Yogyakarta merupakan kota yang berwarna dengan segala sesuatunya, dari hal yang terkecil hingga terbesar. Kota yang dijuluki sebagai Kota Pelajar ini merupakan kota yang diidamkan oleh mahasiswa-mahasiswa di luar sana. Atmosfer seperti apakah yang mahasiswa nantikan di kota ini. Kampus-kampus pun berjejer di kawasan Kota Budaya ini, mulai dari kampus tua hingga kampus muda. Seperti jamur tumbuh di waktu yang tepat, merebaknya perguruan tinggi negeri maupun swasta di Yogyakarta adalah salah satu akibat dari julukan yang diberikan untuk Yogyakarta.

Tercatat dua event besar dari aktivitas mahasiswa yang berhalauan Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja) di kota kelahiran Muhammadiyah ini. Tercatat pada 2012 terselenggara dengan besar yakni Jambore Al Khidmah Kampus. Al Khidmah Kampus yang berinduk pada organisasi yang mewadahi Thoriqoh Qodiriyyah wan Naqshabandiyyah al Utsmaniyyah ini berhasil mendatangkan mahasiswa-mahasiswa di luar kota Yogyakarta untuk memenuhi kota Pelajar ini. Acara ini pun dibuka dengan menggelar acara Haul Ki Hajar Dewantara di Pendopo Tamansiswa. Konsep acara yang menggunakan tempat berbeda-beda membuat mahasiswa dari luar kota merasakan euforia dari terselenggaranya jambore pertama ini.

Terakhir, pada awal tahun 2015 ini. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul ‘Ulama (KMNU) menggelar Musyawarah Nasional (Munas) pertamanya. Pondok Pesantren Sunan Pandanaran dipilih menjadi tempat yang bersejarah bagi KMNU. Tecatat terdapat 12 universitas baik dari Indonesia maupun Luar Negeri (Istimewa) berkontribusi menyemarakkan agenda besar ini. Munas ini dibuka dengan Seminar “Sinergi Mahasiswa Nahdlatul Ulama melalui Nilai Spiritual dan Intelektual Mewujudkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin” dengan narasumber Alissa Wahid, putri Gus Dur. Pada Munas ini terdapat beberapa agenda yang menentukan KMNU dalam masa yang akan datang, diantaranya ditetapkan pada Sidang Pleno yakni AD/ART, GBHO, TKO dan pemilihan Presidium Nasional (Presnas).

Dua acara di atas hanya sebagai salah dua contoh.agenda besar mahasiswa ala aswaja yang digelar di Yogyakarta. Artinya, ada banyak Mahasiswa Aswaja yang mulai menyikapi dirinya untuk bangkit. Bangkit memperbaiki dan membangun bangsa Indonesia sesuai dengan bidangnya masing-masing. Karakter yang dibangun oleh Mahasiswa Aswaja merupakan mahasiswa yang menerapkan prinsip cinta Indonesia sesuai dengan Hubbul Wathon minal Iman. Tentu hal ini akan berdampak positif bagi pembangunan bangsa yang besar ini. Mungkin beberapa tahun akan datang telah siap generasi yang terpilih dengan mental yang berkeseimbangan antara intelektualitas dan spiritualitas.

Advertisements