12802744_10206257484143948_8276096778858917843_nRabu ketika dimana Matahari dimakan oleh makhluk yang bernama Buto merupakan titik peredaran darah panas naik ke kepala. Hal ini karena kejadian mengerikan beberapa waktu lalu di Semarang. Semoga cukup sampai di sini saja semua itu berjalan. Lho, kenapa seperti itu? Karena semoga Allah mengabulkan doa tersebut atas ke-Maha-anNya yang mendalangi kehidupan manusia. 

Semuanya serba cepat. Tentang sowan itu, tentang jaket itu, ataupun tentang hal lain yang bersinggungan hari ini. Semuanya Alhamdulillah dijalankan dengan lancar atas izin-Nya. Hal yang mengganjal hari ini mungkin sudah terjawab pada malam hari. Tidak dapat menjawabnya seratus persen benar, tetapi setidaknya ada beberapa titik terang yang dapat aku tapaki selanjutnya.

Cerita ini merupakan cerita yang aku tulis setelah perjalanan Tour kemarin. Baru saja kemarin sore selesai, dan kini harus kembali menari jemariku di atas papan huruf. Ada hal yang berkesan untuk kemudian menarik jemari menekan tombol-tombol huruf. Yaa mungkin, sebuah keterikatan hubungan yang terjalin dan sebuah jarak yang memisahkan, baik geografis maupun waktu.

Di sela ngadatnya koneksi internet di handphone, terbukalah sebuah notifikasi di media sosial yang bernama Facebook. Ali Ubaidillah yang berkomentar pada sebuah postingan yang menandaiku. Cak Fitrah, salah seorang pengguna media sosial yang kerap mengunggah foto-foto majelis Al Khidmah. Dalam postingan tersebut, dia sedang berlawatan ke Jogjakarta. Kabar mengagetkan, karena aku buka ketika Isya mendendang di telinga.

Langkah selanjutnya, aku langsung membuka chatingan dengannya lewat aplikasi bernama Whatsapp. Singkatnya, setelah menyelesaikan beberapa agenda di Jalan Kaliurang, aku segera meluncur ke lokasi. Awalnya nongkrong di Kopi Jos, utara Stasiun Tugu. Tetapi kemudian pindah di sebuah warung di Jalan Dagen. Di sinilah aku dapat berjumpa dengannya.

Perubahan fisik begitu drastis. Tapi wajah tidak mungkin menipu, sama saja. Hanya beda tipis di pipi yang kian berisi. Cak Fitrah begitu antusias membuka obrolan santai dan meredakan sebuah perjumpaan yang beberapa tahun terhenti, tertunda tepatnya. Sudah sekian tahun tidak bertemu. Temu terakhir kalau tidak salah di acara Haul Akbar di Kedinding Surabaya. Pria asal ujung timur ini merupakan salah satu kiblatku dalam dunia fotografi.

Temu kangen istilahnya. Tetapi kita bukan golongan yang termasuk dalam LGBT. Ditemani oleh Nanda, salah seorang mahasiswa UGM pun juga aktif di majelis dzikir yang sama. Ngobrol ngalor-ngidul. Mulai dari kabar Surabaya hingga Jepang menjadi topik yang bisa mencairkan suasana. Di sinilah aku mendapatkan seberkas jalan terang atas permasalahan yang membelit di hari ini.

Ini hanya kesimpulan dari orang yang asor. Jadi jangan untuk dibaca, dipahami dan didebatkan. Karena tentu sangat tidak tepat dengan ilmu yang sangat minim dariku. Pada intinya dua kata ini meruapakan kata kunci dalam menempuh kehidupan. Pertama itu ‘khidmah’ dan kedua ‘istiqomah’. Intinya pada dua kata kunci itu, termasuk permasalahanku.

Kalau kembali pada prinsip ‘sadar maqom’ maka sangat tidak tepat aku menjelaskan sebagian darinya. Tetapi sebuah pendapat mungkin dapat menjadi dalih setiap orang untuk berkomentar. Dua kata itu merupakan kata terberat dalam konsep maqomat seseorang dalam menjalani kethoriqohan atau kesufian. Tetapi tidak usah untuk dibahas dalam ranah filosofis yang sangat dalam dan njlimet. Mengupas kulitnya saja untuk memperteguh pendirian.

Dalam sebuah diskusi beberapa bulan lalu berhasil menempatkan kata Khidmah dalam ranah yang sangat rumit. Hal ini karena ‘dalamnya’ kata itu seperti kesulitan akan dilakukan dalam keberhidupan. Dan hal ini, adalah sebuah doktrin dalam ajaran kethoriqohan. Sebuah hubungan yang dilakukan oleh murid kepada mursyid, itulah khidmah.

Dalam konteks permasalahanku, Khidmah di sini merupakan sebuah kata kunci membuka selubung kepentingan. Sebuah analogika dalam pikiranku, ketika kita niat betul khidmah maka kepentingan itu akan tersingkir dan ketika kita niat bentul untuk berkepentingan maka khidmah-lah yang tersingkir. Tentu saja, dengan permasalahan seperti itu, aku harus tetap berpegang pada khidmah, bukan kepentingan. Meskipun kepentingan itu baik, tetapi jika dipaksakan maka akan terjadi kondisi ‘oleng‘.

Kunci pertama selesai, kunci kedua pun merupakan sebuah jalan terang. Menempatkan istiqomah pun sebetulnya serba salah. Al Istiqomatu khoiru min alfi karomah. Lhoh, ini bagiannya para wali untuk membahas dan menelaah tentang istiqomah dan kaitannya dengan karomah. Tetapi apa yang dapat diambil dari kulitnya? Jelas, jalan inilah yang harus dijelaskan menurut pendapatku.

Kalau harus aku bahasakan lebih sederhana, istiqomah itu konsisten. Jika kemudian dihubungkan dengan permasalahanku, maka harus memegang teguh sebuah prinsip. Secara kulit seperti itu. Dan apa hubungannya dengan khidmah? Penjelasan singkatnya adalah–dalam konteks permasalahanku–Masalah harus dihadapi dengan memegang teguh atas dasar prinsip melayani bukan atas dasar egosentris (kepentingan).

Kesimpulan tulisan ini jelas berada di kalimat terakhir paragraf atas. Untuk itu, tulisan ini dicukupkan sekian. Terima kasih Cak Fitrah atas diskusi malam hari ini, meski dapat dikatakan menghindar sejenak dari permasalahan tetapi dapat kunci ruhaniyah yang dapat mencerahkan sebuah langkah.

 

Dalifnun

10 Maret 2016 0:30

Advertisements