image

Pentingnya sebuah hubungan adalah sebab akibat dari adanya interaksi yang dilakukan oleh manusia. Hal tersebut baik hubungan secara vertikal yang digambarkan hubungan manusia dengan Tuhannya maupun hubungan horizontal yang meliputi antarmakhluk. Laiknya hubungan tersebut selalu dijaga agar tetap harmonis dan dinamis.

Dalam ritus yang dilakukan oleh umat Islam, sangat diperhatikan perkara hubungan tersebut. Meski dalam beberapa hal, kontekstual lebih ditekankan daripada tekstualnya. Konstruksi kontekstual tersebut merupakan dasar filosofis sedangkan tekstualnya berupa dasar-dasar yang dituangkan dalam Al Quran dan Sunnah. Banyak ulama yang melalui ijtihadnya yang berpatokan pada Al Quran dan Sunnah yang menceritakan fadhilah dari menjaga hubungan ini (hablum minallah dan hablum minannas) dalam kitab-kitab karangan mereka.

Dalam sholat, manusia diwajibkan untuk bersembahyang (beribadah) kepada Allah SWT, setelah sholat mereka bersalaman ke jamaah kanan kiri. Dalam berpuasa Ramadhan, manusia diwajibkan untuk beribadah lillahi ta’ala atau karena Allah semata. Akan tetapi, di penghujung Ramadhan manusia beriman wajib melakukan Zakat Fitrah yang bernilai hubungan horizontal (hablum minannas). Begitulah keseimbangan hubungan vertikal dan horizontal.

Salah satu penyeimbang dari kedua hubungan ini adalah Silaturrahim. Kata tersebut mewakili keseimbangan dalam konteks hubungan vertikal dan horizontal. Silaturrahim memiliki nilai ubudiyyah yang diberikan reward oleh Allah berupa ganjaran maupun Fadhilah. Bahkan telah umum didengarkan bahwa Silaturrahim dapat memperpanjang usia, hal ini menunjukkan sebuah hubungan vertikal dengan Pemilik Usia.

Filosofisnya, silaturrahim merupakan kegiatan untuk menguatkan dan memperbaiki hubungan antar manusia. Baik dengan keluarga dekat, kerabat, teman dekat, maupun sahabat. Bahkan hubungan relasi yang lain juga diikatkan dalam bingkai silaturrahim ini. Untuk itulah, setelah Lebaran Idul Fitri telah menjadi tradisi untuk bersilaturrahim.

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) dalam hal ini menunjukkan kembali betapa pentingnya Silaturrahim dengan agenda nasionalnya. Pertama, dalam bentuk mempertahankan tradisi silaturrahim yang dilaksanakan pasca Idul Fitri. Kedua, karena alasan hubungan yang baik itu dimulai dengan bersilaturrahim. Hanya saja, dibatasi dalam kerangka yang disilaturrahimi adalah Ulama, karena berkaitan dengan filosofis organisasi yang dideklarasikan Nasional hampir dua tahun yang lalu.

Hal ini merupakan pergerakan politik kultural yang dijaga oleh para ulama dimasa dahulu. Bingkai keharmonisan para ulama yang selalu saja berbeda pendapat, diredam dengan adanya jamuan silaturrahim ini. Pergerakan ini dimulai karena jika tidak disatukan (diharmoniskan) maka ulama hanya akan saling serang dalil dan membingungkan umat (muriddin dan Muhibbin). Bernuansa politik, karena hal ini merupakan salah satu siasat untuk mengharmoniskan hubungan antar ulama. Nilai kulturalnya dipangku oleh bingkai nama silaturrahim.

KH. Raden Muhammad Najib Abdul Qodir, pengasuh Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak mengapresiasi kegiatan ini ketika rombongan anggota KMNU yang berasal dari Yogyakarta sowan kepada beliau. Selain itu Ibu Nyai Nafisah, salah seorang putri KH Ali Maksum berpesan untuk selalu menjaga marwah amaliyah keluarga Nahdliyin di kampus. Betapapun perjuangan di kampus yang sangat beragam jangan dijadikan pantangan untuk terus menjaga tradisi Ahlussunah wal Jamaah di masing-masing perguruan tinggi.

Dalam kesempatan lain, KH Chaidar Muhaimin Affandi (Gus Kendar) juga menegaskan pengistiqomahan amaliyah Nahdliyin. Baik itu berupa Tahlilan, Manaqiban, Shalawatan dan lain-lainnya. Pada kesempatan yang sama, rombongan dari Polres Bantul juga menegaskan peran mahasiswa untuk menyelaraskan khittoh perjuangan mahasiswa dalam membendung ajaran yang tidak pro-NKRI. Hal tersebut disampaikan di kediaman Gus Kendar. Gus Kendar juga menekankan pada pengembangan aktifitas dakwah kultural Nahdliyin untuk menjadi benteng penjaga Islam Nusantara.

Pesan yang selalu ditekankan oleh dzuriyyah Almarhum Almaghfurlah KH M Moenawwir Krapyak adalah istiqomah dan dakwah. Hal tersebut adalah kunci pokok yang selalu diamalkan oleh para Masyayikh dalam mengenalkan dan menguatkan aqidah Islam. Selain itu istiqomah juga merupakan kunci yang selalu ditekankan dalam pondok-pondok penghasil hafidz-hafidz Al Qur’an, nDeres begitu istilahnya. Istiqomah adalah kunci, seperti Al Istiqomatun Khoiru min Alfi Karomah, bahkan lebih baik dari seribu karomah. Pada dasarnya, istiqomah memiliki nilai politik tinggi, bukan tanpa alasan jika Wali Songo berhasil berdakwah, karena mereka istiqomah.

Pada umumnya, KMNU hadir di kampus-kampus karena menjaga amaliyah Nahdliyah. Hal ini merupakan langkah politik dalam rangka untuk memperkuat benteng amaliyah yang mulai tergerus. PMII telah hadir sejak lebih dari setengah abad menorehkan hasil-hasil yang dicapai dalam kancah politik praktis dan pergerakan kemahasiswaan. Ketika masjid-masjid mulai dikuasai oleh gerakan Islam yang notabene radikal, maka sekumpulan mahasiswa mulai dari dua orang menjadi halaqoh besar istiqomah mengadakan tahlilan rutin, mujahadahan rutin, maulidan rutin dan lain sebagainya. Hal tersebut yang menjadikan seperti KMNU IPB, KMNU UGM dan KMNU UNY meretas. Disusul oleh perguruan tinggi lain yang juga memiliki problematika sama.

Senada yang diamanahkan oleh KH R Muhammad Najib Abdul Qodir, Ibu Nyai Nafisah dan KH Chaidar Muhaimin Affandi, istiqomah menjadi kunci dakwah di kampus. Istiqomah merupakan politik sufiyah yang dijaga oleh para kiai, mursyid, dan pendakwah lainnya. Amaliyah apapun yang telah dilakukan oleh KMNU di masing-masing perguruan tinggi harus diistiqomahkan. Dikembangkan sehingga menjadi alat dakwah ala Nahdliyah di kampus, sehingga dapat mencetak kader yang seimbang, baik ruhaniyyah dan jasmaniyyah.

image

Advertisements