logo-harkitnas-2016Sedikit kerisauan pada kondisi bangsa ini yang entah mengapa menjadi antah berantah. Apakah bangsa yang mengulang lagi semangat kebangkitan benar-benar merefleksikan makna tersebut. Ataukah hanya seputar seremonial semata yang diperingati sekedarnya.

Baik moral maupun kondisi politik bangsa ini tidak bisa dikatakan bangkit. Sebagaimana palu godam yang menghatam moralitas generasi muda bangsa. Mulai dari coret-coret kelulusan semenjak tingkat SD hingga SMA. Beranjak pada kasus gunung es seksualitas. Bangkitkah?

Palu arit menjadi perbincangan yang hangat. Permainan etnis pun digerakkan, Cina dan Islam. Memang semuanya menjadi semakin rancau sejak bergulirnya persiapan Pilkada Jakarta. Kebangkitan cina dan komunisme, sengajakah?

Paling tidak tahan dengan bergulirnya isu PKI adalah pemberangusan buku-buku yang diindikasi menjadi corong ajaran komunisme. Buku-buku dibredel, segala macam tulisan yang berisi kekirian bakal menjadi hantu di beberapa waktu mendatang. Ada orang yang mengaku menuliskan sesesuatu di berbagai media, tetapi entah tanpa jejak tulisan tersebut.

Menulis apakah sebuah larangan yang didengungkan menjadi sarana memberantas komunisme. Justru bukan komunisme yang diberantas, tetapi kebangkitan literasi bangsa ini menjadi momok yang saru untuk diperbincangkan. Buku dan tulisan bukan sebuah karya individu, tetapi sebuah alat pendakwah ajaran komunisme.

Mengulas tentang komunisme bukan kemudian menyebarkan komunisme. Hal ini karena perkembangan ilmu pengetahuan. Pengetahuan tentang ajaran komunisme bukan sesuatu yang dilarang. Kembali dengan dasar karena itu sebuah pengetahuan, bukan dokrinisasi. Budaya literasi yang tengah dibangun oleh pemuda bangsa ini kembali harus terjegal.

Kembali lagi ke pertanyaan awal dalam tulisan ini, bangkitkah? Selamat Hari Kebangkitan Nasional 2016 kawan, semoga semangat leluhurmu dahulu bukan sebuah candaan di masa sekarang.

Advertisements