image

Siang ini, selepas menghantar Ramanda ke RSUD Panembahan Senopati melenganglah daku melewati jalan tengah kampung. Ketika terbesit hati hanya ingin melihat progres pembangunan Masjid Darussalam Bejen, daku harus terkejut dengan berdiri dengan gagah di tengah-tengah maqbaroh selatan masjid yaitu uwakku. Terkejut lagi dengan adanya kol putih pengangkut kijing alias nisan. Cerita detailnya siang ini cukup di sini. Selebihnya adalah berikut ini.

Uwak Harowi Sayuti, menjelaskan kepadaku beberapa kijing tak bertanda yang kokoh mengarungi zaman. Dua kijing yang daku foto beliau jelaskan bahwa keduanya adalah sepasang suami istri. Sang suami adalah putra dari  Datuk Trah Besar di dusun kami, yang mempunyai silang nama maupun silang pendapat mengenainya, Simbah Josetro menurut penuturan Kakek saya melalui Ramanda. Ada pula yang menyebutnya sebagai Joyo Sentiko, dan nama lainnya.

Kembali ke dua kijing ini. Beliau berdua adalah tempat dimana trah Ramanda dan Ibunda bertemu, tepat di Canggah. Bernama asli Abror, tapi lebih familiar dengan sebutan Berar. Asli lidah Jawa pasti lebih mudah memanggil Abror dengan Berar. Istri ‘Mbah Berar’ menurut kekancingan yang dimushonifi sendiri oleh Ramanda, berasal dari Krapyak.

Ya, tanpa nama. Baru sekarang, daku tahu dimana letak makam Mbah Berar. Tepatnya urutan daku kepada beliau sebagai berikut :
1. Mazdan Assyayuti bin Dahlan Sayuti bin Jalal Sayuti bin Masjud bin Abror
2. Mazdan Assyayuti bin Rozimah binti Badawi bin Maksum bin Abror

Dari trah inilah kami bertemu Fauzan Ali Mashudi Nurul Fatimah M Ibnu Hajar Muhammad Chabibi Nazaruddin Rizka Aulia Hakmi Muhammad Abror Rizani Fahmi Mohd Moudjieb Khanaizawa Faqih Syakuri Mia Zakia dan dulur lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu karena saking banyaknya.

Edisi Ruwah (Ngluru Arwah)
Kagem Mbah Kyai Muhammad Abror wa zaujaty Al Fatihah

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10206116447210860&id=1253280959

Advertisements