Dharmaputra Whinesuka merupakan salah satu batalion bentukan dari Raden Wijaya. Tujuannya untuk melindungi raja dari berbagai macam bahaya. Orang-orang terpilih dan terpercaya atas ilmu dan kadigjayannya. Namun sayang, Raden Wijaya mangkat sebelum kinerja Dharmaputra berjalan dengan baik.

Dharmaputra Whinesuka tetap digunakan pada raja berikutnya. Fungsinya pun masih sama. Akan tetapi, hal ini diciderai oleh pemikiran dan tindakan makar kepada Jayanegara. Karena menjadi orang yang dekat raja, maka tindakannya langsung menuju jantung Majapahit.

Dharmaputra menjadi misfungsi. Dari yang idealnya melindungi raja justru mencelakakan raja. Bahkan Ra Tanca sendiri, setelah menjalani hukuman, tetap melakukan pembunuhan terhadap Jayanegara dengan dalih penyebuhan penyakit, karena memang Ra Tanca seorang tabib, hanya saja keahliannya disalahgunakan.

Sesungguhnya, rakyat Indonesia pada abad sekarang dapat belajar dari kejadian tersebut. Jasmerah, kata Sukarno. Ra Kuti menyimpan dendam atas kematian Ra Semi. Dendam itu yang terus dibawa-bawa dan menjadi motif atas tindakan makar dari Ra Kuti.

Isu yang disebarkan oleh Ra Kuti pun hampir sama dengan peran sosial media kali ini. Dihembuskan kalau Jayanegara itu ini dan itu. Mulai dari tidak perhak atas tahta, putra dari selir bukan prameswari, Paling sadis adalah pemberian gelar Galagemet, raja yang jahat (tidak bijaksana).

Kini, kita belajar untuk menjaga marwah kesatuan yang telah diperjuangkan oleh leluhur kita. Indonesia merupakan negara kesatuan. Bhineka Tunggal Ika merupakan alasan paling fundamental kita menyingkirkan rindu dendam dan ego sentris dari kita. Bersatu untuk Indonesia yang jaya dan berkemajuan.

*mahasiswa hukum/sejarah/sastra?

Kampus Perjuangan, 22 November 2016

 

Advertisements