik harus dipelajari oleh manusia salah satunya agar dijadikannya mereka menjadi orang yang arif. Tidak memandang pada satu sudut secara kaku dan normatif tetapi juga mampu bergerak untuk berpikir pada sudut yang berbeda. Sehingga kemudian muncullah rasa toleran dan kedamaian.  Dunia sedang bergerak menuju kearah itu, karena ada hal yang harus dijemput di depan sana oleh Dunia ini.

Advertisements