Tulisan-tulisan itu tertulis jelas di tembok-tembok ruko maupun rumah kosong. Terkadang school fanatism adalah solidaritas perkumpulan satu rasa satu warna satu sekolah. Namun sebagai pelajar terdidik apakah hobi-hobi menulis di tembok adalah sebagai kemajuan bangsa? Apresiasi mereka menulis patut diacungi jembol dua, tapi untuk tindakan mengotori tembok itu yang perlu ditinjau ulang. Kepercayaan diri mereka membawa almamater sekolahnya pun patut diacungj jembol dua karena mereka tidak merasa malu pun untuk membawa instansi sekolah menjadi bahan tulisan.

17 Mei merupakan hari Buku Nasional. Mirip dengan 23 April yang juga merupakan hari Buku. 17 Mei ditetapkan menjadi hari Buku Nasional bertepatan dengan pendirian Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas atau PNRI) pada tahun 1980. Dengan sifat nasional yang dimilikinya maka mengartikan hari Buku disini adalah peringatan khusus dari Indonesia untuk buku, sumber pengetahuan sang jendela dunia. Perpustakaan dapat disempitkan kebermaknaannya yakni tempat seseorang ingin berwawasan luas dengan jendela-jendela yang membentang lebar menikmati sajian kepustakaan.

Buku yang berada di perpustakaan berawal dari tulisan-tulisan seseorang. Tulisan yang sama dengan prolog diatas. Hanya saja untuk school fanatism memang tidak menjadi hal yang pokok untuk ditulis. Tapi sadarkah, siswa yang menulis di dinding itu mencantumkan inisialnya diberbagai tempat dengan tulisan yang mungkin berbeda. Ibarat tempok-tempok penuh coretan itu adalah sebuah kertas, bukankah bisa menjadi buku yang tebal untuk dapat dijilid. Kreatifan dalam gravity pun dapat menjadi alternatif cover book dari buku itu. Siswa yang menuliskan “HBD Sandra kiss emotikon” di pertigaan jalan itu pun justru akan lebih kreatif untuk mengungkapkan rasa kasih sayang kepada pacar yang sedang ulang tahun. Pelajar itu bisa saja menuliskan pengalamannya mengenal cinta dan pacaran.

Sebagai contoh lainnya. Pelajar yang menuliskan nama sekolah di tembok ruko dan yang lainnya justru bisa membuat buku tentang sekolahnya atau tentang sejarah geng-nya beserta penghargaan yang pernah ditorehkan oleh geng tersebut. Geng disini diambil bukan sebagai bahan untuk menuduh atau yang lainnya, dalam sosiologi, geng merupakan kelompok dengan solidaritas antar anggota terbaik yang pernah ada. Untuk itu mengapa buku yang mengangkat kegiatan dari geng tersebut lebih seksi untuk diambil. Pernahkah untuk memikirkan bunga rampai anggota geng menjadi sebuah buku. Pengalaman dan pelajaran berharga tentu akan dapat dari buku bunga rampai geng coret-coret itu.

Pelajar bangsa Indonesia sudah saatnya kembali berpikir ulang tentang kerangka mereka bersekolah. Berapa jam mereka di kelas berapa lama mereka menyempatkan membaca buku. Bagaimana pula keadaan perpustakaan-perpustakaan itu. Bangsa ini padahal memimpikan lagi tulisan-tulisan anak negeri berkualitas. Tokoh-tokoh nasional dahulu adalah penulis ulung meski hanya pada sebuah surat-menyurat bukan untuk sebuah buku. Tetapi sekarang kumpulan surat-surat itu bisa menjadi sejilid buku. Keterpelajaran pelajar sekarang jangan hanya dapat menyisakan kotoran di tempat tidak semestinya yang kalau dikumpulkan bisa terkumpul seratus halaman tembok penuh coretan generasi penerus bangsa.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang penuh generasi muda yang siap untuk memajukan bangsanya.

Selamat Hari Buku Nasional

Advertisements