img_20160921_155956_hdr-1

(#BukuUntuk2016)

Selesai baca buku ke-13

Rara Anggraeni, Asmaradahana Panjalu – Janggala – Damar Shashangka

Narasi, Yogyakarta (2016)

485 halaman

Berputar kembali pada masa sebelum kejayaan Singhasari. Prabhu Erlanggya yang besar namanya itu merintis kerajaan yang besar Kahuripan. Raja yang dijuluki sebagai titisan Wisnu ini menjadikan agama Wisnu sebagai tatanan agama yang dianut oleh kerajaan. Begitulah kewibawaan seorang raja yang dinisbatkan sebagai Garuda Wisnu Kencana.

Jenggala dan Panjalu, dua negara yang berdaulat masing-masing semenjak mangkatnya Prabhu Erlanggya saling berebut kekuasaan. Hingga pada Syri Naranatha Prabhu Jayabhaya upaya persatuan kemudian diupayakan. Jenggala takhluk dan berada dibawah kekuasaan Panjalu atau Daha. Berbagai pihak di Jenggala mulai menghimpun siasat untuk kembali berkuasa penuh.

Di antara kemelut tersebut, romantisme percintaan antara Rahadyan Rawisrengga dan Dyah Ayu Kirana sebagai penitisan dewata harus mengalami drama. Terlebih kemudian muncul sosok Rara Anggraeni, putri Rakryan Kanuruhan Jenggala yang molek dan pandai menari itu. Cinta dan takhta yang tidak dapat dibedakan.

Penulis dengan asyiknya merangkai cerita ini. Suasana yang dibangun begitu rapi, hanya terbentur pada sambungan cerita ini di buku berikutnya. Novel ini seperti menjadikan candu layaknya seri Sabda Palon yang menjadi best seller itu. Sangat cocok untuk jomblowan dan penggemar cerita sejarah.

 

#Dalifnun #Nahdliquerz #Santri #Novel #Buku #Instabook #Resensi #Book

Advertisements