………

Semburat merah yang memanjang terlihat sangat jelas di cakrawala bagian timur. Membentang di antara lekak-lekuk pegunungan yang memanjang dari selatan ke utara. Puncak-puncak yang saling berbeda itu membuat pemandangan siluet yang luar biasa.

Langit begitu bersih merwarna oranye. Di atas kota Mentyasih, langit masih terlihat biru kehitaman. Perpaduan warna yang saling bercampur itu menyejukkan mata memandang. Perlahan-lahan Sang Bagaskara itu menampakkan di balik kabut yang bergantungan. Begitu bulat mentari itu di antara barisan kabut yang turun. Begitu tenang mentari naik perlahan.

Mentyasih menyambutnya dengan suka cita. Dingin pagi itu terasa sekali. Namun, masyarakat Mentyasih tetap melawannya dengan keseharian mereka. Terutama di pasar kota. Hari ini tepat pada puncak keramaian kegiatan pasar karena bertepatan dengan hari Kliwon. Begitu rupa penjual bersemangat menunggu dagangan mereka laku. Terutama penjual bubur yang begitu sibuk melayani pembeli.

Bubur itu masih panas. Baru saja tanak dari kuali di atas bara yang masih menyala. Disuguhi pula dengan berbagai hidangan yang menunjang selera. Terdapat telur semur, tempe dan tahu bacem, dan berbagai sayuran lainnya. Tidak hanya masyarakat awam saja, terlihat pula beberapa orang memakai baju seragam dari istana. Mereka tampak riang setelah mendapatkan bubur panas itu.

“Errrrhhh,” erang orang berseragam itu memegang bubur panas.

“Masih panas,” tanggap temannya dengan mengaduk-aduk bubur. “Gini biar cepat adem Mas Rono.”

Dua orang itu tampak menikmati betul pagi dengan sepiring bubur. Terkadang angin yang pelan menghembuskan udara dingin. Cukup untuk sekedar menghangatkan badan mereka. Angin cukup pelan berhembus. Menggoyangkan beberapa daun yang bertengger di ranting pohon.

“Kita menunggu orang itu kan Mas Rono?” tanya orang yang mengaduk-aduk bubur tadi.

“Iya, ditunggu saja, perintahnya seperti itu Dik Hesa,” jawab Mas Rono.

“Emang seberapa penting orang itu Mas?” tanyanya lagi penasaran.

“Kita ditugaskan untuk melindungi dia, ada kepentingan dari orang itu untuk kita, terlebih untuk Mantyasih,” jawab Rono sambil menikmati bubur yang sudah tidak panas lagi.

“Jadi?” tanggap orang yang ternyata dipanggil Hesa sambil menikmati bubur pula, “Kita ditugaskan untuk menjemput orang itu Mas? Setelah sampai di Mantyasih, orang itu akan dilindungi, seperti itukah Mas?”

Orang yang dipanggil Mas Rono itu hanya mengangguk saja. Bubur memang susah dinikmati bila sambil berbicara. Begitu juga ditirukan oleh lawan bicaranya. Mereka berdua tampak menikmati betul bubur itu dengan nyaman. Duduk di kursi panjang di bawah pohon Beringin pinggir pasar.

“Kapan dia datang Mas?” tanya Hesa setelah membersihkan piringnya dari bubur.

Mas Rono menghela nafas sejenak dan menjawab, “Perkiraanku ketika matahari naik sepenggalah, orang itu sampai disini.”

“Waaah, masih lama,” komentar Hesa.

“Ya itu perjalanan dia Dik Hesa, tidak lama juga kok menunggu mentari itu naik sedikit lagi,” jawab Rono.

“Hehe, siap Mas,” tanggapan Hesa.

………

Advertisements