Rembulan masih bertengger melayang di sisi langit sebelah barat. Tidak begitu terang jikalau dilihat dari sebuah tempat yang berpencahayaan cukup. Tapi jika berdiri dan berlari di tempat yang sepi dan gelap, setidaknya cukup untuk menandai beberapa pohon dan garis-garis samar. Seperti bayangan hitam pekat yang dilihatkan oleh tiga pohon kelapa itu.

Udara dan sumilir angin itu seperti biasanya, sepoy dan mendinginkan. Terlihat dengan riang, tiga orang bersepeda di tengah malam. Bersama rembulan yang mesra melayang di sisi barat. Kembali lagi, suara tonggeret pun menjadi hiasan dalam pelipuran kerinduan. Tiga orang, satu mengenakan kopyah putih lengkap dengan baju putih, dua lainnya berkopyah hitam dengan kemeja yang bervariasi. Pegas mereka terus menuntun sepeda itu melaju dengan kecepatan yang sedang di kegelapan malam.

Benar-benar gelap. Tetapi bagi mereka bertiga, kegelapan adalah sebuah tantangan. Sepeda-sepeda mereka terus mendaki malam dan menuruni pagi, seperti gunung yang selalu diselancari oleh pecintanya. ‘Gowes’ mereka adalah nafas kehidupan, perputaran pedal mereka adalah sebuah kepastian. Bermanuver dengan saling berbalap dan membalap satu dengan lainnya. Mereka bertiga begitu menikmati cakrawala barat yang begitu terang dengan keriangan tawa.

Kelokan jalan bukan merupakan kesempatan untuk memperlambat laju sepeda. Mereka bertiga saling susul menyusul dengan sarung-sarung yang menyelancari udara. Kibasan sarung ketika kayuhan itu didorongkan, seperti nostalgia. Mereka terus cekikikan menembus sunyinya malam. Bersama tonggeret yang menyeret suaranya membelah malam. Jalan begitu suka berkelok dan akhirnya, sampailah di sebuah tempat.

Berada di sebelah utara dari jalan yang membentang dari timur ke barat. Di dekat sebuah tikungan, dimana ketika musim penghujan datang, biasanya menggenang. Bangunan berlantai dua di sebelah barat halaman itu. Pun lengkap dengan parkir dan langgar bak auditorium. Sedangkan di sisi timur, berdiri kokoh Ndalem yang juga berlantai dua. Meskipun Lantai dua hanya berfungsi untuk menjemur apapun jua. Tempat itu bernama Hidayatul Falaah.

#WeAreSantri
#HariSantriNasional
#MDHF #PPHF #Bejen

Advertisements