Dentang jam telah menunjukkan pukul dua lebih sepuluh menit, ketika kemudian terdengar suara kasidah diputar melalui horn masjid. Sabtu Pon, hari dan pasaran tepat suara kasidah itu diperdengarkan ke seluruh antero kampung. Suaranya seperti memanggil setiap manusia-manusia kampungan untuk merapat ke Masjid Darussalam Bejen.

Satu mobil bak terbuka berhias diri rapi di halaman Masjid Darussalam Bejen. Berornamen kubah-kubah masjid yang dibuat dari sterofoam. Bawahnya bertuliskan identitas Masjid Darussalam Bejen. Tepat di tengah tampak meja yang didekorasi menggunakan kain berdominasi kuning. Sebelum suara kasidah itu melalang buana, mobil indah itu sudah pergi meninggalkan kampung.

Mendekati adzan Asar, suasana menjadi lebih ramai. Mulai dari bayi hingga sesepuh silih berdatangan menuju masjid. Beberapa anak-anak dengan pede menggunakan sarung tampak hilir mudik mencari teman seumurannya. Terutama yang harus dipresensi kehadirannya adalah Simbah Moch. Badawi, kaum rois kampung Bejen.

Tepat beberapa saat sebelum adzan Asar dikumandangkan, mobil hitam bak terbuka melengang menuju depan Warung Lotek Mbah Cip. Kemudian disusul mobil berikutnya dan berikutnya lagi. Mengular memenuhi jalanan dalam kampung. Susunan mobil itu diarahkan menuju jalan besar, Jalan Urip Sumoharjo, jalan yang membelah kampung Bejen.

Gema adzan Asar kian memanggil segenap insan yang berdiam diri di rumah untuk keluar. Menuju jalanan kampung yang mulai ramai. Mereka semua berdandan rapi, lelaki menjadi semakin ganteng dengan peci dan sarung serta wanita berbusana rapi dan berkerudung warna-warni. Motor menghilir ke halaman masjid kemudian pengendaranya memenuhi shof-shof sholat mereka.

Setelah sholat berjamaah, seluruh warga yang memadati halaman masjid mulai bergerak. Berjalan menuju mobil-mobil yang telah berjejer rapi maupun ke arah motor yang siap untuk konvoi. Memenuhi segala ruang di sudut-sudut jalan kampung, terutama yang menuju masjid.

Untuk yang dispesialkan sebagai penghibur dalam kirab ini adalah para penabuh rebana Rodat. Diberikan mobil hitam bak terbuka sebagai panggung utama dalam kirab. Mobil yang berada di paling depan, lengkap dengan genset dan horn.

Dalam kirab kali ini, kesatuan keamanan kampung yang bernama Combedj berkoordinasi dengan TNI dan Polisi. Hal ini berkaitan dengan rute kirab yang melalui jalan-jalan besar di Bantul. Pengaturan lalu lintas dan mengamankan jalannya kirab. Patwal pun tidak ketinggalan untuk menjadi baris pertama dalam membuka jalanan dari ramainya pengendara.

Setelah semua siap, bergeraklah semua memenuhi Jalan Urip Sumoharjo dengan berbagai atribut mereka. Bagian depan adalah Patwal, disusul dengan konvoi sepeda motor, dan yang terakhir adalah konvoi mobil. Tentu saja, mobil pertama berjalan adalah mobil yang berisi Tim Rodat Kampung Bejen. Disusul mobil lainnya yang mengular sangat panjang.

Rute yang diambil adalah Jalan Urip Sumoharjo, Perempatan Gose lurus menuju perempatan Jethak. Di perempatan ini kirab berbelok ke kiri menuju arah Pertigaan Palbapang. Arah yang kemudian diambil adalah berbelok ke kanan, menyeberang jalanan. Berjalan menuju arah Lapangan Pijenan, Wijirejo, Pandak, Bantul.

Benar-benar ramai sekali kirab tersebut. Hal ini didasari karena jarang sekali kampung Bejen ikut serta menjadi peserta karnaval (kirab) dalam setiap kali Harlah Kabupaten Bantul maupun tatkala Dirgahayu Republik Indonesia. Sehingga dengan adanya kirab yang filosofisnya dari Bejen, oleh Bejen, untuk Bejen ini menjadikan sebuah semangat tersendiri bagi warganya.

Alasan kedua mengapa begitu antusias dan ramai sekali kirab pada kesempatan ini. Hal tersebut dikarenakan agenda mengarak Mustaka Masjid adalah kejadian yang sangat langka sekali. Perulangan kejadian tersebut memiliki rentan waktu lima puluh tahun hingga satu abad. Satu hingga dua generasi yang hidup di masyarakat.

Kegiatan ini berawal dari rapat Panitia Pembangunan Masjid Darussalam Bejen. Kemudian diteruskan ke Kepala Dusun Bejen dan Takmir Masjid Darussalam Bejen. Hingga kemudian menyebar dan terus dikoordinasikan ke berbagai pihak yang akan terlibat dalam pelaksanaan kirab ini.

Esensi yang diangkat dalam kirab ini adalah sebuah pelestarian budaya yang berkembang di masyarakat. Pada zaman-zaman sebelum globalisasi sekarang ini, kirab mengarak Mustaka Masjid adalah sebuah tradisi yang berkembang di masyarakat Bantul pada umumnya, dan berkembang di dusun-dusun yang memiliki masjid-masjid kuno.

Alasan diangkat kembali kirab seperti ini karena hampir punahnya kirab mengarak mustaka mengelilingi kampung. Sebuah kebudayaan yang tertanam dalam masyarakat beberapa dasawarsa silam di Kabupaten Bantul. Khusus di sekitaran Kecamatan Bantul, hal ini sudah hampir tidak pernah dilakukan oleh masyarakatnya.

Berbagai uraian diatas menjadi sebuah keistimewaan bagi masyarakat Bejen. Dengan sangat antusias mereka mengikuti prosesi kirab ini. Tercatat setidaknya ada tiga puluh dua mobil dan tujuh puluhan motor yang mengikuti kirab mengarak mustaka. Menjemput mustaka dari pembuatnya di daerah Jetis, Wijirejo, Pandak untuk dibawa ke kampung tercinta.

Polisi dan keamanan begitu ekstra hati-hati dalam mengamankan kirab tersebut. Jalanan besar menjadi kendala yang cukup menyita perhatian, terutama karena banyaknya pengguna jalan umum untuk akses kepentingan mereka.

Dalam perjalanan pulang dari Lapangan Pijenan, Tim Rodat mengiringi dengan berbagai sholawat dengan langgam khas Jawa. Suasana begitu meriah dan gegap gempita. Masyarakat Bejen sangat antusias menjadi peserta kirab bersejarah ini. Mereka seperti ingin terlibat dan menyaksikan kejadian seumur hidup mereka.

Rute yang diambil hampir sama ketika berangkat, hanya saja ketika sampai di persimpangan Jomblang, arak-arakan kirab menyebrang ke kanan. Menyusuri jalan tengah kampung Bantul Karang dan menyebrang lagi di perempatan Gerdu, utara SMA N 1 Bantul. Rute mereka kemudian berbelok ke kiri ketika menemukan patung semut. Selanjutnya, kirab ini mengelilingi Kampung Bejen.

Mustaka yang diarak ada dua. Pertama, mustaka lama yang terbuat dari seng, delapan puluh tiga tahun yang lalu. Kedua adalah mustaka baru yang bentuknya sangat mirip dengan mustaka lama terbuat dari tembaga. Hanya saja di mustaka baru, ukurannya diperbesar sesuai dengan rasio Masjid Darussalam yang baru pula.

Mustaka baru, berbentuk Godhong Kluwih. Pada pucuknya, terdapat bendera Indonesia, Merah Putih. Filosofisnya adalah kecintaan pada tanah air Indonesia, Hubbul Wathon minal Iman. Pada badan mustaka dibalut oleh indahnya rantai yang terbuat dari kertas warna-warni. Sangat indah. Diarak begitu rupa oleh masyarakatnya.

Sesampainya di halaman Masjid Darussalam Bejen, Mustaka Godhong Kluwih disambut suka cita. Semua masyarakat kumpul menjadi satu di halaman masjid. KH Ahmad Burhani kemudian memimpin jalannya doa bersama. Doa untuk keselamatan segenap masyarakat kampung, tentram, aman, damai dan harmoni, baldatun thoyyibatun warobbun ghofur.

Mustaka baru dan lama kemudian diinapkan di serambi masjid. Menjadi tontonan yang diantusiasi oleh masyarakat. Dari anak-anak hingga orang tua, baik bapak-bapak hingga ibu-ibu kemudian melihat kontruksi mustaka tersebut. Mereka semua tidak lupa untuk mengambil segelas air penuh teh dan jajanan yang disediakan di meja khusus di depan masjid. Ramai seperti diadakannya pesta rakyat.

Tidak ketinggalan, para sesepuh dan pepunden Masyarakat Bejen kemudian berkumpul. Duduk melingkar di serambi, tepat di sebelah utara dari tempat mustaka baru diletakkan. Bercengkerama dan begitu hangat. Sesekali terdengar ketawa khas mereka menanggapi sebuah percakapan dari lawan bicara.

Begitulah Sabtu Pon sore pada tanggal 28 Mei 2016 membius segenap lapisan masyarakat Bejen. Euforia yang mungkin tidak akan terulang dalam lima puluh tahun hingga satu abad akan datang. Semoga ini dapat menjadi cerita bagi anak-anak Bejen di masa akan datang.

Dalifnun
Bejen, 29 Mei 2016

Advertisements