image

Pada semester ini, umumnya Mahasiswa angkatan 2013 di Fakultas Hukum UII mengambil mata kuliah Praktik Peradilan (PP). Mata kuliah yang mengajarkan mahasiswa pengambil jurusan hukum ini mengerti proses dari Peradilan yang dilaksanakan. Laboratorium bagi praktikum ini adalah Pengadilan Negeri dan Peradilan Semu.

Dosen pengampu mata kuliah khusus ini pun juga merupakan praktisi hukum yang menjabat sebagai Hakim di Pengadilan. Materi yang disampaikan pun merupakan teori-teori seputar peradilan. Hal ini kemudian dicocokkan dengan kegiatan mengamati secara langsung Peradilan di Pengadilan Negeri. Tidak main-main, demi pembelajaran dan keseriusan maka setiap mahasiswa diwajibkan untuk mencatatkan hasil pengamatan pada Kitab Kuning (Buku Kuning).

Selain mengamati Peradilan tersebut, mahasiswa pun dibentuk suatu kelompok Peradilan Semu. Tujuannya yakni mempraktikkan hasil pengamatan dan disesuaikan dengan hukum acaranya. Dalam kelas C yang diampu oleh Pak Sinung, kami dipertemukan dalam satu kelompok. Kelompok Pidana. Rieza (ICX/Icha), Ervina, Ahpur, Hakim, Parahita, Hanum, Hasan, Tiva, Amanda, Bagas (Liyud), Luthfan (Lutpeng), Yori, Irvan (Paijo), Kavin, Mas JL, Azaria, dan Mirna.

Terkait 100 SKS, hal tersebut adalah keistimewaan mata kuliah ini. Dalam susunan rencana perkuliahan PP menempati mata kuliah 3 SKS, tapi pada kenyataannya lebih dari itu. Kita harus ke Pengadilan Negeri melakukan observasi di Laboratorium Hukum. Menuliskan das sollen dan das sein yang terjadi. Lantas memburu tanda tangan Hakim Ketua Sidang dan yang terakhir adalah Ketua Pengadilan Negeri. Kenapa dikatakan memburu? Karena banyak Hakim Ketua yang melimpahkan wewenang pertandatanganan kepada Hakim Anggota yang lain. Ini yang harus kemudian disiasati mencari tahu nama-nama hakim dalam suatu persidangan. Momok terakhir adalah sakitnya Ketua Pengadilan Negeri yang menghambat proses pengumpulan Kitab Kuning tersebut ke Asisten Dosen (Asdos)

100 SKS yang lain adalah soal kelompok. Kita selalu punya jadwal tambahan untuk menyelesaikan tugas keberkasan perkara. Dua tugas yang diberikan oleh Asasi Putih (Asdos) kepada kami. Tugas pertama itu membuat kasus dan segala penyelesaiannya dalam praktik peradilan. Tugas kedua, soal sudah diberikan dengan ketentuan-ketentuan yang berbeda pada tiap kelompoknya. Pidana seperti ini dan Pra Peradilan seperti itu. Selain diselesaikan secara keberkasan, kita juga harus setoran tampil dalam peradilan semu.

Tak khayal bahwa dengan Tugas Dewa itu, kampus hampir-hampir ramai setiap malam. Ruang Baca yang biasanya lengang, menjadi berjubel mengantri memakainya. Rasisnya, ada klaim-klaim mengenai meja. Entah di taruh tas beserta makanan dan minuman tanpa empunya, atau dijadikan tempat nongkrong terlebih dahulu. Kemudian yang terjadi adalah hukum rimba, siapa cepat dia dapat. Kebutuhan terkait tempat pemberkasan yang enak memang membutakan mata kemanusiaan yang ada. Ruang Baca difasilitasi meja luas, kursi empuk, banyak stopkontak, dan pendingin ruangan. Siapa yang tidak menjadi bermata gelap.

Pada saat-saat tertentu, hasil pemberkasan kemudian menjadi bahan untuk dipraktikkan. Dilihat oleh Mbak Asasi, dikritisi atau bahkan dihabisi. Ada yang melas, marah, cuek dan sedih diantara mereka yang setelah berhadapan Asdos Pak Sinung tersebut. Tata acara persidangannya masih amburadul, berkasnya banyak salah dan selalu banyak tingkah konyol lainnya. Itulah yang menjadi kesan tersendiri masuk dan mengambil pilihan di Kelas C. Terutama pada Asdos yang keren abis. Keren? Dia teliti betul, baik secara tata bahasa dalam pemberkasan dan bagaimana selera Pak Sinung dalam Praktik Peradilan Semu. Selain itu, tahun ini mungkin menjadi tahun yang berkesan untuk mahasiswa yang dibimbing oleh Mbak Asasi. Pertama, dia buru-buru menikah tanpa kabar angin yang berdesir, mendadak. Kedua, bapak beliau (Muhammad Jihad) wafat setelah beberapa waktu sakit dan harus dirawat di rumah sakit.

Ramadhan tiba, agenda kami pun masih tetap sama. Hanya penyesuaian waktu dengan rutinitas puasa yang sedemikian rupa. Entah buka puasa ataupun tarawih. Para barisan laki-laki di kelompok kami sebagiannya kemudian menjadi para pemburu takjil. Mulai dari Masjid Syuhada Kota Baru, Masjid Jogokaryan, Masjid Gedhe Kraton Yogyakarta, dan Masjid Kampus (Al Azhar). Pun tidak luput angkringan di dekat kampus, sasaran empuk untuk berbuka dengan kondisi dompet yang menipis. Kumpul gak kumpul yang penting makan.

Begitu seringnya kumpul dengan kelompok ini menjadi sebuah rutinitas yang hampir setiap hari dilakukan. Entah itu memberkas perkara ataupun latihan Peradilan Semu dengan Asdos. Hingga keberadaan hari Minggu adalah nikmat dan menjadi hari sakral untuk beristirahat. Chemistry dengan seringnya kumpul kelompok menjadikan anggota kelompok merupakan bagian hidup dalam lebih dari dua bulan. Ketemu setiap malam dengan orang-orang yang melulu dengan kegiatan yang dikatakan 100 sks. Capek bareng, ngantuk bareng, lelah bareng dan kegiatan bareng lainnya. Begitu pula di bulan Ramadhan.

Sabtu kemarin, 18 Juni, kami melakukan penilaian akhir Praktik Peradilan Semu. Seluruh jernih payah kumpal kumpul dipresentasikan di sebuah ruangan yang didesain mirip ruangan Pengadilan. Pak Sinung, siap melakukan penilaian akhir di kelasnya. Mbak Asdos yang setia membantu beliau itu pun juga telah melakukan penilaian selama mendampingi kami. Lengkap dengan pakaian yang dikenakan oleh Majelis Hakim, Penuntut Umum, dan Penasihat Hukum kami melakukan pendakwaan terhadap teman kami sendiri. Ingat, ini cuma simulasi atas kuliah satu semester Praktik Peradilan.

Setelah penilaian, Pak Sinung berpesan bahwa alur pembelajaran mata kuliah Praktik Peradilan adalah seperti itu. Di kelas diberikan asupan teoritis peradilan, di Pengadilan Negeri melakukan pengamatan bak di Laboratorium Hukum Acara, dan di Ruang Peradilan Semu mahasiswa harus bisa mempraktikkan hasil dari teori dan pengamatan. Untuk itulah, yang pantas disandang oleh mata kuliah ini adalah kuliah 100 sks. Dan terakhir, kuliah 100 sks tidak hanya sampai di paragraf terakhir dalam tulisan ini. Tulisan ini hanya berisi ‘pada pokoknya saja’, seperti ketika PU dan PH membacakan Tuntutan, Eksepsi, Replik dan Duplik. Sangat panjang pula 100 sks tersebut.

Terakhir, thanks a lot for gengs. Berkesan untuk semester menjelang kita semua akan lulus. Segala khilaf dalam kerja kelompok adalah khittoh manusia yang serba salah. Salinglah memaafkan. Semoga kita sukses selalu dan siap untuk ikut memperbaiki tata Peradilan yang jujur, tertib dan transparan. Bersiaplah jadi Majelis Hakim yang adil dan bijaksana. Bersiaplah jadi Penuntut Umum dan Penasihat Hukum yang profesional dengan kejujuran dan sifat memanusiakan manusia. Hukum hanya sebagai alat, niat dan tujuan kita adalah untuk kemaslahatan ummat. SUKSES GENG!!!

image

image

image

image

Advertisements