Dahulu, kalau tidak salah pada akhir masa SD dan sepanjang masa SMP masih saya jumpai Book Fair yang diikuti oleh banyak sekali penerbit maupun toko buku. Hal ini terutama yang diselenggarakan di wilayah Jogja. Gedung Bakti Wanitatama dan JEC tidak luput sebagai tempat penyelenggaraan event ini.

Ya, memang penerbit ataupun penjual buku yang dijaga stand-nya oleh ukhti-ukhti lumayan banyak. Bahkan di luar area pameran buku, jika diselenggarakan di Wanitatama, banyak penjual lain yang juga tidak ketinggalan menjajakan dagangannya, jilbab-jilbab lebar dan kumpulan cd kajian dan sebagainya.

SMA, masa ini mungkin yang menjadi lebih peka terhadap golongan sebelah. Entah golongan apa. Kepekaan terhadap pola gerakan di Rohis dan lain sebagainya. Hingga awal-awal bomingnya Jogja Islamic Book Fair dan lainnya. Kalau tidak salah, jika harus merunut ke belakang.

Dari ‘keluarnya’ barisan stand penerbit Islami yang menerbitkan buku-buku hujjah dan pendalilan ataupun kajian terhadap Back to Quran dan Assunah. Maka gelar Book Fair yang benar-benar lengkap dan besar sudah menyurut. Hanya beberapa penerbit IKAPI yang selalu membuka stand jika ada Book Fair yang sudah tidak lagi meriah.

Warestore Gramedia yang belakangan menjadi ‘jujugan’ para pencari buku, setidaknya mengingatkan kembali pada animo masyarakat yang sebetulnya sangat besar untuk membaca. Terutama para mahasiswa yang sedang menempuh studi di Kota Pendidikan. Ketika Book Fair tidak hanya menjanjikan buku-buku terbitan baru, yang jadul pun masih ada yang mencari.

Pun sekarang dengan branding Islamic Fair kesekian kalinya, seperti sudah kehilangan ruhaniyahnya sendiri. Buku sudah tidak ditonjolkan, hanya beberapa event seperti tabligh akbar, lomba-lomba dan lainnya. Dan itu biasanya di GOR UNY.

Jadi, kapan ada Book Fair lagi dengan banyak penerbit dan toko buku seperti Pameran Gadget, setelah “Negara Api” menyerang?

(Kampus Perjuangan, 14 September 2016)

Advertisements