Pagi yang cerah membasahi bumi Gedongharjo. Masih rimbun dan banyaknya pohon memberikan kesejukan yang lain dari suasana perkotaan. Kang Makruf, seorang pengelana yang menjelajahi kota Jakarta dengan kesuksesannya kembali menilik pondok yang mendidiknya dulu, Hidayatuth Tholibi-en.

Kang Makruf masih menyimpan memori berharga ketika menimba ilmu di pondok asuhan KH Adib Masjud ini. Termasuk teman sekamarnya yang masih setia menunggu pondok ini, Kang Faqih. Momen lebaran kali ini tidak disia-siakan oleh Kang Makruf untuk menjenguk Kang Faqih di pondok.

Sabtu pagi ini. Terlihat Kang Makruf dan Kang Faqih betapa cucoknya menikmati pagi dengan ngobrol di depan ndalem KH Adib Masjud ditemani dengan kopi, rokok dan koran pagi. Obrolan pun sangat mereka berdua nikmati bersama.

“Kang, orang Jakarta itu gimana uteknya?” tanya Kang Faqih sambil menunjukkan sebuah judul di koran pagi itu.

“Salah apa Kang?” selidik Kang Makruf kemudian.

“Masak yaa, obat mau dijadikan bahan bakar itu ceritanya gimana? Sampeyan tau?” tanya balik Kang Faqih dengan kepala gedeknya.

“Lhoh piye tho Kang?” tanya kebingungan Kang Makruf.

“Opo bedane Oralit karo Pertalit? Kok pating jempalit to?” jawab Kang Faqih dengan sebuah pertanyaan balik.

“Yongalah, paringono kulo garwo Gustiiii,” desah Kang Makruf. “Kaaang, Oralit iku Simbah e Pertalit, ngoten.”

~ The End ~

Advertisements