Mentari, kau begitu sayu pagi ini. Mendung menyelimuti bumi. Membasahi segenap tanah, dedaunan, atap-atap rumah dan jiwa-jiwa yang sendiri.

Mentari, kehadiranmu digantikan rintik-rintik deru hujan. Menjadikan jendela tempatku memandang, mengembun tak dapat melihat luar. Setidaknya agar aku melihat kembali rindu itu dalam setiap tetes air yang turun dari langit.

Mentari, kapankah kau tersenyum kembali. Setidaknya senyummu itu representatif dari dirinya yang entah hilang kemana. Karena rindu itu menyiksa batinku.

Advertisements