Malam itu, daku terbangun tepat sepertiga malam. Daku tahu karena handphone yang bersanding di bantal itu menyala dan menunjukkan angka digital. Terbangun, bukan sengaja untuk bangun, tetapi ‘nglilir’ dari suntuknya mimpi.

Terdengar suara tangisan lirih sekali. Mungkin suara semut. Tetapi sesenggukan itu aku kenal, dia bukan semut. Daku menduga dialah salah satu wali yang diceritakan Bapak tempo hari. Wali yang bermuwajahah dengan kekasihnya di sepertiga malam akhir. Dia lebih beken daripada Gus Amat, dialah Kang Ghulam.

“Kang,” panggilku lirih, memungkinkan dia dengar suaraku.

“He’em,” jawabnya sambil terbata-bata dan lirih juga.

“Keno opo kang?” tanya ku lagi.

“Aku gak kuat Dan,” jawabnya lagi.

“Gak kuat ngopo Kang?” tanyaku penasaran.

“Gak kuat ngamalno Nariyahan ping 100 ambalan,” jawabnya dengan panjang dan terbata-bata sesenggukan.

“Kok iso Kang?” tanyaku makin penasaran.

“Aku kelingan Mantan,” jawabnya sambil menangis lagi. Setelahnya Kang Ghulam mendengung dengan cukup lirih tapi dapat ku dengar, “Kalimantan wa saliiimmm.”

“Woy! Kamil, kamil, dudu kalim!” Kang Makruf menyahut dengan keras. Daku kira, dia tidur, tenyata terganggu juga dengan tangisan itu, tangisan Kang Ghulam. “Tasripen ae terus iku Kalim, peyan gak bakal iso move on seko mantan,” tambahnya.

Daku kemudian cekikikan dalam sarung yang daku tarik. Ketawa sambil memegang perut, karena kontraksi yang berlebihan. Daku jadi ingat kumpulan yang cocok untuk Kang Ghulam. IJNU, Ikatan Jomblo NU. Ya pantas saja 100 kali Nariyah pun tidak akan sanggup karena Mantan masih terus membayang ‘dihafalan’ Jomblo dadakan.

“Peyan iku kurang turu kang!” tutup Kang Makruf.

Advertisements