image

Berangkat dari banyaknya Ulama di wilayah Yogyakarta yang begitu banyak maka, kunjungan silaturrahim tidak hanya dilakukan dalam satu kali jalan. Meskipun berada di daerah kelahiran organisasi masa besar Muhammadiyah, Ulama begitu banyak di sini. Setelah pada perjalanan awal berkeliling kompleks Pondok Pesantren Krapyak, maka kali ini diagendakan untuk bersilaturrahim kepada penjabat Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY, terutama yang berkaitan dengan ranah gerak KMNU.

Perlu untuk disampaikan di barisan awal tulisan ini demi kenyamanan menyampaikan pesan dari silaturrahim. Perjalanan silaturrahim kali ini tidak selancar pertama kali di Krapyak. Hal ini pertama dikarenakan jarak domisili tempat tinggal yang dikunjungi berjauhan. Kedua yang menjadi alasan karena bertepatan dengan persiapan masuk pertama sekolah di tahun ajaran baru. Sehingga hanya bersinggah secara tatap muka dengan Drs. KH Asyhari Abta, M.Pd.I., pengasuh Pondok Pesantren Tegalsari.

Kali ini rombongan diikutsertai oleh perwakilan dari KMNU UII, UGM dan UNY dengan jumlah personil empat orang dua motor. Rombongan kecil ini menembus pekatnya jalanan yang masih ramai pascalebaran, Sabtu (16/07). Tujuan awal dari rombongan silaturrahim ini ke kediaman KH Asyhari Abta di utara Stadion Internasional Maguwoharjo. Dua tujuan setelahnya yang belum berhasil yaitu di Dr. KH. Hilmy Muhammad, MA. di Krapyak dan Drs. KH. M. Habib Abdul Syakur, M.Ag. di Pondok Pesantren Al Imdad Bantul.

Rombongan silaturrahim ini disambut dengan senang oleh KH Asyhari Abta. Beliau mengapresiasi kegiatan yang dirancang serempak secara nasional ini. Alasan beliau menyambutnya dengan apresiasi tinggi karena silaturrahim kepada ulama adalah salah satu penyambung hubungan ruhani dan jasmani sebagai warga Nahdlatul Ulama (NU), terlebih oleh aktifis yang bergerak di dalamnya.

Aktifis di sini tidak eksplisit menunjuk kaum mahasiswa yang aktif dan berkecimpung di organisasi NU seperti PMII, IPNU, KMNU atau yang lainnya. Aktifis tersebut menyeluruh mengenai segenap lapisan pengurus yang mengurusi masalah keumatan di NU mulai dari ranting hingga nasional baik di banom maupun struktural NU lainnya. Aktifis NU dikategorikan merupakan pengurus atau non-pengurus yang benar-benar khidmah kepada Umat dan Ulama, tidak hanya menggunakan NU sebagai tumpangan untuk tenar ataupun jabatan.

Menurut beliau, khidmah kepada ulama bertumpu pada dua aspek pokok yaitu (1) menjalin silaturrahim dan (2) menerima pesan-pesan yang diberikan. Ulama pun menurut beliau juga harus memiliki kriteria khusus untuk dapat dijadikan obyek khidmah. Kriteria tersebut adalah ulama yang benar-benar ilmunya bersanad sampai Rasulullah SAW, tidak hanya belajar dari internet dan secara singkat. Selain itu, ulama yang dapat menempatkan diri dalam hiruk pikuk perpolitikan secara arif dan bijak.

Beliau menyoroti ulama yang menyalahgunakan kedudukannya karena berada diposisi dikhidmahi (diikuti) oleh umat yang banyak. Kegiatan yang secara frontal mendukung afiliasi politik praktis karena permintaan calon legislatif ataupun eksekutif menjadikan umat berada diobyek alat pemenangan. Dengan kata lain, posisi sebagai ulama telah diperalat untuk proses pemenangan dalam pemilu. Pesan beliau khusus untuk hal ini, jangan bangga dan suka terlebih dahulu ketika dekat dengan pejabat, berpolitiklah yang cerdas dan sehat.

Rais Syuriyah PWNU DIY menyampaikan harapan besar NU kepada mahasiswa (kaum muda) sebagai calon pemimpin di masa depan. Mahasiswa yang dikenal sebagai agent of change mempunyai jalur khusus yang berharga untuk dapat merubah Indonesia maupun dunia menjadi lebih baik. Jalur khusus tersebut adalah ilmu yang tengah di dalami dalam setiap bangku-bangku kuliah di masing-masing jurusan. Selain aktif di organisasi tetapi jangan sampai lupa kulit dari mahasiswa itu sendiri, yakni kuliah.

Mahasiswa bergerak sesuai dengan keseuaian ilmu yang tengah di dalami. Hal tersebut mempunyai filosofis chubbul walidain, karena apapun yang telah diperjuangkan oleh orang tua agar anaknya sukses dalam masa perkuliahan adalah harga yang sangat mahal, tentu saja tidak dapat dibalas secara materiil. Ketika mahasiswa tersebut sukses dan berhasil menyelesaikan perkuliahan, hal tersebut kado terindah untuk orang tua.

Aktif di organisasi adalah salah satu pelajaran dan tempat belajar untuk dapat berkenalan dengan sistem birokrasi, suktruktural. Tetapi hal tersebut harus dapat dimanajemen sehingga tidak mengganggu proses perkuliahan. Mengetahui sebagaimana organisasi itu berjalan adalah wawasan yang harus dikenal oleh mahasiswa, terutama mahasiswa NU. Dalam hal ini karena NU berharap mahasiswa tersebut dapat berkhidmah dan berkiprah dalam kepengurusan NU secara baik dan positif sehingga NU menjadi lebih baik dan berkembang.

Pesan yang diberikan oleh Drs. KH. Asyhari Abta, M.Pd.I. merupakan nasihat yang disampaikan seperti kepada putra-putrinya sendiri. Mahasiswa NU merupakan putra-putri dari Ulama sehingga harus terus dinasihati agar berkembang menjadi manusia dewasa. Mahasiswa yang mempunyai pemikiran yang radikal harus terus dibimbing oleh orang tuanya, bak seperti itulah beliau berpesan kepada rombongan ini. Sehingga Mahasiswa NU tidak akan pernah kehilangan ruhaniyahnya sebagai putera puteri terbaik dari keluarga besar Nahdlatul Ulama.

 

Advertisements