Dalam sebuah perjalanan melintasi ramainya jalan yang menghubungkan dua keraton besar, aku bercakap-cakap dengan Budi. Dia duduk dengan tenang di samping kursi sopir. Membelah malam memang menantang kantuk, mengurainya dengan ngobrol.

Kami berlima, dua di depan, termasuk aku. Tiga lainnya berdeselan di kursi tengah. Kami tengah menapaki perjalanan pulang setelah berniat sowan ke Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf di Bustanul Asyiqin, gedung yang dirancang khusus untuk rutinan Ahbaabul Musthofa.

Jalanan begitu ramai, maklum masih berada di kawasan kota Solo. Menerbas hujan yang tidak berhenti sejak berangkat dari Jogja. Hujan begitu awet hingga kami merasakan AC yang begitu dingin menyelimuti suasana dalam mobil.

Budi, tampak kedinginan. Ia begitu gusar dengan memeluk tas ransel dalam dekapannya. Meskipun jaket hitam itu sudah membelai tubuh Budi dengan begitu kuat. Penglihatanku sekilas memandang begitu, karena konsentrasi ke depan harus lebih daripada sekilas.

“…. di sana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan bunda… ” begitu irih Budi mengusir dingin. Bernyanyi Lagu Wajib Nasional, Indonesia Pusaka.

“Aku lebih suka jika sekarang konsentrasi persoalan Al Maidah itu dipecah,” begitu ujarku membelah lagu itu. “Coba saja Presiden mengeluarkan Keppres terkait Penyiaran sekarang.”

Budi hanya lelah untuk menganggukkan kepala. Tetapi ku rasa, statemen yang barusan itu ‘mblunder’, kalimat anti klimaks. Sehingga seperti kacang larang, tidak ada yang paham dan mau menanggapi.

“Jadi,” tambahku, “Presiden mengeluarkan Keppres tentang mewajibkan pemutaran Lagu Kebangsaan di prime time dan melarang mars-mars partai ndak jelas diputar berulang kali.”

Kali ini, Budi mengangguk paham. Ia tampak terpancing dengan isu yang aku gulirkan.

“Ya,” jawaban singkatnya. Tetapi kemudian ia menyambungkan lagi, “Bisa-bisa anak kecil sekarang, di masa depan menganggap mars itu lagu kebangsaan.”

Aku tidak tahu, Budi begitu reaktif kali ini. Umpan itu tepat mengenai sasaran, meski bukan ikan kali ini yang dipancing. Budi memberikan statemen yang diluar dugaanku.

“Ya begitulah, seperti sekarang kita merindukan mars Indomie yang dulu di putar setiap kartun yang kita tonton, seperti lagu nasional, apalagi lirik terakhir itu, ….. dari dan bagi, Indonesia …..,” begitu sahutku sambil konsentrasi dalam mengendalikan stang bunder.

“Apalagi gara-gara soal Ahok itu, nasionalisme kita terganggu kang. Perpecahan, saling serang di media sosial, persaudaraan itu mulai dipertanyakan. Perlu kiranya kembali untuk membangun generasi yang lebih baik, aku kira Keppres itu juga baik untuk generasi mendatang,” begitu kiranya Budi menambahi.

“Pejuang dahulu pun mengikatkan diri pada Bhineka Tunggal Ika. Mereka berbhineka dengan suku, agama, pulau, dan apapun pembeda itu, tetapi Indonesia menyatukan arah perjuangan itu. Lagu kebangsaan pun mengajarkan pada aspek itu secara psikologis heroik nasionalime, kesatuan dan kebangsaan,” timpal aku.

“Sepertinya tidak hanya Keppres tentang Lagu Wajib Nasional kang, sinetron-sinetron yang tidak jelas itu juga perlu di Keppres kan. Bisa-bisa besok kita dengar ‘Mas Boy Pahlawanku’, kan bisa muncul aksi 411 yang lain kang, haha,” begitu Budi menambahi umpan yang aku lemparkan. Diselingi derai tawanya yang khas itu.

“Pertanyaannya simpel aja kang, kapan Pak Jokowi bikin Keppres itu? Haha,” begitu aku menanggapinya, dengan membalikkan pertanyaan dan tawaku.

Begitu menyita perhatianku di posisi sopir. Presiden sedang mengendalikan mobil bermerk Indonesia berwarna merah putih agar tidak keluar jalur dan menabrak apapun di depannya. Semoga tetap aman dan damai Indonesia ku.

Darah pahlawan bangsa itu untuk kesatuan dan kemerdekaan. Nasionalisme mereka tidak bisa ditawar, NKRI harga mati. Malulah kita dengan perpecahan dan memecah belah bangsa. Semangat 10 November harus menyatukan kita kembali, masih banyak PR yang harus diselesaikan, tidak melulu pada Penista Agama, Penista Negara dengan korupsi, kolusi dan nepotisme juga harus didemo dan dikawal.

Selamat Hari Pahlawan 2016

Bantul, 10 November 2016

Advertisements