Ahad di pagi hari tidak menyurutkan warga untuk bangun pagi dan bersiap-siap dengan berdandan rapi. Seperti tatkala lebaran memanggil seluruh umat untuk sholat Ied. Akan tetapi pada 29 Mei merupakan hari Ahad biasa, bukan lebaran apapun. Hanya mungkin dimaknai sebagai lebaran kampung.

Berduyung-duyung para lelaki bersarung itu berjalan ke arah makam kampung yang terletak di paling utara. Berkoko ataupun berkemeja menghiasi badan para kaum adam dengan begitu rapi. Begitu pula dengan songkok itu yang menutupi rambut menjadi lebih rapi. Ada yang berjalan sendiri maupun bersama-sama. Ada yang hanya berjalan menggunakan kaki hingga menggendarai motor.

Bejen begitu ramai tepat di jam menunjukkan pukul 7, lebih eksplisitnya di Makam Semboja. Bapak Durori memulainya sebagai Master of Ceremony. Berlanjut dengan pengajian yang disampaikan oleh KH Ahmad Burhani Asy. Pada beberapa tahun yang lalu, sekitar lima tahun yang lalu, pengajian masih disampaikan oleh Kyai Muh. Wardani.

Kampung Bejen memiliki empat makam. Masing-masing berada di RT 1, RT 3, RT 5 dan RT 6. Tahlil yang menjadi acara pokok di setiap makam dipimpin oleh sesepuh secara bergiliran. Di makam RT 1 dipimpin oleh KH Ahmad Burhani, RT 3 dipimpin Simbah Muh. Badawi, RT 5 dipimpin oleh Simbah Muh. Harun, dan terakhir di RT 6 dipimpin oleh Simbah Tulus Ahmad.

Acara Nyadran Kampung Bejen biasanya digelar setiap Ahad pertama setelah tanggal 18 Sya’ban. Begitu konsensus yang disepakati oleh para leluhur kampung dan dijaga hingga sekarang. Hal tersebut sudah menjadi kebiasaan atau bahkan menjadi suatu norma yang hidup di masyarat Bejen. Entah sejak kapan permufakatan mengenai penetapan hal tersebut dilakukan oleh leluhur, mungkin sekitar tiga sampai dengan empat generasi yang lalu.

Ketika pada saat para bapak sibuk dengan mengikuti agenda Tour Makam, ibu-ibu sibuk membuat nasi kardus yang berisi makanan serba enak. Tiap kepala keluarga dibebankan lima kardus dan dikumpulkan di depan Masjid Darussalam. Tidak ketinggalan untuk juga berinfaq seikhlasnya untuk kegiatan Nyadran Kampung. Begitu berulang setiap tahun, seperti menjadi kebiasaan yang berjalan di tengah-tengah masyarakat.

Pada kesempatan kali ini, ada hal istimewa yang berkelanjutan dengan hari sebelumnya. Mengarak mustaka masjid baru yang berbentuk Godhong Kluwih. Setelah sampai di depan masjid, mustaka tersebut diinapkan di serambi. Pada pagi ini, mustaka itu sudah gagah di depan masjid, tidak lagi di serambi. Begitu juga dengan mustaka yang lama, berjejer indah, seperti anak dan bapak yang sedang bercengkrama.

Setelah Tour Makam itu berpamungkas di makam RT 6, maka kemudian jamaah Nyadran itu berpindah di halaman masjid. Menyaksikan prosesi selanjutnya yang dimungkinkan tidak akan berulang seratus tahun lagi. Setelah hari kemarin diarak keliling kampung, kali ini mustaka itu dijumengkan di puncak atap masjid.

Semua warga kampung memadati halaman masjid yang tidak seberapa itu. Laki-laki dan perempuan tumpah ruah di halaman. Mulai dari bayi digendongan sampai yang lanjut usia berkumpul menjadi satu. Benar-benar seperti kejadian langka yang jarang terjadi di kampung dengan euforia yang begitu membekas di hati.

Dipandu oleh Ketua Takmir, acara Jumenengan Mustaka ini dimulai. Terlebih dahulu, satu dua patah kata disampaikan oleh Ketua Takmir, begitu haru. Setelah itu dilanjut dengan doa yang dipimpin oleh KH Ahmad Burhani. Begitu doa selesai, dipersilakanlah Tim Rodat untuk mengiringi Mustaka Godhong Kluwih itu bergerak ke puncak.

Allahumma sholli ‘ala Muhammad, Yaa Robbi sholli ‘alaihi wassalim,” begitu Pak Nursalim memimpin sholawat. Para penabuh Rodat memukul rebana dengan nyaring. Suara Jidor pun menyela di antara pukulan gemerincing itu. Membuat penegasan beberapa pukulan yang diperlukan.

Sholawat dikumandangkan bersamaan dengan mustaka itu diangkat ke puncak atap. Melalui tangga yang masih baru itu. Berikut dengan mustaka yang diangkat oleh empat orang pada mustaka baru dan dua orang pada mustaka lama. Setelah sampai di lantai atas, mustaka itu diterima dan diteruskan oleh para tenaga khusus pemasangan. Mustaka tersebut kemudian pasang oleh tukang yang ahli tepat di puncak atap. Disempurnakan dan ditempatkan dengan pantas.

Ketika para tukang tersebut sibuk, para jamaah kemudian memasuki masjid untuk meneruskan kebiasaan yang dilakukan ketika Nyadran. Testimoni kemudian diberikan oleh Lurah Desa Bantul dan Ketua Panitia Pembangunan sebagai sambutan dan menanti hadirnya KH Chudlori Abdul Aziz. Pada saat KH Chudlori rawuh, maka Tim Rodat dengan penuh semangat mengiringi hadirnya beliau.

Begitulah Nyadran Ageng Kampung Bejen. Nyadran yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya dan biasanya. Mustaka masjid baru itu sekarang bertengger gagah tepat di atas masjid. Menandakan seperti masjid-masjid kuno di masa lalu dan masjid sekarang dengan tingkatnya. Bahkan dalam testimoninya, Pak Lurah menyisipkan kata Agung di nama masjid, yakni menjadi Masjid Agung Darussalam Bejen.

Lengkaplah sudah dengan Kirab dan Jumenengan Mustaka Godhong Kluwih. Masjid Darussalam Bejen menjadi tambah gagah meski pembangunan masih terus berjalan. Penyempurnaan sana sini masih terus dilakukan. Semoga banyak orang yang kian menyumbangkan, mendonasikan, menyodaqohkan dan menghibahkan untuk pembangunan Masjid Darussalam Bejen. Pada akhirnya, menjadi masjid yang gagah perkasa sebagai pusat peradaban Islam yang Rahmatan lil Alamin di Kampung Bejen.

Dalifnun

Tamansiswa, 3 Juni 2016

Advertisements