…………………………..

Perang itu adalah beban. Beban bagi rakyat, dimana yang menjadi korban selalu saja rakyat tidak bersalah. Dipastikan pula yang menang akan selalu berfoya-foya dalam kegembiraan. Saniscara begitu merenung dalam kekosongan pandangan. Memandang bergoyangnya dedaunan yang bertengger di pohon, tetapi tidak fokus, ada beberapa bayangan darinya.

Rangga Naraya menepuk pundak Saniscara. “Kenapa?” tanya Rangga Naraya memecah konsentrasi.

Saniscara menggeleng sambil memulihkan pandangannya. “Perang besar,” gumamnya.

Jatagrita berbicara dengan posisi berdiri dari duduknya sambil berjalan ke arah tiang di barisan terluar. “Saniscara, perang sudah digariskan. Perang terjadi karena kesenjangan yang ada dari suatu keinginan dan realita. Perang adalah suatu pemaksaan atas segala keinginan, sebuah jalan yang selalu ditempuh. Ketika kau berebut Jambu dengan temanmu, tetapi temanmu tidak mau mengalah, maka jikalau kamu tetap keuhkeuh dengan keinginanmu, temanmu bisa jadi bulan-bulanan kemarahanmu.

“Naraya, dia hidup seperti seorang Raja. Lebih dari sekedar presiden. Dialah sosok pendamai dan menengah sekaligus penjaga keseimbangan. Rangga Naraya adalah penanggung jawab atas keselamatan naraya dan dapat saja menjadi biang kerok dari perang tersebut. Setidaknya, kamu harus pastikan dirimu sendiri aman dan selamat Saniscara dalam perang yang akan terjadi.”

Saniscara hanya menggangguk paham. Pikirannya masih terus saja berkecamuk. Hatinya sedang galau dengan perang yang lain. Dirinya bimbang, akankah melibatkan dirinya pada perang atau lebih baik menyingkir dan menamatkan amanah dari Rangga Naraya ini.

“Tuan, bukankah tugasku sudah selesai? Secara otomatis bukan ketika Naraya sudah ditemukan?” tanya Saniscara.

Kini, giliran Jatagrita yang memandang sayu halaman kediamannya. Pandangannya tidak fokus pada obyek yang dilihatnya. Jatagrita yang harus menimbang posisi Saniscara selanjutnya. Telik sandi satu ini memang cerdik dan memuaskan. Tetapi ia pribadi punya pilihan khusus baginya.

………………………………..

Advertisements