Setelah menamatkan Madrasah ‘Aliyah di Jombang, Khoir, Judin, dan Dullah melalang buana di kota pelajar. Mereka melanjutkan jenjang pendidikan di perguruan tinggi yang terdapat di Yogyakarta. Mereka berpencar dengan jurusan dan fakultas yang saling berbeda, bahkan universitasnya pun berbeda. Singkat ceritanya, setelah beberapa bulan mengikuti kegiatan perkampusan yang sedemikian rupa, mereka berkumpul pada suatu angkringan di dekat Nol KM.

“Ir, ngampus aktif di organisasi apa kamu?” tanya Judin.

Khoir menjawab, “Aku aktif di HMI kang, soalnya ada kayak Pak Mahfud MD, Cak Nur, bahkan Yai Saifuddin Zuhri pun mencegah pembubaran HMI.”

“Terus kang Dullah aktif dimana?” tanya Judin lagj.

“Aku aktif di PMII kang. Piye? Kalau NU ya jelas NU-nya dong. Lambangnya aja sudah lintang songo,” jawab kang Dullah.

“Lhah, pean sendiri dimana kang Judin?” tanya Khoir menyerobot.

Judin menjawab, “Aku aktif di Gerakan Mahasiswa Nasionalis Islam. Piye? Yo mambu NU to?”

Lantas saja, angringan itu riuh rendah tawanya Khoir dan Dullah.

‪#‎SantriGendeng‬

Advertisements