d6ea8a15-8f53-449a-bd55-736651d0d256Menilik kembali pada aset hasil budi dan daya masyarakat di Jawa yang begitu banyaknya, tentu banyak pula nilai-nilai yang hendak dibawa oleh budaya tersebut. Nilai-nilai Islam semenjak kehadiran Wali Songo ke Jawa pun menghiasi karya-karya luar biasa tersebut. Istilah yang kemudian menghubungkan para wali dengan hasil karyanya adalah suatu pola tingkatan maqomat kewalian. Maqomat inilah yang kemudian membawa sesuatu karya dipenuhi oleh nilai filsafat yang tinggi.

Ada banyak sekali hasil karya yang dikenalkan oleh Wali Songo kepada umat Islam di Jawa. Terutama untuk mengenalkan agama yang dibawa sebagai visi misi dakwah Islamiyah. Dalam tatanan dakwah tersebut, Wali Songo menggunakan ‘urf yang berkembang di masyarakat untuk diisi dengan nilai-nilai Islam. Salah satu yang menjadi ciri khas pengisian oleh Wali Songo adalah banyaknya simbol-simbol yang mengidentitaskan nilai-nilai Islam.

Dalam tulisan KH Abdurrahman Wahid, budaya digolongkan kepada hal-hal yang dapat diubah sesuai dengan kebutuhan masyarakat sedangkan agama dengan segenap norma keilahiannya maka ada pokok-pokok yang permanen tidak bisa diubah. Dicontohkan pula dengan Ranggon atau model atap berlapis pada atap masjid berarsitektur Jawa tersebut diambil dari khasanah konsep Meru dari zaman Pra-Islam di Jawa.[1]

Penjelasan mengenai Ranggon tersebut sangat berfilosofis tinggi. Berkaitan dengan bertingkatnya atap tersebut maka memuat nilai Iman, Islam dan Ihsan. Masyarakat Jawa disosialisasikan mengenai tingkatan seseorang yang menganut agama baru yakni agama Islam. Berkeyakinan sesuai syariat kemudian menjalankan syariat dan terakhir pada pemahaman tasawuf, hakikat dan ma’rifat.

Selain dalam bentuk atap suatu masjid, sebuah kubah ala Jawa pun dikenalkan kepada masyarakat. Wali Songo mengenalkan proses ijtihad mereka dengan pengkombinasian nilai-nilai Islam dan Jawa. Mustaka ditempatkan sebagai fungsi kubah-kubah dalam arsitektur Timur Tengah. Bentuknya dengan menslitir dari konsep Meru, daun Kluwih, dan Gada.

Konsep Meru yang digubah dalam Mustaka ini berkaitan dengan atap bertingkat. Mustaka kembali memiliki tiga tingkatan yang menggambarkan thoriqoh, hakikat dan makrifat. Sebuah pendalaman dari Ihsan. Atap menandakan bahwa seseorang harus kuat pada dasaran syariat sebelum menyentuh maqomat yang lebih tinggi. Thoriqoh, Hakikat dan Makrifat menandakan manusia yang sudah tidak berurusan dengan dunia secara ruhaniyah tetapi hanya merupakan hubungan jasmaniyah saja.

Dalam penjabaran diatas Mustaka menandakan tingkatan yang lebih tinggi. Tingkatan atau maqomat inilah yang membuat seseorang mempunyai kelebihan atau keluwihan dalam bahasa Jawa. Keluwihan ini karena manusia sudah menginjak tingkatan mendekatkan dengan Allah SWT. Hal ini kemudian ditandai di Mustaka dengan menaruh ornamen daun Kluwih.

Dalam beberapa Mustaka daun Kluwih dibuat dengan bentuk melengkung ke bawah. Hal ini menandai bahwa orang yang berada di maqomat ini manusianya mempunyai sifat ketawadhu’an yang tinggi pula. Sebuah kelebihan yang dimiliki oleh beberapa orang saja dan merupakan sifat istimewa. Oleh karena itu merupakan salah satu penjabaran filosofi daun Kluwih.

Tingkatan paling atas dalam Mustaka adalah Gada. Kombinasi ini membuat variasi bahwa seseorang yang telah mendalami Thoriqoh, Hakikat dan Makrifat tentu semuanya akan tertuju pada Allah SWT. Gada yang satu menandai sebuah keesaan dari sifat Tuhan atau dalam bahasa Arab adalah Ahad. Pemilihan Gada adalah sebuah penegas akan perintah-perintah Allah SWT dilaksanakan oleh hamba yang taat.

Meski hanya sebuah hasil budaya, Mustaka dalam bentuk ini memiliki keserasian dalam hal arsitektur dengan bentuk masjid yang menggunakan konsep Jawa. Sebuah keharmonian dan keindahan yang menjadi satu. Sesuai dengan hadits bahwa Allah menyukai keindahan. Bahwa kemudian Islam Rohmatan Lil Alamin adalah Islam yang indah.

[1] KH Abdurrahman Wahid, Pribumisasi Islam

Tamansiswa, 23 Mei 2016

Advertisements