Hijriyah baru saja memulai masa barunya, era 1437 telah usai, kini 1438 menyambut berbagai persoalan yang akan datang. Sudah ribuan tahun yang lalu Nabi Muhammad SAW melakukan kegiatan yang kini menjadi patokan penanggalan umat Islam. Bergerak dari kota yang berdiri megah Kakbah menuju kota yang berpenduduk heterogen, Yatsrib.

Dalam banyak khutbah yang disampaikan oleh khotib di mimbar-mimbar sholat Jumat disampaikan mengenai makna dari hijrah. Berbagai ulasan mengenai momentum besar itu. Kebesaran momen inilah yang terus diperingati sebagai Tahun Baru Hijriyah, tahun barunya umat Islam. Dalam khutbah-khutbah itu, dirinci dari latar belakang hijrah, proses hijrah dan dampak dari hijrah, tentu masih banyak yang diulas oleh khotib di mimbar itu.

Tidak hanya diketahui dari khotbah Jumat yang berapi-api itu sejarah hijrah Nabi Muhammad SAW. Sejarah terkait peristiwa itu ditulis dalam lebaran-lembaran kitab yang ditulis oleh para ‘alim pada masa itu. Terutama mulainya kodifikasi sejarah dan bidang lainnya ini dicapai dan menjadi peradaban luar biasa di masa Abbasiyyah.

Mahasiswa di Daarul Hikmah harus keluar dari perguruan masa Abbasiyyah itu dengan merampungkan hasil penelitian dan kegiatan literasinya. Ibarat pada masa kini, hal itu disebut sebagai skripsi dan karya tulis lainnya. Oleh sebab itulah, peradaban Abbasiyyah mengalami kecemerlangan dalam bidang ilmu pengetahuan.

Inti daripada kejayaan ilmu pengetahuan masa itu adalah dilandasi pada prinsip Hijrah itu sendiri. Peradaban ini memulai hijrahnya Agama Islam tidak hanya berkutat pada ibadah dan hubungan makhluk dengan Tuhannya. Islam menjadi sebuah peradaban maju dengan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh Mahasiswanya. Islam menjadi prinsip dasar yang kemudian diteliti oleh mahasiswa sehingga menghasilkan karya tulis berupa kitab-kitab yang kini dipelajari di Pesantren.

Hijrah dimaknai sebagai ikhtiar, hal ini dimulai dan berprinsip pada konsep Bergerak. Pada hakikatnya, Hijrah dapat dimaknai sebagai usaha bergerak menuju hal yang lebih baik dan terbaik. Kunci itulah yang membawa besar nama Dinasti Abbasiyyah dalam oleh ilmu pengetahuan. Eloknya, kitab-kitab itu yang berisi ilmu pengetahuan umum pun termasuk dalam kajian ilmu Islam, bahkan dalam aspek spiritualnya.

Hal yang menjadi pertanyaan kemudian adalah bagaimana Mahasiswa pada masa itu dapat mengkorelasikan antara ilmu umum dengan ilmu Islam dalam aspek spiritualitas? Sepertinya hal yang dilakukan oleh Daarul Hikmah dalam mendidik Mahasiswanya tidak meninggalkan aspek spiritualitas itu sendiri. Maka dari itu, Mahasiswa berkualitas dalam aspek kajian ilmu umum dan ilmu agamanya.

Hal senada dikembangkan oleh Pondok-Pondok Pesantren di Indonesia. Meski dalam ranah penerbitan karya-karya santri dan mahasiswa itu masih kurang, akan tetapi pola pendidikan yang tidak menanggalkan urusan spiritualitas menjadi sebuah ruh yang nyata. Kualitas dari ilmu itu dipertaruhkan atas jernih upaya dalam mengolah akal dan hati. Mahasiswa dan santri masih terus mengamalkan tirakat, berpuasa, sholat malam, mengamalkan amalan berijazah, sholawat dan lain sebagainya.

Kembali lagi, hal ini diprinsipdasari dari ruh Hijrah tadi. Keinginan untuk menjadi lebih baik itu menjadikan ilmu pengetahuan sebagai obyek harus digarap agar lebih bermanfaat bagi umat, masyarakat. Jika tidak didasari atas semangat hijrah ini, maka ilmu pengetahuan hanya menjadi sebuah gengsi, menjadi lulusan dengan banyak titel tapi nol kemanfaatannya. Justru, menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat menuju hal-hal yang tidak bermaslahat, seperti menuduh sana-sini dengan syirik, kufur dan neraka.

Mahasiswa sekarang mempunyai tantangan ini. Dalam hal menuntut ilmu harus lebih giat, tetapi jangan melupakan bagian terpenting dari ilmu itu yaitu spiritualitas. Mahasiswa harus lebih dapat bergerak sebagai agen kemanfaatan dan kemaslahatan, tidak hanya menjadi agen perubahan. Karena sama saja jika perubahan itu menuju hal yang tidak baik. Kemanfaatan ilmu dalam berkuliah harus dapat dirasakan oleh masyarakat luas sebagai upaya khidmah kepada umat.

Pergerakan spiritualitas Mahasiswa masih menjadi tantangan serius. Banyak sarjana yang berhasil tetapi dari akhlak masih menjadi batu ganjalan. Spiritualitas sendiri mampu untuk membangun mental dan akhlak. Oleh karena itu, hijrahnya spiritualitas mahasiswa diperlukan agar Islam, terutama ilmu pengetahuan, menjadi peradaban yang mulia kembali. Sehingga pada akhirnya, sarjana lulusan perguruan tinggi merupakan aset berharga yang mempunyai kualitas keilmuan dan keagamaan. Artinya, Indonesia berhijrah menuju peradaban Nusantara yang berkemajuan.

Advertisements