Pernah nggak ngebayangin di antara barisan foklore nama tempat di Jogjakarta itu menyimpan sebuah misteri? Ini sebetulnya akan menertawakan diriku sendiri, tetapi khayalan itu nggak bisa dibendung. Jadi, memang harus segera dituangkan agar tidak jadi mimpi yang bergentayangan.

Suatu kebetulan, ketika melaju di Jalan Magelang. Dari belakang motor menyalip dengan elegan motor besar dengan penumpang yang aku kenal. Memakai sarung putih dengan baju putih pula, rambut disisa helm yang terpakai itu bergelombang dan diikat begitu rupa. Gus Muwafiq, begitu khalayak memanggilnya. Tanpa beliau ketahui, aku mengikutinya di belakang.

image

Jagalan. Begitu nama tempat yang beliau tuju. Di sebuah warung yang menjual daging sapi maupun kambing. Terbesit tanpa sengaja. Begitukah dahulu Jagalan dipenuhi oleh para Penjagal sapi maupun kambing menjajakan hasil penjagalannya di sepanjang jalan.

Penamaan tempat di Jogjakarta sendiri tidak juga dapat dilepaskan oleh asal usul daerah. Misal, Pecinan karena di daerah tersebut dihuni oleh kaum Tionghoa atau daerah yang lain. Prawirotaman misalnya juga, dahulu katanya disanalah salah satu mandala keprajuritan bernama Prawirotomo (Perwira Utama) berdiam diri. Itulah yang membuat nama kampung ataupun tempat di Jogjakarta tidak luput dari faktor sejarah.

Contoh spesifik yang diangkat adalah Sayidan. Lagu Shaggydog yang menggambarkan tempat bernama Sayidan ternyata juga tertutup bayangan misteri sejarah. Jika dirunut secara logika, baik dari nama asli dan faktor kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Maka, Sayidan merupakan salah satu tempat yang dihuni oleh para Sayyid, keturunan Nabi Muhammad SAW. Hal ini sepertinya sudah bukan sebuah keasingan informasi karena beberapa tokoh agama Islam mengungkapkan bahwa disana dulu adalah tempat mukim para Habib, Sayyid dan Syarif. Dalam beberapa literatur yang pernah saya baca, Sayyid juga ditujukan kepada mereka yang tuan dagang. Seperti teori Islam berkembang di Indonesia karena dibawa oleh para pedagang, nah ini juga banyak yang menyebut mereka sebagai Sayyid, yanv dalam hal ini adalah Tuan Dagang.

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang bernafaskan kerajaan Islam. Bahkan Sultan Hamengkubuwono X sendiri pernah mengungkapkan hubungan keraton dengan Kerajaan Turki Utsmani membuat sebuah alur yang menarik. Secara otomatis ketika sejarah itu dikaitkan, maka bisa jadi hubungan diplomatis itu membuat banyak orang Timur Tengah juga menjadikan Jogjakarta sebagai persinggahan hidup. Dihubungkan pula dengan teori Wali Songo juga merupakan keturunan Rasulullah SAW, maka mereka yang hijrah ke Jogjakarta-sebagai penerus Kesultanan Demak-juga dipastikan banyak yang dari kalangan Sayid dan Syarif. Tidak menutup kemungkinan akan hal itu. Maka, pihak Keraton menempatkan mereka menjadi satu kawasan di daerah timur keraton, di luar beteng, bernama Sayidan.

Pernah mengunjungi kawasan Condet di Jakarta? Di sana juga merupakan kawasan hunian yang ditempati oleh Habaib dan banyak orang dari Timur Tengah. Ketika dulu pernah singgah untuk juga merasakan atmosfer Majelis Maulid ketika Haulnya Habib Hud Alatas, suasana khas Timur Tengah itu terasa. Suasana majelisnya dan juga santapan untuk jamaah, yakni Kebuli. Salah satu makanan khas dari Timur Tengah. Daging-daging itu benar-benar menggoda untuk disantap beserta racikan rempah yang sedap. Bahkan di daerah Dataran Hijaz sana, ingkung Kambing bisa menjadi hidangan yang menggoda selera makan.

Sayidan, terletak di selatan Jagalan, tempat para Penjagal tinggal. Mungkin sekarang, Sayidan hanya sebuah nama tanpa pendukung bukti bahwa disana dulu memang dispesialkan oleh Kerajaan untuk hunian para Sayyid. Sekarang, bahkan sepertinya tidak ada habaib atau sayyid yang tinggal di sana. Tetapi foklore penamaan tempat mungkin masih bisa dijadikan sebagai monumen mati. Sayidan dan Jagalan hanya dibatasi oleh jalan yang membujur dari Timur ke Barat.

Pernah nggak untuk berkhayal, menulis novel fiksi fantasi tentang sebuah cerita.

Dahulu kala, di sebuah tempat benama Sayidan hiduplah seorang alim ulama dari Maroko. Salah seorang utusan Kerajaan Turki Utsmani. Namanya adalah Sayyid Abas bin Muhammad Alaydrus. Pada suatu malam, beberapa hari setelah Grebeg Maulud diadakan di Masjid Gedhe, Sayyid Abas menyelenggarakan Majlis Maulid Barzanjy di kediamannya. Diundanginya banyak kalangan, dari sanak kerabat marga Alaydrus, habaib yang ada di Karesidenan Jogjakarta, Kedu, dan Surakarta. Bahkan banyak juga Kanjeng Raden Tumenggung Banyak Seto, Gusti Bendoro Pangeran Haryo Gagak Rimang dan beberapa punggawa Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Bahkan tampak hadir pula kerabat keraton di Mlangi dan beberapa daerah Pathok Nagari yang lain. Sayid Abas begitu memuliakan para tamu dan jamaah yang hadir di Sayidan. Bahkan jamaah pun meluber, mereka mengenakan jarik, surjan ataupun beskap bahkan ada pula peranakan, dan lengkap dengan blangkon memenuhi lorong Sayidan.

Tersebutlah, Ki Joyopidekso, seorang jagal di utara Sayidan. Punya peternakan sapi dan kambing yang berkualitas. Makannya teratur, perawaran hewannya juga baik. Pun seorang yang dekat dengan pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sayid Abas setelah menghadiri Grebeg Maulid mampir berkunjung ke Ki Jogopidekso. Dalam lawatannya itu, Sayid Abas membutuhkan daging-daging kambing segar dan beberapa daging sapi. Ki Jogopidekso sangat menghormati Sayyid Abas, dan ia menyanggupi untuk menjagal beberapa kambing dan satu ekor sapi untuk perhelatan Majelis Maulid Al Barzanjy. Jagalan memang merupakan tempat yang tepat mencari daging idaman para Sayid yang rindu pada tanah asalnya. Ternyata tidak Sayid Abas saja yang sering mampir ke Jagalan. Sayid Umar, Habib Salim Assegaf dan lainnya.

Singkat cerita, setelah selesai pembacaan Maulid Al Barzany dijamulah para tetamu dan jamaah dengan menu khas mereka, kebuli. Aroma rempah-rempah yang berpadu dengan dedagingan menggoyangkan perut.

Jika terdapat kesamaan nama, tempat dan waktu ini hanyalah fiktif belaka. Itulah sedikit imajinasi liar setelah sebelumnya mengutit Gus Muwafiq dari Jalan Magelang ke Jagalan. Hanya sebagai imajinasi yang melayang, bukan untuk sebagai bahan yang serius dikaji. Hanya otak atik dan gatuk. Tidak lebih dari itu. Sekian tulisan ini, mungkin sangat banyak salah, mungkin sih sedikit su’ul adab kepada Habaib, Sayid dan Syarif, saya khilaf dan ini hanya sebagai pelampiasan khayalan. Semoga bermanfaat. Aamiin Allahumma Aamiin.

Yogyakarta, 19 Februari 2016
Dalifnun

Advertisements