“Ahlussunah itu seperti sarang tawon, Cung!” seru Sang Kiai sambil mengangkat penjalin dari tangannya.

Santri pun bingung. Mereka lebih suka menyuarakan pendapatnya dengan mengubah ekspresi wajahnya. Ketika mulut berbicara, maka Kiai-lah yang ber’duka’. Kadang ada santri yang tengok sana dan sini mencari tahu apa maksud dawuh Kiai. Namun kali ini, seorang santri memberanikan mentalnya untuk mengangkat tangannya.

“Yai, seperti apakah wujud sarang tawon aliran Ahlussunah itu?” tanya santri itu dengan sedikit gemetar tubuhnya.

“Cetaaarrrrr!!” suara penjalin yang bertemu ubin itu sesaat menyita ruang antara suara dan perasaan.

“Cung!” bentak Kiai, “Sekarang di luar pondok banyak sekali golongan lain, kita anggap mereka itu batu. Pondok kita adalah sarang tawon! Tawon memiliki ratu, ya, sekarang ada aku jadi pengasuh pondok ini tapi aku bukan raja. Prajurit tawon itu kalian. Kalian menurut seperti itu kepadaku bukan karena aku ini raja kalian tapi aku menuruni ilmu guru-guruku yang sampai Nabi Muhammad SAW, nah beliulah rajanya. Bahkan Cung, tawon itu memiliki berbagai lurah prajurit di dalam sarangnya, ya itu aku. Dan komandan senopati, tumenggung, dan lainnya itu adalah guru-guru. Cung! Coba kalian bandem sarang tawon dengan batu! Apa yang terjadi? Wes, tawon ngosak-asik. Kalian mengabdi ke masyarakat sekitar sini itu ibarat tawon nebar binih-binih sari bunga satu ke bunga akhor, bunga lain. Loh, Tawon itu kebiasaannya menebar binih dengan lafadl Allah, setiap kali terbang mereka menyebut nama Allah seperti tatkala kalian dzikiran. Sama, kalian menebar pengabdian masyarakat itu juga dengan bacaan dzikir yang sering kalia pelajari di sini. Sampean Cung, budal dari pondok di masyarakat pasti juga akan di suruh mimpin tahlil, di tanyain hukum manaqib, maulid, seperti itu. Sekarang, batu pertama melayang dengan tulisan ‘bidah’, kemudian disusul lagi batu kedua melayang dengan prasasti ‘kafir’, batu ketiga melayang dengan pahatan ‘neraka’. Siapa yang ‘mbandem’ kalau nggak suka, nggak sayang, nggak peduli? Yo, andaikan kata mereka peduli ke sarang tawon pasti mereka akan mendekati dan mengajak diskusi agar madunya bisa bermanfaat. Tapi kalau namanya ‘mbandem’, ketika kita marah seperti tawon maka mereka akan lari tunggang lunggak. Kesimpulannya Cung! Ojo kalah karo tawon!.”

Jelas Kiai sambil memukul-mukul pelan penjalin itu di ubin. Santri hanya manggut-manggut. Tidak ada kata yang terucap, dan tidak ada tambahan lainnya.

‪#‎SantriGeseh‬

Advertisements