“Kang? Leptop e nganggur?” tanyaku kepada Kang Ma’ruf yang sedang sibuk bermain smartphone.

“He eh,” jawab Kang Ma’ruf singkat.

Daku pegang benda berbentuk aneh di samping laptop ini. Orang-orang menyebutnya Mouse. Tikus dalam arti Indonesia, tetapi apa korelasinya dengan perangkat hebat seperti ini jika dibandingkan dengan tikus dalam aslinya.

Terdapat folder bernama “Adobe Premiere Pro”. Setelah daku buka folder itu, ada satu judul yang membuatku penasaran. Coba aku klik dua kali pada file itu. Daku sempat kaget ketika kemudian layar menjadi hitam dan muncul tulisan di GOM. Padahal sebelumnya daku baca BOM. Jantungku berdetak kencang.

Di awal video itu diputar masih menyisakan bayangan gelap, meski terdengar suara “Ma’as salaaaam” saat itu. Sesaat muncul animasi tulisan yang bunyinya seperti ini, “Teruntuk guru-guruku.” Tulisan itu terangkai begitu pelan, sangat pelan dan mengikuti irama suluk awal itu.

Kemudian muncul foto-foto para Kiai, Di awal terdapat alm. KH Achmad Asrori Al Ishaqi Surabaya. Disusul dengan foto-foto lain Kiai Rori koleksi Kang Ma’ruf. Termasuk beberapa kegiatan kami di majlis yang beliau kembangkan. Foto itu termasuk ketika Kiai Rori duduk di majlis di kota ini.

Ada alm. KH Ja’far Pepe dirangkaian selanjutnya. Dilengkapi pula foto ketika rombongan Santri Kampung bersilaturrahim kala belliau masih sugeng. Secara rapi Kang Ma’ruf membuat video itu. Disusul foto dan kenangan ketika para kiai itu masih duduk tenang sambil bersantai menerima tamu.

Dirangkaikan pula alm. KH Mabarun, alm. KH Muhtarom Idris, alm. KH Nawawi Abdul Aziz, alm. KH Ahmad Warson, alm. KH Zainal Abidin, dan banyak kiai lainnya. Beberapa kenangan pun muncul lewat foto-foto dokumentasi zaman dahulu itu. Rombongan silaturrahim lebaran kala itu memang memberikan kesan di video ini. Terlebih nongol pula dokumentasi PPSPA zaman baheula, ketika KH Mufid Mas’ud masih sugeng.

Video itu ditutup dengan foto KH Hasyim Asy’ari. Lengkap pula iringan qoshidah yang dilantunkan oleh Al Mubarok Kudus ini.

“Yo, rasah karo nangis Kang!” tegur Kang Ma’ruf mengagetkanku.

Ternyata aku ‘ngiluh’ menonton video gubahan Kang Ma’ruf. Merangkainya di aplikasi Adobe Premiere Pro dengan ciamiknya dipadukannya foto-foto dan qoshidah itu. Sangat rapi, beberapa kali pun Kang Ma’ruf memberikan efek animasi yang bagus.

“Kandani ojo nangis kok!” tegur Kang Ma’ruf lagi.

‪#‎SantriKampung‬

Advertisements