Kali ini, kampung kami memiliki ciri khas lagi. Untuk memulainya, maka dijelaskan terlebih dahulu hal dasar terkait kebiasaan ini menjadi tradisi antar generasi. Selanjutnya juga akan dikembangkan sebagai kerangka pelestarian dan sebuah kritik sosial.

Trah Bejen

Seperti tulisan sebelumnya terkait kampung bernama Bejen. Sering kali disinggungkan oleh masalah pertalian saudara. Bahkan sesinggungan inilah yang konon menjadi cikal bakal nama Bejen itu diartikan. “Sak Amben Nggo Ijen”.

Dalam kronik silsilah yang pernah dianggit oleh Bapak saya. Pucuk dari silsilah besar ini tertuju pada sebuah nama. Sosok yang diketahui memiliki banyak nama, yaitu Josetro menurut penuturan Bapak, Joyo Sastro menurut penuturan lain dan nama lainnya. Dari beliau kemudian muncul Bani besar di Bejen, ada Bani Abror (Berar), Bani Demang (Ikhsan), Bani Jahid, Bani Tasrip dan Bani Khamim. Beliau-beliau adalah putera dari Mbah Josetro.

Dari Bani Besar tersebut lahir Bani Besar lainnya untuk beberapa tahun ini. Mengingat Bani tersebut diatas adalah Canggah atau Wareng dari generasi sekarang, atau bahkan Udheg-Udheg. Bani Besar selanjutnya yang sering kumpulan Trah seperti Bani Badawi, Bani Tahir, Bani Muh Wardani, dsb. Selebihnya adalah kerumitan silsilah karena banyak sekali nikah silang antar keluarga di masa lalu. Ini sangat rumit, bahkan satu orang dalam satu keluarga besar bisa saja dipanggil sebagai Mas ataupun Adik, tergantung darimana jalur paling dekat kekerabatannya.

Ziaroh

Leluhur kampung ini yang sudah wafat kemudian di kuburkan sesuai dengan letak posisi keluarga besarnya. Pada beberapa puluh tahun yang lalu, melalui penuturan Bapak saya, sudah dipetakan siapa saja dan dimana mereka nanti akan di makamkan. ‘Abu’ yang paling tua akan menempati kelas paling ujung kemudian di susul adik-adiknya. Kenapa demikian? Hal ini karena memudahkan ketika generasi selanjutnya melakukan ziaroh.

Sekitar beberapa tahun yang lampau, saya masih sering menjumpai setiap Kamis Sore ada satu dua orang yang melakukan ziaroh. Itu agenda mingguan. Agenda seremonial setiap tahun adalah Nyadran Besar setiap Ruwah (Sya’ban) oleh seluruh warga masyarakat kampung. Agenda seremonial setiap Bani setiap bulan ada kumpul Trah dan setelah Sholat Iedul Fitri seperti ini mereka juga melakukan ziaroh ke Makam Simbah-Simbah. Meski tidak langsung ‘mak breguduk’ satu Bani berkekuatan full, satu dua kepala keluarga ziaroh bareng masih dimungkinkan karena rumah yang bersebelahan dan kepala keluarga yang lain akan menyusul.

Istilahnya adalah sungkeman. Bila yang masih hidup sungkeman ke orang tua yang masih hidup juga. Nah, ziaroh setelah Sholat Ied merupakan sungkeman kepada Simbah-Simbah yang telah wafat, mendoakan dan memohonkan ampunan. Mereka adalah dzuriyah, artinya memang hak mereka untuk mendoakan karena adalah merekalah jariyah Simbah-Simbah mengalir. Hal ini termasuk anak-cucu Sholeh dan Sholehah.

Ziaroh selepas Sholat Ied ini diajarkan oleh simbah ke orang tua kita dan kemudian orang tua kita mengajarkan ke kita. Jadi, ketika kemudian ada orang tua dari kita tidak melakukannya karena berbagai alasan dan kemudian kita tidak bisa untuk meneruskan tradisi simbah-simbah tersebut maka sangat sayang sekali karena hak waris untuk doa wushul ilallah yaitu keturunan yang sholeh dan sholehah. Kita tidak dapat mengklaim hak tersebut ketika tidak ada usaha untuk mengerti dan paham bahwa perputaran ini kelak akan mematikan kita juga, Siapa yang akan mendoakan kita ketika benar-benar sowan keharibaan Allah SWT?

Ketika berbicara Ziaroh terlepas dari berbagai perdebatan dalil pembolehan, maka Tahlilan adalah salah satu metode pembelajaran dari Simbah-Simbah untuk mewujudkan Dzuriyatina Qurrota A’yun. Pada dasarnya, ketika Ziaroh tidak mungkin juga ‘ujug-ujug’ langsung berdoa, karena juga butuh istilahnya pembukaan misal dengan Tawasulan, membacakan Kalimat Thoyyibah baru kemudian ditutup Doa. Runtutan seperti itu adalah Tahlil (Tahlilan). Jadi secara sosial, tidak diperkenankan untuk menjudge Tahlilan itu haram, tidak boleh dilakukan, dsb. Karena buntutnya kepada si pelarang, siapa yang kelak akan mendoakan dengan runtutan yang tertib?

Permainan logika kecil yang bermanfaat. Dengan adanya Ziaroh dikala musim Mudik, seluruh keluarga besar berkumpul maka kita akan tahu, oh dia masih saudara denganku melalui jalur Simbah A, oh beliau masih Pakde/Bulik-ku melalu jalur Simbah B. Hal tersebut karena ketika Ziaroh Makam, lokasi kompleks per keluarga besar hampir selalu berdekatan. Hal ini berpengaruh pada pendinamisan hubungan keluarga jarak pendek maupun jauh.

Semoga kita dapat membahagiakan Leluhur kita. Sesungguhnya fitrah keberadaan kita di masa sekarang merupakan buah hasil pertemuan klan-klan keluarga besar di masa lampau. Ungkapan rasa syukur tersebut diungkapkan melalui ziaroh-ziaroh kita ke nisan tertuliskan nama simbah yang menyayangi segenap dzuriyahnya.

Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihim wa’fu’anhum. Al Fatihah.

Selamat Idul Fitri 1437 H
Kembali Fitrah, kembali ingat dari mana kita berasal dan kemana kita akan berakhir.

(Bejen, 6 Juli 2016)

Advertisements