Pagi itu, saya masih ingat betul bagaimana pagi berjalan dengan cukup sejuk. Begitu juga dengan rencana untuk bertanya-tanya kepada Simbah Kakung. Tidak begitu sadar, bagaimana perasaan yang kemudian menumpuk di dalam dada, ada sebuah perasaan ‘njangkar’ dan lain sebagainya. Ya, semua ini karena berupa kegiatan yang kemudian akan saya tanyakan langsung kepada Simbah saya.

Saya sebetulnya enggan untuk bertanya, tetapi ada sebuah beban jika pertanyaan-pertanyaan itu hanya mengambang di dalam angan. Ketika Simbah sedang membungkus kedelai-kedelai itu untuk diproses menjadi tempe, di saat itulah perbincangan menarik antara cucu dan kakek ini hadir. Saya tidak akan menuliskan secara lengkap transkripan wawancara tersebut. Saya hanya mengutip beberapa poin-poin pentingnya saja.

Kakek saya bernama Mochammad Badawi. Lahir pada hari Ahad Kliwon di tahun 1932. Tepat di tahun Jawa bernama Tahun Be. Penamaan asli Jawa yang begitu sarat akan ‘tetenger’ itu memberikan hasil penamaan yang berawalan huruf sama seperti Muhammad Bajuri, Muhammad Bilal, dan simbah lainnya.

Ayah Mochammad Badawi adalah Mochammad Maksum bin Abror (Berar). Simbah Mochammad Maksum ini merupakan santri dari Simbah Kyai Nawawi Jejeran. Di Bejen, Beliau mempunyai langgar tingkat dengan dasaran kolam yang dalam, meskipun di selatan kediaman Beliau terdapat masjid (Masjid Darussalam Bejen). Langgar tersebut berada di utara Masjid Darussalam atau tepat di barat kediaman beliau.

Bercerita soal Langgar ini, Simbah Badawi menceritakan bahwa Bejen dahulu mempunyai sekitar tiga sampai empat langgar. Langgar tersebut tersebar di kediaman Simbah Istad, Simbah Masjud, dan Simbah Maksum. Satu langgar lagi, saya masih kurang informasi karena belum mewawancarai kembali sesepuh terkait hal tersebut. Atau mungkin Langgar yang satu ini di kediaman Simbah Mohammad Wardani.

Langgar di kediaman Simbah Istad telah berubah menjadi Pondok Pesantren Hidayatul Falaah. Langgar di samping kediaman Simbah Maksum telah berubah menjadi kediaman dan warung serta pabrik tempe Simbah Badawi. Simbah Masjud sendiri yang juga memiliki langgar merupakan santri dari Plosokuning.

Sampai disini saja, angan saya sudah melayang hingga kemana-mana. Banyak sekali yang dapat kemudian ditarik garis bersinggungan. Bagaimana sistem masuk sholawatan Rodat dan sholawatan Jawi serta keberagamaan yang terjalin sangat kuat di kampung Bejen. Meskipun letaknya berada dipinggiran kota Bantul, tetapi Bejen memberikan kesan-kesan khusus bagi orang yang mengenalnya. Seperti Mantan Bupati Bantul, K.R.T. Suryo Padmo Hadiningrat (Moerwanto Suprapto), beliau pernah menyebut Bejen sebagai tempat yang tidak jauh dari nilai-nilai keagamaan yang berkembang. Mungkin jawaban, mengapa tradisi Rodatan lebih berkembang di Bejen daripada Jathilan, dsb.

Tidak hanya aspek non fisik yang artinya berkaitan. Cerita Simbah Badawi mengenai Simbah Masjud merupakan santri Plosokuning membuat angan kemudian mengaitkan kemiripan mimbar khutbah Masjid Darussalam Bejen dengan Masjid Kagungan Dalem Plosokuning (Pathok Negoro). Bahkan bukti fisiknya pun ada. Memang prakarsa pembangunan Masjid Darussalam Bejen menjadi bangunan permanen merupakan salah satu gagasan dari Simbah Masjud.

Bila masyarakat Bejen mendengar syair Pujian yang dibawakan oleh kakek saya, Simbah Badawi sebelum Iqomah, mungkin pernah muncul beberapa pertanyaan. Darimanakah syair pujian itu berasal? Ciri khas yang selalu dibawakan simbah adalah puji-pujian, “Allahumma sholli ‘ala Muhammad syafi’il ‘anam, wa alihi wa shohbihi wa salim ‘alad dawam.” Menurut cerita simbah, itu merupakan ijazahan dari Simbah Abdurrahman Bantul, ayah dari KH Mabarun. Simbah Mochammad Badawi merupakan salah satu santri kinasihnya Simbah Abdurrahman, setiap kali Simbah Abdurrahman mengisi pengajian di kampung-kampung maka seringlah Simbah Badawi mengantarkannya dengan sepeda onthel.

Saya yakin bahwa simbah-simbah itu telah menirakati kampung ini dengan sifat-sifat luhurnya. Kearifan lokal yang sekarang masih ada merupakan warisan dari simbah-simbah untuk dapat diteruskan dan dikembangkan. “Bangku kukuh yen dipaku, Islam kukuh nganggo Ilmu,” sudah sejatinya kampung ini dipaku dengan nilai-nilai keagamaan oleh simbah-simbah untuk itulah sebagai generasi penerus leluhur maka mengaji itu adalah sebuah kewajiban. Kagem leluhur, lahumul fatihah.

https://www.facebook.com/mazdan.nahdliquerz/posts/10203683034857072

Advertisements