Aku tidak bisa menghindari dari suara berdecit mesin itu. Saling bergesekan satu sama lainnya sehingga bunyi tidak mengenakkan itu mencemari suara. Namun, harus melangkah seperti apa lagi jika hanya dengan mesin itu semua ini dapat terselesaikan, meski belum semuanya selesai. Mesin pencetak huruf-huruf berwarna hitam itu terus bergerak hingga membentuk pula pola tabel seperti yang tertampil di Microsoft Word.

Menyelesaikan data santri itu seperti menemukan dunia yang aneh. Madrasah kalongan utara jalan itu, menyisakan data-data pendaftaran santri yang berjibun. Mulai dari awaliyah hingga tsanawiyah, dipenuhi data-data siluman yang menakutkan. Banyak formulir yang menyisakan tulisan tanpa hasil dari santri yang terdidik. Mengerikan. Adapun mereka yang tersisihkan dari eliminasi alam pun juga membuat buku kuduk meradang. Raport, formulir, syahriyah tanpa jalan, santrinya masih tetap eksis. Antara sollen-sollen yang bergelimangan keseinan yang wajar.

Tapi, sebagaimanapun itu kelakuan santri, mereka masih bertahan dari godaan dunia antara maghrib sampai isya dengan penuh pelajaran. Meski smartphone tidak bisa dihindarkan dari tangan-tangan rindu pacar mereka. Apresisasi tinggi untuk mereka yang masih menyempatkan mengaji. Kelak akan mengerti ketika proses perjalanan hidup mereka terbentur batu karang cadas. Seperti aku ini, yang suka bolos karena organ-organ mahasiswa yang membutuhkan belaian lebih itu.

Bagaimanapun juga, langgar di utara jalan itu adalah simbolik kampung yang menurutku penuh dengan nilai-nilai kesantrian. Di sana adalah seperti rumah kedua yang siap menerimaku ketika dini hari baru sampai Bejen karena kegiatan lebay dari ormawa. Selamat menempuh Imtihan, kalau ada data yang keliru, itu mungkin karena guyonan dari kelopak mataku.

Advertisements