……………

Bhayu dan Radite bergeming. Mereka saling melirikkan mata.

“Tentu bukan prajurit rendahan kemarin sore kan Kakang Rama?” tanya Bhayu kepada Panglima Ramawijaya.

“Tentu saja bukan bodoh! Kenapa dua orang itu tidak kalian saja? Itu kan beres,” jawab Panglima Ramawijaya dengan nada keras.

Bhayu dan Radite kembali saling lirik. Untuk kali ini mereka mengiyakan perintah Panglima Ramawijaya. “Siap Panglima!” jawab mereka serentak dan bersamaan. Panglima Ramawijaya menganggukkan kepala, menandakan persetujuannya kepada Bhayu dan Radite.

Mereka berdua segera bergegas. Sebuah tugas yang tidak mudah. Seharian dan hampir larut malam seluruh kota Wengker mereka jelajahi. Sekarang, saatnya hengkang dari sudut kota. Beranjak tanah-tanah lebih berbahaya di luar kota. Lelah itu mungkin sudah dibayarkan dengan secangkir kopi di angkringan itu.

Istal merupakan tujuan langkah Bhayu dan Radite di dini hari itu. Mereka akan memilih kuda yang hebat. Mungkin juga yang dapat berlari cepat. Sehingga perjalanan mereka akan dilakukan dengan singkat. Harapan mereka adalah dapat segera tertangkap orang yang dimaksud sebagai kunci itu.

Tidak perlu seorang pekatik untuk mengurus perlengkapan kuda. Bhayu dan Radite merupakan prajurit yang cekatan. Semua sudah dipersiapkan di kuda dengan segera. Termasuk senjata yang siap siaga melindungi mereka. Mereka telah siap secara sempurna untuk misi ini dan berjalanlah kuda itu.

Kokok ayam pagi menyambut mereka di batas kota Wengker. Ini hanya batas kota dengan daerah lain di bawah negara Wengker. Belum untuk keluar dari batas negara. Di sebelah barat sana terdapat negara Mantyasih dan Pragota. Perjalanan Bhayu dan Radite melawan arah gerak matahari, artinya hari ini perjalanan mereka akan membelakangi matahari di setengah hari awal, menuju barat.

“Kita akan memulai sebuah perjalanan panjang Dit,” ujar Bhayu di atas pelananya.

Bhayu terus menatap ke arah depan, sekalipun tidak menoleh ke belakang. Melihat kembali kota Wengker yang megah itu. Beberapa lampu menghiasi sisi-sisi gelap di Wengker. Begitu indah. Tetapi itu tidak menjadikan Bhayu untuk kembali menengok ke belakang.

“Benar Bhay, kita sepertinya akan memulai sebuah pencarian yang melelahkan,” jawab Radite.

“Kita nikmati perjalanan malam ini Dit, sampai di kampung di dekat sini,” tanggap Bhayu sambil melirik tajam kepada Radite.

Langit begitu bersih menyambut Bhayu dan Radite. Arah perjalanan mereka masih terlihat pekat. Sedangkan di balik mereka sedikit beranjak dari kepekatan. Hanya sedikit saja. Namun meskipun perlahan, kepekatan itu hanya akan menjadi cerita di beberapa waktu mendatang.

………

Advertisements