Destinasi selanjutnya adalah acara Pelantikan dan Rapat Kerja KMNU UGM. Tancap gas ke komplek kampus UGM. Sebetulnya, acara ini sudah sejak tadi pagi. Bahkan di rundown yang aku buat, acara ini seharusnya ada di destinasi pertama. Tetapi karena mengingat mobilisasi dan kondisi alam Jogjakarta yang tampaknya sore turun hujan maka ditukarlah kunjungan tersebut.

Gerimis terus membayang sepanjang perjalanan. Jalanan tampak ramai dan padat. Kopling begitu sangat banyak memakan konsentrasi, begitu juga dengan rem. Harus ada kombinasi dan koordinasi agar bisa melenggang di jalanan padat. Terlebih memasuki Jalan Monjali. Kita belok ke kiri pada perempatan Selokan Mataram, arah menuju kampus UGM. Di Bundaran Teknik pun kita mengambil jalan ke selatan, arah RS Sardjito. Di pertigaan Fakultas Kedokteran Gigi kita nyalakan sein ke kanan untuk menuju Jalan Asem Kranji, tempat KMNU UGM menggelar acara.

Fix, kami sampai di lokasi destinasi berikutnya. Masih ada beberapa jengkal menit sebelum Asar menguasai waktu. Kita sebetulnya juga mengejar kesempatan sholat Dzuhur. Akhirnya, kita segera bergegas untuk menunaikan kewajiban yang tertunda. Dan sejenak kemudian, kita juga menunaikan sholat Asar di mushola yang sama. Di dalam sebuah ruangan yang tertutup. Riuh rendah suara rapat kerja dari kepengurusan baru. Ferdy Azmal, dia adalah ketua KMNU UGM yang baru, sekarang dia sedang menyusun taktik dalam masa khidmahnya berjalan.

Di sinilah mulai ada kekisruhan agenda. Terpaksa sedikit melunakkan jadwal yang sudah aku buat. Sebetulnya jadi malas juga untuk menjaga ritme para tamu ini, tetapi dalam posisi yang serba tidak enak karena mood-ku begitu berubah. Akhirnya agenda tambahan dari Farichun (KMNU UGM) akan menyita perhatian, dan kelak ini ternyata sebuah missunderstanding dan misscomunication. Karaokean.

Jam makan sore berdentang. Sedikit menyita perhatianku daripada memikirkan hal yang berang. Foodcourt UGM di dekat Jalan Kaliurang itu setidaknya mengganjal perut lapar kita. Energi makanan pagi terbuang dengan menaiki Borobudur dan berjalan sangat jauh. Melelahkan. Tetapi ini, makan sore yang mengasyikkan. Adalah sebuah kejutan, satu orang hadir memenuhi meja kita, inisialnya FNC. Mungkin karena sinyal yang diberikan Sarah melalui telehati. Riuh rendah kami berbincang.

Setelah memilih makanan yang dipesan. Kita harus menunggu makanan itu tersaji siap santap di meja depan mata ini. Sambil menunggu, aku melakukan senam jari mengetik lanjutan gagasan mengenai Sayidan dan Jagalan. Ternyata sepasang mata mengamati gerak gemulai jemari menari, Faiq yang duduk di sampingku tampak melirikkan matanya. Ada rahasia terbongkar nih, tetapi tidak apa-apa karena juga bukan apa-apa.

Singkatnya, makanan itu hadir sesuai angan kita masing-masing. Mulai dari Ayam Geprek, Gado-Gado, Bakso, dan lainnya. Oh iya, kali ini kita dipandu oleh Falahunnisa Nurul Azmi. Salah seorang penggerak keputrian KMNU UGM. Panggilannya Fela, dari Fala. Bila ditasrif maka Fala, Yufalu, Fela. Nah, itu Fela. Tuan rumah yang baik meski aku sempat jadi bulan-bulanannya.

Kenyang, itu adalah komentar yang paling pas untuk menggambarkan keadaan setelah makan. Terlebih para pelancong ini terkagum pada Ayam Geprek. Mendung masih menggelantung di angkasa ketika kita menginjakkan kaki di jalanan. Bahkan gerimis membasahi baju kami dalam perjalanan. Enjoy saja karena jarak tempuh hanya beberapa puluh meter lagi, tidak lama untuk berjalan kaki. Terus melangkahkan kaki ke lokasi Pelantikan dan Raker KMNU UGM.

Kembali menyusun scedule karena sopir butuh kepastian perjalanan para tamu undangan. Akhirnya kita putuskan untuk menghadiri Musyawarah Anggota KMNU UNY. Mobil “ferari” itu kembali melenggang di jalanan yang ramai. Ring Road Utara seperti menjadi pelampiasan. Sedikit macet dan padat, terutama di setiap bangjo yang menyala merah. Antrinya bisa sejenak waktu buat ngaso. Pondok Pesantren Sunni Darussalam, we come in.

Sampai di lokasi dan bertemu ‘saudara’ dari keluarga yang bernama KMNU ini. Sampai di lokasi ketika musyawarah yang mistis itu sedang menetapkan tata tertib jalannya musyawarah. Tanpa menganggu jalannya persidangan yang sakral itu, kita membuat forum tersendiri di belakang. Ngobrol kesana dan kemari, cipika cipiki. Pada saat itulah, muncul orang berperawakan sedikit pendek dengan tubuh gimpal dan padat berisi. Namanya Syamsudin, pernah menjadi Presidium Nasional KMNU. Suasana menjadi lebih riuh rendah karenanya.

Maghrib kemudian berkumandang di Langgar PP Sunni Darussalam. Sesuai aturan dari pihak pondok, maka acara musyang dan kunjungan kita harus mengikuti jamaah Maghrib. Mataku begitu sangat berat. Seharian berada di pelana stir membuat sedikit bosan dan rasa kantuk itu membayang. Setelah sholat maka tebaringlah di kursi stir yang ku stel dengan nyaman. Tapi, justru sekarang kantuk itu hilang entah kemana. Bedebah memang, dimanjakan justru hilang.

Singkatnya, kunjungan selesai dan destinasi selanjutnya adalah di karaokean. Mobil kembali melenggang di malam minggu yang ramai. Menjelajahi daerah Sleman dengan jalan-jalan kecil yang padat. Menuju jalan tembus terminal Condong Catur. Mobil ferari yang dibelakang tertempel stiker yaa robbi sholi ‘ala muhammad waftah minal khoiri kulla mughlaq dan Al Khidmah itu terparkir indah di lokasi karaokean. Keren pokonya.

Di dalam lokasi karaokean. Kita kembali meluruskan scedule, karaoke buat para tamu ini tidak jadi. Maka, akhirnya rombongan ini bersepakat memikmati Kota Jogja di malam minggu. Menikmati macetnya Jalan Malioboro dan KM Nol yang dipadati oleh masyarakat Kota Jogja. Di tengah-tengah padatnya Jalan Malioboro, harus ku lepaskan Faiqotul Bariroh karena ada acara temu alumni yang menunggunya. Pada kesepakatan di dalam mobil, Tugu Jogja menjadi tempat kita akan nongkrong malam ini, sambil menunggu mereka yang karaoke.

Tugu memang menjanjikan sebagai pemuas alat naris oleh kawula muda. Terlebih itu di malam Minggu, malam yang tersakralkan bagi mereka. Mobil terparkir manis di selatan Pasar Kranggan dan kita berjalan menikmati malam menuju Tugu. Beberapa bulan yang lalu, dalam sebuah kunjungan juga kutemani Abdullah Rifqi Jauhar (Prenas 3 KMNU) di tempat yang sama, Tugu. Destinasi wisata malam ala kota-kota yang disajikan begitu mempesona oleh Jogjakarta.

Lelah itu tentu karena seharian kita berada di dalam mobil melakukan perjalanan yang panjang. Harapannya inilah destinasi wisata terakhir hari ini. Lelah dan lapar berkombinasi begitu rupa, saling mengisi dan bermain cantik. Sesuai kesepakatan kita nongrong di Tugu sambil menunggu mereka yang sedang berkaraoke, Ahmad Ulin Nuha dan Ahmad Nur Shobah. Begitu juga menunggu Faiq jika sudah selesai bercengkerama dengan alumni sekolahnya dulu.

Jarum pendek menunjukkan angka sembilan dan jarum yang panjang itu menunjukkan angka enam lebih-lebih dikit. Beberapa jenak kemudian, muncul dari kerumunan massa yakni Kang Ulin dan Kang Shobah. Dua orang yang kita tunggu dengan mimik mengantuk dan kelelahan. Problem lapar-lah yang kemudian kita selesaikan bersama. Hengkang dari Tugu, kita beranjak mencari lesehan guna menyumpal suara perut yang kelaparan.

Kembali lagi dengan menu makanan yang murah meriah kata tetamu Bandung, without Faiq. Mereka menganggap ini sebuah keajaiban dunia, bahkan berandai jika kuliah di Jogja, bisa makmur dan padat berisi. Di lesehan ini kita menambah massa dari mereka yang kelelahan menelan microphone di ruangan tertutup. Ternyata bernyanyi membuat perut mereka kian bersuara nyaring melebihi skor yang terpampang di layar ruangan karaoke. Sepertinya lebih nyaring, tapi entahlah. Menunggu cukup lama masakan yang dipesan dapat dinikmati keindahannya.

Lesehan begitu ramai riuh rendah dengan percakapan kita. Makanan yang kemudian dihidangkan dalam hitungan menit langsung habis tanpa sisa. Hanya menyisakan piring dan kobokan air yang mengeruh. Sambal penyet itu ternyata masih kurang untuk mencuci bersih piring dari makanan. Setidaknya, ketika tidur sudah tidak memikir lagi tentang mimpi buruk dari perut. Terganjal sudah dengan makanan lesehan di pinggir jalan itu.

Ketika mulai mempreteli rombongan makan itu, maka tinggal menyisakan rombongan inti sesungguhnya. Aku, Ulin, Fatoni, Salim, Syafi’i dan Sarah. Kurang satu personil yang harus dinanti kedatangannya, Faiq. Ia semalam itu nongkrong di Kopi Jos. Minuman khas di utara Stasiun Tugu. Tidak beberapa jauh dari lokasi lesehan ini. Sembari menunggu dengan rasa kantuk, bahkan beberapa sudah terlelap dalam dekapan lutut. Seperti benar-benar kelelahan seharian ini.

Beberapa belas menit kemudian, Faiq datang dengan boncengan salah satu kakak alumni sekolahnya, cowok. Dia yang kita tunggu datang bersama seseorang yang juga kami kenal. Beberapa waktu lalu, kita pernah satu tim dalam menyukseskan sebuah acara. Faiq ini benar bisa membuat reuni lagi dengan sosok ini. Terlibat dalam percakapan ringan, sejenak meluangkan waktu untuk merilekskan suasana. Dan tentunya, membangunkan mereka yang sudah terbawa mimpi.

Saatnya kembali ke HSPA (Hotel Sunan Pandanaran), penginapan berbintang sembilan. Mobil yang ditunggangi oleh tetamu dari Bandung ini melaju dengan cepat di tengah jalanan yang sepi. Tengah malamlah yang menjadikan jalanan seperti track balapan, sepi tanpa hambatan. Jalan Kaliurang begitu dinikmati dalam kejapan mata dan sampailah di halaman masjid hotel berbintang sembilan.

Sepertinya, perjalanan hari pertama ini akan segera berakhir di mimpi-mimpi indah. Sebelum tidur, kita masih punya tanggungan Sholat Isya. Bergegas ditunaikan dan berkemas untuk melanjutkan mimpi yang terputus. Jangan lupa sumber tenaga dari smartphone di-charger agar di hari kedua bisa dapat menemani perjalanan. Have a nice dream friends.

(bersambung)

 

 

 

Advertisements