Aku sebut kali sebuah tantangan. Artinya hal-hal yang merintangi sebuah upaya tertentu, itulah tantangan. Tinggal bagaimana caranya untuk dapat mengatasi dan menghadapi sekaligus. Tantangan pun beraneka macam, sangat banyak, akan tetapi pada kali ini yang akan diulas adalah tantangan zaman.

Pada saat terjadinya peristiwa bersejarah terhadap pola pergerakan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa itu dinamai sebagai Sumpah Pemuda. Hal ini karena adanya Pemuda yang berkumpul dan mendeklarasikan Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa. Padahal bisa saja dinamai sebagai Deklarasi Kesatuan atau nama lainnya.

Penamaan Sumpah Pemuda merupakan sebuah makna yang ingin disampaikan sejarah. Entah, bagaimana founding father negara ini apik merumuskan penamaan tersebut. Sebuah makna tentang Pengkaderan Nasional, sebuah nama yang bukan sebagai mainan, ada hal serius untuk ditekankan.

Bangsa yang besar membutuhkan sebuah sistem pengkaderan nasional. Pemuda, merupakan bibit-bibit unggul yang mempunyai daya saing luar biasa. Mempunyai daya gempur dan semangat yang sedang mekar. Simbol generasi yang begitu kritis, sehingga beberapa kali sejarah harus melibatkan pemuda untuk sebuah perubahan besar.

Bangsa ini menargetkan pemuda setiap generasi adalah pendobrak yang siap mengawal tujuan bangsa ini didirikan. Tantangan pada generasi awal adalah persatuan yang disekat oleh berbagai macam sekat, bahkan bersekat-sekat. Hal ini karena politik yang dilancarkan oleh Belanda pada waktu itu. Tantangan pada saat itu jelas, yakni perjuangan menuju kemerdekaan.

Padahal dalam pidatonya, Sukarno pernah mengemukakan bahwa perjuangan dahulu lebih jelas karena melawan musuh yang jelas yaitu penjajahan oleh Belanda. Akan tetapi, pada masa berikutnya, generasi Indonesia akan berhadapan dengan bangsanya sendiri, bukan bangsa lain. Inilah kendala pada masa kini, tantangan yang berbeda.

Orang tua boleh bangga terhadap perjuangannya dahulu. Itu bisa dikatakan berhasil. Mungkin generasi Sumpah Pemuda sudah tidak ada lagi yang sanggup bertahan hidup sekarang, hanya beberapa saja. Hanya generasi pemuda selanjutnya yang dapat membanggakan gerakannya mendobrak kekuasaan yang dikatakan tirani.

Musuh dalam dua generasi pemuda yang lalu adalah pemerintahan atau kekuasaan yang lebih tepatnya, rezim Sukarno dan Suharto. Tetapi itu menjadi igauan pemuda saat ini, ibarat setelah tidur, tetapi tetap terbawa euforia mimpi. Musuh masih tidak jelas, tetapi justru pemuda saat ini mencari musuh sendiri-sendiri.

Terlihat dalam timeline atau beranda sosial media, umumnya digunakan oleh pemuda saat ini. Justru Pemuda saat ini telah kehilangan khittah Sumpah Pemuda, penjunjungan terhadap kesakralan sumpah itu dipertanyakan. Mana yang dikatakan kesatuan itu? Berbangsa satu tetapi saling serang dan menjudge sana-sini.

Pemuda masa lalu lebih mempunyai sifat keberuntungan karena memiliki musuh perjuangan yang jelas. Akan tetapi, pemuda sekarang memiliki musuh teman sendiri atau bahkan membuat posisi teman sendiri sebagai musuh. Bangsa ini kembali memasuki masa devide et impera. Tidak bersatu, justru memulai memecah satu sama lain.

Sudahlah Bung! Pemudamu bukan lagi Pemudaku. Lain zaman, lain perjuangan kita Bung! Musuh tidak selalu sama, kadang kawan adalah musuh dalam selimut, bagaimana Indonesia kembali bersatu? Sumpah kalian, sampah di masa kini. Pemuda kini adalah pemuda latah, terlalu banyak makan sinetron beratusan episode dan alay. Sudah Bung! Kita beda zaman! Pemudamu bukan Pemudaku!!!

(28/10/2016)

Advertisements