Daku berjalan sendiri, di tepi pematang sawah. Malam begitu dingin hingga tubuhku berselimut jaket tebal. Daku sudah bisa berjalan di dalam kegelapan malam. Sunyi dan sepi seperti kawan, atau justru pacar yang selalu setia menungguiku. Barisan kentongan di sudut kampung, terisak menangis dalam balutan luka cambuk. Seseorang baru saja berhenti menyambuknya dengan kayu keras, kentongan baru saja berteriak keras memecah keheningan malam. Kemudian bayangkan ia terisak sendiri, digantung dalam ketidakpastian di gardu batas perkampungan.

Tetapi daku tetap tidak perduli, langgam jawa dara muluk itu terlalu aman jika ku susuri jalan tanah garapan ini. Menuju sebuah gubug sederhana yang biasanya ramai anak-anak menjaga ladang. Di malam hari, daku berjalan mengurus tanah persawahan yang luas itu, jika pagi menjelang kau akan lihat bagaimana hijaunya ladang dengan cumbuan mesra embun-embun bersahaja. Aku dengarkan dari beberapa depa gubug itu berdiri, petromak itu menyinari beberapa anak yang sibuk menghafalkan shorof dan i’lal. Lagunya tampak membuai merdu, mengantarkanku pada dunia yang semu bersama bapak-bapak bersorban tua itu.

Daku hanya rindu.
Untaian bait demi bait mengurai jemu.
Hanya ada jiwa-jiwa yang menggerutu.
Bersama waktu.
Pada guruku.

Advertisements