Pernahkah aku bertanya padamu, “Syekh, kapankah aku dapat bisa sepertimu?” begitu kataku dengan polos kepadamu.

Engkau dengan bijaksana menjawabnya dengan lembut, “Jika kamu tanyakan kapan, siapkah kamu sekarang menggantikanku?”.

Aku hanya termanggu untuk beberapa saat. Harus aku telaah tawaran yang sungguhnya menyakitkan itu. Jawaban yang seharusnya tidak ku dengar saat itu. Kini aku sudah tahu segalanya. Engkau hanya berujar kepada setiap muridnya dengan penuh tanggung jawab. Tanggung jawab atas segala yang ia berikan pada saat pelajaran di kelas.

Pada saat tertentu engkau bertanya padaku, “Kamu, sudah sampai mana?” begitu tanyanya ketika aku dalam perjalanan pulang ke rumah.

Aku tidak tahu jawaban yang baik. Aku jawab, “Aku sudah sampai Surakarta.”

Aku tidak tahu bahwa jawaban yang ia harapkan adalah sampai manakah pelajaran yang dapat aku laksanakan. Setiap ilmu yang diperoleh di bangku-bangku kelas jika tidak diamalkan maka sama saja. Perjalanan pulang beserta dinamika alam dan kehidupan yang sedemikian rupa adalah tempat terbaik untuk mengasah ilmu tersebut. Segala persoalan itu, ada untuk diselesaikan bukan untuk diturunkan ataupun diwariskan.

Engkau adalah wali, sedangkan aku adalah abu-abu sisa pembakaran. Tidak pernah aku lulus setiap dibakar untuk abadi, sedangkan engkau adalah abadi meski ruhmu hilang dan jasadmu terkubur dalam maqbaroh-maqbaroh di puncak bukit. Kini engkau terbujur kaku dihadapanku dengan berselimut kain putih bersih. Masihkah kau akan membimbingku?

Kampus Perjuangan, 27 Mei 2016

Advertisements