Pondok sudah akan memulai lagi masa-masa madrasah, setelah satu purnama libur. Terletak di seberang rumahku, pondok tidak terlalu besar tetapi santri kalongnya teramat banyak. Setiap selepas Isya, biasanya macet di depan rumahku. Termasuk aku, santri kalong tersebut, atau juga disebut santri kampung.

Pondok punya gapura yang unik. Dibilang candi itu tidak ada kaitannya sama Borobudur atau Prambanan. Kalau dibilang itu Islami ala ketimur-tengahan, tapi arsitekturnya bersusun seperti candi. Hanya saja, tepat di antara gabura itu terdapat tulisan “Hidayatul Mubtadi-ien”.

Selepas sholat Isya, aku sering duduk di depan rumah sambil menghidupkan sebatang rokok ditemani kopi. Menghayati malam yang selalu aneh, kadang mendung kelam, kadang berbintang milkyways. Mumpung belum masuk madrasah, begitu alasanku.

Tiga atau bahkan empat hari ini, depan rumah sering disambangi oleh orang yang tidak aku kenal. Kebanyakan mereka bermotor dan boncengan. Kebiasaan ‘metangkring’ setelah Isya itu aku mengamati. Tapi untuk malam ini aku beranikan menyamperkan diri kepada orang tak ku kenal.

Datang dua orang bermotor. Aku berjalan mendekat, sarungku berkibar indah di atas tanah. Angin begitu kencang, mendung sepertinya datang. Ku hampiri pengendara berboncengan tersebut.

“Mas, mau mondok di pesantren depan rumah po?” tanyaku sambil mengentaskan sebatang rokok.

Bul! Begitu asapnya mengepul memenuhi udara.

“Hhhmmmm, hehe, nggak pak,” jawab mereka cengingisan.

“Lhoh, aku jeh enom rek, durung bapak-bapak,” tidak terima aku dipanggil pak. “Iku apa di handphonenya? Dari tadi nunal nunul saja. Nyari Kang siapa di pondok?” tanyaku kemudian.

“Oh ini mas, hehe, nyari Kang Pidgey. Dari tadi dinunul gak bisa,” jawab mereka, masih cengingisan.

“Lhoh gak ada Kang Pidgey. Ada urusan hutang apa kok nyari? Aku tahu betul, tapi gak pernah denger dan kenal Kang Pidgey.” Begitu jawabku, lantas aku tambahin “coba nanti kalau nggak bisa, biar aku yang nunul.”

Tiba-tiba saja, aku disodori handphone bermerk Redmi. Ya sudah, lantas aku tangkap saja Kang Pidgey. Satu kali lempar, dapat juga. Lantas aku kembalikan handphone-nya, sambil berpesan “Mainan Pokemon Go itu juga harus di ngaji-kan, biar tahu nangkep yang benar, biar bisa menang nge-gym di pesantren depan itu juga.”

Ternyata, gerbang unik pondok depan rumah adalah sebuah pokestop dan gedung di dalem itu ditandai sebagai gym. Banyak pokemon berkeliaran di depan pondok. Termasuk yang baca tulisan ini, barang siapa dapat menangkapnya maka masukkan saja ke pondok, kasihan kalau di poketball, tidak muat.

Selamat Istirahat, Selamat Hunting Pokemon.

*Cerita fiktif, jika ada kesamaan peristiwa dan tempat tolong dipahamkan, mungkin itu kamu

(Bantul, 16 Juli 2016)

Advertisements