Tergambar begitu rupa dalam keadaan yang sadar. Beliau duduk termenung dalam tangan yang bergerak lincah. Di atas meja itu, kertas berwarna putih kekuning-kuningan tampak kotor dipenuhi oleh coretan-coretan kasar sebuah syair. Duduk tegap dengan tangan yang menari kian kemari. Ada pikiran berat dan besar dalam pandangannya. Tinta itu berhasil mengejawentahkan semuanya.

Setiap kali daku berdiri mematung. Syair penuh semangat ini menggetarkan udara. Merontokkan air mata. Memberatkan mulut untuk berdansa. Bahkan nyanyian menjadi sendu dengan senggakan tidak berselaras itu. Semuanya gugur ketika “Indonesia Biladi, Anta ‘unwanul fakhoma”. Cairan itu kemudian membasahi pipi dan menetes di ujung perantauan. Indonesia Negeriku, Engkau Panji Martabatku.

KH Wahab Chasbullah, lahul fatihah….

(Catatan Instagram, 1 Desember 2015)

Advertisements