…….

Angin yang sumilir itu memenuhi ruangan hampa udara. Menyelinap di antara tiang-tiang kayu kokoh yang menopang atap megah. Beratap genteng dari hasil produksi tanah Metyasih. Olahan warga yang berkualitas terbaik. Tanah yang subur di sebuah lereng gunung menjulang gagah.

Tersusun dengan rapi beberapa kursi dari akar pohon yang besar. Begitu pula dengan meja yang kokoh di topang bentuk akar yang unik. Satu kursi utama berada di tengah bangunan, berdiri kokoh di antara dua tiang. Sandarannya dibuat lebih tinggi dari kursi lainnya. Di puncak sandaran terdapat sebuah lencana Negeri Mentyasih.

Kursi utama itu sedang kosong, pemiliknya sedang berdiri menghadap jalan di samping Paduraksa rumahnya. Menunggu seseorang dan berharap segera datang dengan membawa kabar dari negeri seberang. Pesan rahasia. Benar saja, tidak lama kemudian muncul tiga orang dari seberang penglihatannya.

Tidak lain, orang yang menunggu itu adalah pemilik nama Rangga Naraya. Pejabat yang disegani oleh rakyatnya. Orang yang hilir mudik dari kediamannya ke istana. Bahkan menjadi orang kepercayaan pemimpin Mantyasih. Tidak hanya itu, Rangga Naraya mempunyai segenap keahlian yang di atas rata-rata rakyat Mentyasih.

Rangga Naraya berjalan ke depan, menyambut Saniscara yang datang.

“Ayo, segeralah masuk, pesan burung itu ingin segera aku ketahui San,” ajak Rangga Naraya kepada Saniscara. “Biarkan kudamu diurus Den Rono dan Den Hesa,”

Rangga Naraya merangkul bahu Saniscara dengan hangat. Menemai langkah-langkah kepastian menuju Pendopo Ageng Karanggan. Bagunan megah di tengah jantung kota Mentyasih. Empat tiang utamanya yang besar terkesan mengkokohkan bangunan, Keduanya duduk di barisan kursi yang rapi berjejer itu tepat di bawah empat tiang utama.

“Jadi apakah Wengker sudah tahu hal itu?” tanya Rangga Naraya dari singgasananya,

Saniscara membetulkan letak duduknya dari semula, “Karena memang ada tugas berat yang daku emban, maka setelah daku mengetahui informasi itu segeralah Narapati mengantarkanku ke Mentyasih.”

Rangga Naraya manggut-manggut. “Mentyasih mencoba menciptakan sebuah kedamaian di tanah subur ini, informasi penting itulah yang akan menentukan arah gerak politik negeri ini.”

“Anak itu berada di sebuah kampung kecil yang terletak di hutan lebat. Tinggal bersama Mahaguru tua. Kampung itu berada di pinggiran Negeri Sabha. Perang akan segera dimulai,” Saniscara mengungkapkan pesan yang ia bawa.

………

Advertisements