Mimpiku terbelah dengan suara menderu keras dari selatan hotel ini. Adzan Subuh berkumandang dari masjid. Segenap kesadaran, aku coba kembalikan menjadi utuh. Ku lihat sekeliling, Imam Fatoni tampak hilang dari peredaran mata memandang. Entah dirinya ada dimana, atau mungkin sudah turun dan bergegas ke masjid. Aku masih mengumpulkan nyawa sebelum kemudian menyusul bergegas ke masjid. Mengambil beberapa percik air membasuh muka dan lantas melengkapi rukun wudhu. Segera saja mengejar ketertinggalan satu roka’at di jamaah masjid itu.

Entah mengapa seperti pada umumnya, udara selepas subuh itu membuat mata terlalu nyaman untuk dipejamkan. Tidur babak kedua akan segera di mulai. Imam Syafi’i sepertinya juga mendukung hal tersebut. Sebelum mataku terpejam lagi, ku lihat Faiqotul Bariroh dan Sarah Fauziah sudah begitu bersiap menghadapi petualangan di hari kedua. Tapi aku tidak bisa dikompromi. Mata begitu berat dan entah kemudian menjadi hitam tanpa bayang.

Aku terbangun kembali dan semuanya sepertinya memang harus segera dimulai. Faiq dan Sarah sudah rapi, Sarah sudah beberapa waktu lalu selesai. Faiq sedang bedakan di wajahnya, entah seberapa tebal bedak yang menutupi kulit sawo matangnya itu. Tetapi sepertinya tidak terlalu tebal karena ‘toh’ di pinggiran atas hidungnya masih terlihat oleh mataku. Langsung saja aku berdiri dan bersiap mandi. Ada perkelengkapan kecil mandi yang selalu terbawa dalam tasku, jadi siap untuk bersih-bersih.

Datang pertama ke tempat itu, Ulin Nuha. Sudah begitu rapi dia, mengenakan kaos seragam Jamtek-nya. Beberapa saat kemudian di susul kemunculan Salim FNC, yang merelakan membolos dari jadwal ngajar di sekolahan. Sesuai dengan rescedule tadi malam, meski banyak pertimbangan mana pantai dan lain sebagainya. Bahkan ada pula tawaran yang menjanjikan rombongan untuk bersinggah di tempat A ataupun B. Tapi, mereka lebih memilih menunggu keputusanku sebagai sopir. Sepertinya opsi itu lebih tidak mempersulit mereka, setelah insiden Borobudur yang melelahkan karena pilihan dari Sarah. Hari ini, kita akan Lava Tour di Lereng Merapi.

Faiq, hilang lagi dari peredaran sebelum kita berangkat makan pagi. Katanya, ada reuni lagi dengan temannya dulu di sekolah. Setelah semua siap dan lengkap –tanpa Faiq– kita bergegas mempersiapkan diri di dekat mobil ferari. Beberapa saat kemudian Faiq muncul dari sebelah masjid, entah bertemu siapa, tapi mimik wajahnya bertambah riang setelah reuni itu. Kita berangkat untuk makan, tidak kembali lagi di Soto Hollywood tetapi kali ini kita di Rata-Rata, Rumah Makan Murah Meriah katanya. Tempatnya berada tidak jauh dari hotel, tinggal keluar dari jalanan di depan HSPA ini menuju jalan besar di ujung timur sana. Mobil meluncur ke sana.

Pagi menerpa kita dan seakan-akan mengucapkan Selamat Pagi. Pagi yang cerah, meski sedikit awan yang menggumpul di angkasa. Makan, begitu tabu bagi para pelancong dari Sunda ini. Katanya murah daripada di daerah sana. Bahkan berandai-andai kuliah di Jogja pun diperbolehkan kali ini. Makan pagi, beberapa menu tersaji masih panas, baru saja selesai dibumbui. Ambil nasi banyak dan lauk yang enak sebagai bekal perjalanan hari ini. Bisa sampai gemukan mereka akan betah di Jogja.

Smartphone yang menjadi magnet setiap aktivitas selalu menjadi pusat perhatian. Mulai dari foto-foto sampai aktivitas dunia maya, yang berupa media sosial a.k.a. chatingan. Dari situlah, Syamsuddin, mantan Presidium Nasional yang gembul ini meminta prosedural penjemputan. Dia berkilah, hari kemarin tidak bisa berbalas budi atas wisatanya beberapa waktu lalu di Bandung. Maka, hari inilah dia meminta untuk dijemput agar bisa berbalas budi. Sebetulnya tadi malam, dia mau untuk menemani nongkrong di Tugu Jogja, tetapi kesibukannya mendampingi Musyawarah Anggota KMNU UNY menyebabkan tidak bisa memenuhi kesempatan itu. Okey, kita akan menjemput Syamsuddin terlebih dahulu di Dongkelan, Bantul.

Sebetulnya dengan posisi kita di Jalan Kaliurang akan lebih hemat waktu kalau Syamsuddin yang menghampiri. Tetapi karena tidak adanya moda transportasi yang dapat ditungganginya, maka kita yang harus rela turun ke bawah, jemput bola. Selesai makan langsung tancap gas menuju Dongkelan. Tiga puluh menit kita lalui dengan menyusuri Ring Road yang melingkari kota Jogjakarta. Syamsuddin begitu kita datang, langsung memposisikan diri untuk dapat duduk di depan, tepatnya sebelahku.

Dikejar waktu, kita langsung kembali melenggang di jalanan yang ramai. Hari Minggu membuat sesak kota Jogja, terlebih berlalu-lalangnya bus-bus pariwisata. Macet di beberapa ruas jalan yang bersinggungan dengan jalan lain. Bunyi-bunyi klakson bak irama merdu di tengah kepadatan. Tetapi, mobil buatan toyota ini tetap santai dengan lajunya. Melewati jalan-jalan yang padat tidak menyurutkan penghuninya berkelakar, bersenda-senda dan mempersendakan seseorang. Kehadiran Syamsuddin membuat riuh di jalanan.

Tiba-tiba saja, mobil berhenti di POM Bensin. Ada pesanan untuk berhenti di ATM dan memenuhi hajat beberapa penghuni Ferari. Di minimarket yang disediakan oleh POM, Sarah bergegas untuk sedikit mencari perbekalan agar dapat dinikmati di dalam perjalanan. Beberapa minuman dan makanan ringan. Di anggap paripurna, mobil kembali mempresensikan diri hadir di tengah jalan. Menuju tempat yang berada di kaki Gunung Merapi. Masih beberapa puluh kilometer lagi harus ditempuh untuk mencapai tempat bernama Kaliurang. Dan mendung membayang secara samar.

Jalan terus menanjak dan melewati gerbang loket masuk kawasan Kaliurang. Dari situlah, terpampang salah satu gedung dari UII, SCC UII ya dinamai dengan Gedung Lafran Pane. Perjalannya terus berlanjut dan mendaki lagi menuju Tlaga Putri. Melewati tugu yang berbentuk patung udang (urang) besar. Mungkin itulah sebab kawasan ini bernama Kaliurang. Mungkin di masa dahulu banyak urang yang hidup dan memenuhi kawasan ini. Atau entahlah. Pokoknya mobil terus melaju dan melewati jembatan yang diselamatdatangi oleh patung burung elang. Sampai di Tlaga Putri.

Mengatur posisi parkir mobil di tempatnya. Berada di depan kios-kios yang menjajakan jadah tempe bacem, makanan khas daerah Kaliurang. Seperti diburu waktu, kita langsung mencari info terkait Lava Tour. Dibantu Fachrul Nurcholis, aku menanyakan beberapa hal yang menyangkut penyewaan jeep. Kapasitas maksimal hanya dapat memuat empat penumpang, itu demi keselamatan dan kenyamanan touring. Harga sewanya menyesuaikan dengan klasifikasi track yang akan dipilih dan ditempuh. Setelah diskusi panjang lebar, akhirnya kita akan menyewa dua jeep karena kita bertujuh, satu jeep berisi empat dan jeep satunya berisi tiga. Kita pilih track yang ringan saja.

Kita harus menunggu jeep sekitar sepuluhan menit. Sambil menunggu, Syamsudin berulah. Ia membeli cairan berwarna yang dapat menghasilkan gelembung-gelembung air. Sangat konyol, seperti orangnya. Tetapi well, itu cukup untuk menghibur diri sambil proses penungguan yang lumayan memakan boring. Hal yang tidak boleh ketinggalan, foto-foto. Tentu saja, Sarah yang memang sengaja membawa DSLR mengabadikan momentum bermain balon air. Tidak lama kemudian, muncullah armada jeep yang kita nanti. Langsung saja bersiap naik dan berkendara untuk mengikuti Lava Tour. Lets go!!!

Kita berangkat dengan diikuti semarak mendung yang menggantung. Satu dua tetes air terasa menyentuh kulit. Tapi itu tidak lama, beberapa saat kemudian hilang. Jeep itu melaju dengan riang di jalanan yang naik turun, masih di aspalan. Menyusuri jalan yang kita lalui tadi sebelum akhirnya berbelok menuju lokasi dampak awan panas. Melalui jembatan Sungai Kuning (Kali Kuning) yang sempat menjadi saksi bisu ganasnya Banjir Lahar Dingin beberapa tahun lalu. Terus bergerak menuju arah timur dan menyusuri jalanan aspal ke utara di sebelah timur Kali Kuning. Kemudian setelah melalui jalanan yang naik terus, kita berbelok kanan menuju jalanan yang tidak karuan, aspalnya banyak yang absen.

Ini mungkin yang baru dinamakan Lava Tour. Jalanan mulai tidak bisa diandalkan soal kenyamanannya, tinggal butiran-butiran petualangan yang asik. Jeep inilah yang mampu menembus medan yang bergelombang. Mobilku yang diisi oleh Imam Fatoni, Faiqotul Bariroh dan Syamsudin tampak begitu ramai daripada mobil sebelah. Hal ini karena Imam Fatoni begitu histeris dan dapat aku simpulkan kalau dirinya sepeti orang primitif. Teriak-teriak tidak jelas dan tidak karuan. Terutama ketika melewati lintasan yang menantang dan berair. Faiq hanya bisa tersipu senyum, tertawa sedikit dan kadang-kadang mengulum bibirnya. Matanya seringkali menjadi sipit. Itu yang ku amati, sepertinya mereka begitu menikmati wisata ini. Atau lihat mimiknya Sarah ketika kita menikmati pos empat.

Kita melewati beberapa pos dan dipandu oleh bapak sopir yang baik hati. Pos pertama di rumah yang terkena dampak awan panas. Dari depan tampak rangka motor yang tidak sempurna lebih ke dalam beberapa mometum letusan diabadikan, baik foto hingga pernak pernik. Di pos kedua, kita berhenti di Batu Alien. Bongkahan batu besar yang di salah satu sudutnya terdapat relief yang mirip wajah. Pos ketiga adalah bunker Kaliadem. Dulu, beberapa orang yang menyelamatkan diri dari Wedus Gembira tetapi terpanggang di dalam bunker. Pos terakhir adalah track basah-basahan, melewati jalur air yang dibuat dari aliran Kali Kuning. Kita muter dua kali. Inilah yang membuat Sarah begitu antusias menikmati. Tetapi dengan wajah murung.

Imam Syafi’i berkomentar bahwa dia tidak akan melupakan tour yang asik ini.  Sepertinya rombongan mahasiswa Bandung ini sangat menikmati perjalanan wisata hari ini. Memilih opsi yang lebih baik daripada harus capek-capek ke Gunung Kidul demi pantai yang berhasil putih. Perjalanan panjang, menikmatinya cuma sejenak.  Tidak impas. Lebih seru dan efisien waktu Lava Tour ini. Dan tentunya membuat kesan Jogja yang menjadi tempat kunjungan wisata menjanjikan selain pantai yang membujur di sebelah selatan. Yang jelas, foto-foto merupakan kegiatan yang membuat kesan itu dapat diabadikan.

Selesai Lava Tour, kita langsung pulang ke HSPA. Sejenak beristirahat dan berkemas untuk melakukan perjalanan pulang ke Bandung. Juga, menyusun agenda lagi sebelum pulang. Mampir di warungnya Cak Syamsuddin dan pertokoan Dagadu di utara Pasar Ngasem. Diatur sedemikian rupa jadwalnya agar tidak ketinggalan kereta. Setelah persiapan selesai maka langsung bergerak untuk ke dua persinggahan tersebut.  Mobil Ferrari kembali melenggang di jalanan yang ramai. Sore di hari minggu memang membuat jalanan di kota Jogja begitu sesak. Sampai di warung Cak Syam, kita disuguhi Sate khas Madura. Selesai kita belanja oleh-oleh di utara Pasar Ngasem. Dan setelahnya, kita langsung menuju Lempuyangan. Masih ada beberapa jenak untuk beristirahat. Setidaknya tidak sampai ketinggalan kereta.

Kereta datang, mereka bergegas naik. Tinggal aku dan Fachrul Nurcholis yang dadah-dadah dari luar pagar. Sebetulnya cerita ini aku persingkat. Pikiran terlalu lelah mengingat dan menulis. Terlebih harus bergelut di sela-sela kesibukan. Padahal ada beberapa adegan yang belum aku masukkan. Tetapi, aku ingin segera tulisan ini melenggang pergi seperti kereta yang menghilangkan Fatoni, Syafi’i, Sarah dan Faiq di pandangan. Perjalanan yang melelahkan, terutama harus berurusan dengan pegangan stir yang bulat itu. Akhirnya cerita ini berakhir di jam 18:55 pada Ahad, 21 Februari 2016. “Selamat Tinggal Jogja!!!” mungkin itu teriak mereka di dalam gerbong.

Dalifnun
8 Maret 2016

Advertisements