Kembali lagi jemari ini menari. Sabtu pagi (20/2), setelah sesore kemarin memikirkan konsep dari tulisan sebelum ini, Nominasi Timur Tengah di Kota Gudeg. Mendung sepertinya masih bergelantungan di angkasa, subuh menyisakan guratan kesejukan tiada tara. Menyalakan mesin mobil tua berwarna merah dan menyusuri jalanan. Entah, di jalan seperti apa kalutnya pikiran, yang seharusnya mendarat di Lempuyangan tetapi aku menunggu di Tugu.

Mushola Stasiun Lempuyangan tampak begitu lengang. Hanya menyisakan rombongan kecil dari Bandung. Hallo friends, selamat datang di Jogja. Mereka terdiri dari empat orang, dua laki dan dua perempuan. Tapi mereka bukanlah sepasang kekasih yang berbulan madu di Jogja, mereka adalah Panitia Munas KMNU kedua di Bandung kemarin. Imam Fatoni, Imam Syafi’i, Faiqotul Bariroh dan Sarah Fauziah.

Setelah terlambat menjemput mereka, maka segera saja kuantarkan menuju “Hotel” Sunan Pandanaran (HSPA). Salah satu hotel berbintang sembilan di Jogjakarta. Widiaturrahmi yang telah mem-booking tempat peristirahatan tersebut. Rehat sejenak dan bersih-bersih badan biar dapat menikmati segarnya Jogjakarta di pagi hari.

Adalah request dari Sarah, Borobudur menjadi destinasi wisata hari ini. Katanya, dulu semasa kelas dua sekolah dasar dia pernah ke Borobudur, tapi sudah lupa. Nah, kali ini adalah permintaan dari Sarah untuk jalan-jalan ke Borobudur. Tetapi sebelum sampai di Magelang, kita sempatkan makan pagi di Hollywood dengan menu Soto Ayam. Di Hollywood saja ada Soto, masa’ kita tidak berbangga.

Perut kenyang, berjalanan diganyang. Jalan Kaliurang tampak begitu juga lenggang, kecuali ketika berada di depan Kampus UII, mereka tengah ramai berwisuda. Mobil itu menembus jalanan menuju Jalan Magelang via Turi. Sebelum ke Borobudur sempatkan mampir ke kediaman Ahmad Nur Shobah, salah seorang MPO KMNU Pusat yang bertempat tinggal di Mertoyudan, Magelang. Rehat sejenak dan berangkat lagi menuju Candi Borobudur.

Mobil “Ferari” kembali melenggang di jalanan, melewati jalur tikus di Mungkid untuk sekedar menikmati sensasi Kabupaten Magelang. Mas Shobah dengan Verza-nya juga menuntun melewati jalur asing ini, karena dia shohibul baiyt-nya. Di dalam mobil, kita masih sempat bercanda tentang jalanan yang serba unik. Tentang Mas Shobah yang kita intai seperti pengintaian yang dilakukan oleh Crew Katakan Putus. Sampai juga dengan kasus LGBT tentang tiga anak cowok sekolahan yang bertingkah mirip “Gay”. Tetapi iyu hanya didubling melalui percakapan kita di dalam mobil.

Tidak kerasa, sampailah ke Candi Sambhara Budura. Melewati pos pemeriksaan dan kemudian melenggang ke parkiran. Jalan kaki sepertinya melelahkan, tetapi sampai juga di loket pembelian tiket. Kemudian berjalan lagi. Di tengah jalan, kita bertemu rombongan penari keliling yang bersedia buat kita foto bareng. Tereksekusilah foto kami bersama barisan sang penari. Berjalan lagi menuju lokasi titik berdidirinya candi besar itu. Melelahkan.

Di boulevard  candi itu, kita mengabadikan kunjungan yang diangankan oleh Sarah. Beberapa kali berganti gaya dan formasi. Begitu kemudian melangkahkan kembali kaki-kaki itu ke pelataran candi. Begitu luas dan mengagumkan. Meski sebetulnya, aku sudah ada dua kali memasuki kawasan wisata ini. Tetapi kali ini lebih riang didampingi oleh teman-teman terbaik.

Mengenakan jaket hijau bertuliskan ” Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama” kami mengeksplorasi candi megah itu. Mulai dari teras pertama hingga puncak stupa terbesar. Berjalan melewati relung-relung sejarah Nusantara yang kaya akan peradaban. Tumpukan relief yang bercerita tiap maqomat kehidupan. Hingga kita semua berkumpul di bawah bayang stupa terbesar.

Tidak afdhol rasanya jika tidak foto, maka kami pun mengabadikan di puncak tertinggi candi indah itu. Terutama para pelancong dari tanah sunda ini. Mereka seperti kompak untuk berekspresi dan bergaya demi kenangan di layar smartphone. Mulai dari yang biasa hingga gaya levitasi, mereka terbang beberapa detik di udara. Berpuas dan memanjakan mata di Borobudur, kini tiba saatnya untuk turun gunung.

Menuruni lagi anak tangga yang bersusun dari bebatuan candi. Melewati pula teras-teras candi yang juga bersusun meninggi dan berdinding relief. Sesampai menginjakkan kaki di bumi. Kita kembali berfoto kembali, kini bendera yang sedari tadi di sembunyikan baru bisa berkibar. Dengan latar background kemegahan Candi Sambhara Budura, kita bergaya lagi sibuk suka hati.

Tetapi sayang, mendung menggantung memberikan ketakutan akan hujan yang merontokkan langit. Kita bergegas kembali untuk pulang. Berjalan dengan sangat jauh dan menjemukan. Hingga Sarah, begitu kelihatan capek karena kakinya harus berjalan mengelilingi kompleks Borobudur. Hingga akhirnya mimik bahagia diekspresikan ketika melihat di parkiran, mobil kijang merah itu ada di tempatnya.

Diburu waktu dan keadaan, akhirnya kita bergegas kembali melenggang menuju Kota Jogja. Kembali berpacu di Jalan Magelang hingga bertemu dengan flyover Jombor. Dalam perjalanan pulang tersebutlah, hujan tidak berhenti menyuci bersih kendaraan yang berlalu lalang. Sangat deras, bahkan sempat beberapa waktu terhambat dengan jarak pandang yang pendek.

(bersambung)

Advertisements