Malam terus berjalan hingga menuju di puncak peredarannya. Rembulan yang berumur beberapa hari itu sekarang hilang. Entah kemana lari bocah itu. Sejelas terpandang hanyalah kehitaman yang samar. Tidak terlalu pekat. Keadaan masih dapat dilihat dengan mata, meski bukan untuk jarak yang jauh.

Kuda yang ditunggangi oleh Saniscara terus menembus pekatnya malam. Dia tidak gentar pada kelamnya pandangan di depan. Sebilah pedang terhunus telah siap di depan dadanya. Pedang yang sangat tipis untuk dijumpai di Jawadwipa. Tipis dan tajam. Tidak semua Mpu bisa menempanya.

Jalanan setapak itu masih terus mendaki. Semakin naik, semakin dingin menyapa. Entah sudah berapa lama Saniscara bertahan di punggung kuda itu. Setapak terus saja dilalui oleh kaki-kaki yang kokoh itu. Tampak begitu hati-hati Kuda Narapati, nama tunggangan Saniscara melangkah. Ia kecapaian setelah berlari begitu jauh.

Kuda Narapati menikmati betul kelamnya malam di jalanan yang terjal dan mendaki. Tampak Kuda Narapati begitu riang melihat langit yang bersih. Tiada awan yang berkeliaran di tengah malam. Satu helai awan pun tidak ada. Bersih dan indah. Ia kemudian meringkik pelan.

Saniscara tahu betul sahabat perjalanannya itu memberitahukan sesuatu. Reflek, Saniscara mengelus dada kuda kesayangannya. Dengan kepala yang digerakkan menunjukkan angkasa, Kuda Narapati memberitahu Saniscara harus melihat langit malam. Maka, Saniscara mendongakkan kepala.

Di depannya berdiri pohon tua besar yang meranggas karena musim kering. Ranting-ranting yang bercabang kemana-mana itu memenuhi satupertiga pandangan mata Saniscara. Dengan warnanya yang hitam dan kelam, siluet ranting itu adalah sebuah hiasan yang menawan.

Langit di belakang pohon tua itu terlukis indah bagaimana gugusan bintang-bintang berkedip sangat banyak. Di ujung daratan tampak sudut lancip itu mulai mengembang dan menggelembung ketika semakin ke angkasa. Selain berkilau dengan cahayanya, terdapat garis-garis warna merah dan ungu saling menggradasikan diri. Gradasi warna itulah yang mempertegas beberapa garis yang dibentuk oleh pola bintang.

Saniscara bergumam dengan lirih, “Mungkin kau adalah bintang yang elok itu Citra Sulaksmi.”

Menitiklah beberapa butir air dari matanya. Diusaplah pipi yang sembab itu. Kemudian ia palingkan wajahnya dari langit seraya kembali menarik tali kendali. Kuda Narapati meringkik. Mendengus kemudian dan mengeluarkan uap dingin. Berjalan perlahan kembali menjauh dari Kota Wengker.

………………….

Advertisements