Setahun yang lalu, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama atau yang kerap disapa sebagai KMNU dilahirkan di Pondok Pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta. Melalui forum Musyawarah Nasional tersebut, KMNU mendeklarasikan menjadi perkumpulan yang bertingkat Nasional. Aliansi dari beberapa KMNU di perguruan tinggi inilah yang menjadikan sebuah titik balik dari perjalanan mereka sejauh ini.

KMNU seperti melahirkan semangat gerakan yang baru dan anti maenstream di tingkat Nasional. Pertama, KMNU benar-benar dimulai dari bawah. Artinya lebih dulu adanya KMNU di tingkat universitas daripada tingkat Nasionalnya. Kedua, ghiroh yang dibawa bukanlah sebuah kancah pergerakan seperti PMII, HMI, GMNI, dan lain sebagainya. Akan tetapi, KMNU mengusung “Back to Tradisi”. Seolah-olah, inilah yang kemudian dicari oleh para pencari ilmu di perguruan tinggi.

Mengutip sedikit dari sebuah tulisan dari Hairus Salim HS dan Muhammad Ridwan. Kaum Muda di milieu pesantren dan Islam tradisional dipandang tidak lebih sebagai “kaum tua” yang berusia muda atau sebaliknya, kaum muda dengan semangatnya yang lusuh dan usang. Pandangan ini kini sudah bergeser. Kalangan yang sering disebut ‘kolot’ ini mempunyai pandangan intelektual yang sangat terbuka, rasa ingin tahu yang besar, apresiasi terhadap hal-hal yang baru dan, konsekuensi dari keterbukaan demikian, siap menerima perbedaan. Kosmopolitanisme mereka memang dikemas dalam kerangka pikir dan kosakata yang berbasis pada tradisi. Tetapi justru dengan berbasis pada tradisi itulah visi ke depan kokoh dibangun.

Mahasiswa tentu dapat digolongkan ke dalam kaum muda ini. Secara usia dan faktor semangat sangat dapat digolongkan seperti di tulisan Hairus Salim HS dan Muhammad Ridwan. Dalam hal inilah yang kemudian ditekankan oleh KMNU, pondasi NU yang kokoh terletak pada amaliyah atau tradisinya. Tetapi justru dari itulah, yang kemudian memantik kreativitas kaum Mahasiswa dalam mengemas tradisi dan amaliyah di lingkungan universitas.

Santri, Mahasiswa dan KMNU

Penulis menganggap bahwa KMNU sendiri hadir dari sebuah kehausan oleh mahasiswa akan sebuah Oase yang berbasis Ukhrowi atau amaliyah. Mengambil istilah dari perkumpulan Al Khidmah. Para mahasiswa ini sibuk mencari sebuah Oase di tengah gurun pasir yang terik, anggap seperti itulah keadaan lingkungan kampus. Ketika mengikuti basis pergerakan, justru mereka bertolak belakang dengan kata hati nurani mereka masing-masing.

Kaum santri atau yang juga digolongkan ke dalam kaum bersarung inilah yang kemudian bergerak untuk mengamalkan sebuah amaliyah di lingkungan kampus. Sebagai contoh di Universitas Negeri Yogyakarta, kaum ini menggelar rutinan Rothib Kubro yang berijazah langsung oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan. KMNU UNY bergerak bukan dengan jumlah massa yang banyak, tetapi sebuah keistiqomahan mengamalkan amaliyah rothib tersebut.

Seorang santri yang kemudian masuk ke dalam lingkungan kampus, tentu sedikit banyak akan mengalami masa sosialisasi dengan lingkungan yang baru. Sebagai Mahasiswa, sudah barang tentu akan banyak hal yang berbeda ketika menjadi seorang santri di pondok pesantren. Seperti yang dikemukakan oleh Hairus Salim HS dan Muhammad Ridwan. Tetapi, dengan sebuah pengikatan rutinan amaliyah yang sudah mentradisi di lingkungan kampus, seorang santri akan tetap berada di maqom santri dan mungkin naik pangkat menjadi Mahasantri.

Bahkan mungkin dari mereka (mahasiswa dan santri) masuk ke dalam KMNU, terbesit di hati, “semoga Mbah Hasyim ridho saya menjadi santrinya.” Secara tidak langsung pula, santri tersebut sebetulnya mengikatkan diri pada hal yang lebih tinggi dari hal sebelumnya. Ketika di pondok pesantren, santri mengabdikan diri pada pengasuh pondok tersebut. Kemudian ketika menjadi seorang yang mengabdi di NU maka ia siap untuk menjadi santri para masyayikh, bil khususnya Hadhrotusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari RA. Pengucapan seperti diatas pun sebenarnya didasari atas dawuhnya Mbah Hasyim, “Barang siapa yang ikut mengurusi NU, maka ia saya anggap menjadi santriku.”

Membangun Indonesia yang Rahmatan lil Alamin

Tema besar pada Musyawarah Nasional II (Munas ke-2) KMNU yakni “Bersama KMNU Membangun Indonesia”. Hal ini membuat penulis yakin bahwa keterkaitan Munas pertama di Pandanaran dengan Munas kedua di Bandung saling berkaitan satu sama lain. “Sinergi Mahasiswa Nahdlatul Ulama Melalui Nilai Spiritual dan Intelektual Mewujudkan Islam Yang Rahmatan Lil Alamin” menjadi tema yang panjang di Munas pertama.

Secara logika, ketika sinergitas antara nilai spiritualitas dan intelektualitas menjiwai kader dari KMNU. Maka, KMNU siap untuk membangun Indonesia yang Rahmatan Lil Alamin. Mengapa bukan Islam yang Rahmatan Lil Alamin lagi? Karena, secara otomatis ketika KMNU sudah menyinergikan spiritual dan intelektual dalam bingkai Islam maka yang kemudian terjadi adalah membangun Indonesia yang Rahmatan Lil Alamin.

Membangun Indonesia yang Rahmatan Lil Alamin sejatinya tidak lain adalah penyebutan lain dari tema Muktamar NU di Jombang kemarin, “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. KMNU sebagai organisasi yang mengindependenkan diri dari stuktural NU, tetap menjalankan cita-cita dari tema Muktamar ke-33 tersebut. Ketika KMNU teguh pada melestarikan tradisi (Islam Nusantara) maka KMNU siap untuk membangun peradaban Indonesia dan Dunia (Rahmat seluruh Alam).

 

Mazdan Maftukha Assyayuti – KMNU UII

 

Reference :

Hairus Salim HS dan Muhammad Ridwan, Kultur Hibrida: Anak Muda NU di Jalur Kultural, Yogyakarta: LKiS, 1999.

 

Advertisements