Tahun ini pertama kali aku kehilangan Hari Bapak, mengingat Hari Ibu yang diperingati bulan depan. Januari tahun ini, Bapak kehilangan profesinya yang begitu mulia, Guru. Otomatis hal itu menyebabkan tahun ini sudah tidak ada lagi Hari Bapak, hanya Hari Guru seperti biasanya. Seperti Hari Guru yang diperingati di sekolah kala itu, pulang ‘gasik’ karena semua guru menghadiri apel di Lapangan Paseban ataupun Lapangan Trirenggo, tentu mereka bersama Sang Bupati masa itu, Rezim Samawi.

Guru, begitu berkesannya profesi itu. Kesannya bahkan sampai ke aku, anak Guru. Dimanapun ketemu alumni SD Bantul Timur era Bapak begitu mengesankan bagi muridnya, maka aku kena getahnya. “Anaknya Pak Dahlan ya?” begitu ujar mereka. Sampai hafal aku apa yang akan menjadi pertanyaan pertamanya. Begitulah romantisme seorang guru, apalagi guru itu sangat berkesan bagi murid-muridnya.

Pertanyaan yang selalu menjadi hantu ketika ketemu alumni SD Bantul Timur, apa saja yang Bapak lakukan sehingga terkesan bagi muridnya? Pertanyaan itu mungkin sekarang masih begitu mengganjal. Terlebih karena memang aku ditakdirkan tidak boleh satu atap pendidikan di institusi Bapak mengajar. Sehingga, bagaimana Bapak mengajar masih menjadi misteri. Apakah sama dengan Pak Bagyo ataupun Pak Bandi-guru seprofesi dengan Bapak di SD 3 Bantul-?

Masuk kuliah di Fakultas Hukum dahulu dikenalkan juga salah satu mantan murid beliau bersama Deny, alumni SD Bantul Timur. Entah sekarang mas-mas itu sudah lulus apa belum. Dia cukup baik mengenalkan lingkungan kampus kepada mahasiswa baru seperi aku, meski sepertinya dia hanya mahasiswa kupu-kupu. Tapi itu tidak masalah, aku menjadi hafal kampus yang sampai detik ini aku masih sering nongkrong mendengarkan dosen memberikan materi kuliah.

Terakhir kali bertemu dengan mantan murid beliau adalah saat mencoba transfer pembelian buku di ATM sebuah bank sangat terkenal di Bantul. Lupa namanya, karena tidak tanya siapakah gerangan dia. Hanya mengaku saja sebagai murid Bapak, dan mengaku sebagai alumni SMA N 1 Bantul seangkatan dengan adik sepupuku (Miftakhul Rohman) dan Arkhan Faturahman. Tapi dia mengelutikkan pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh mantan murid Bapak, “Bagaimana kabarnya Bapak? Sehat to?” kurang lebih seperti itu. Kejadian itu belum lama, belum juga dua bulan.

Bapak, diantara ribuan guru yang mengabdi untuk mencerdaskan anak-anak begitu berkesan. Galak mungkin. Tapi yang belum aku jumpai adalah alumni SD di Magelang ketika delapan belas tahun Bapak mengajar di kota itu. Tidak masalah Bapak sudah lepas dari profesi mulia itu, Bapak tidak perlu menjadi pahlawan yang harus disahkan melalui 10 November. Bagi murid-muridnya dahulu, Bapak mungkin menjadi pahlawan hingga dirinya sekarang dapat sukses dunia dan tentunya adalah akhiratnya.

Selamat Hari Guru,
Salam dan doaku untuk guru-guru di SD 3 Bantul, SMP N 1 Bantul dan SMA N 1 Bantul, semoga pelita itu tetap terjaga hingga bangsa ini tercerdaskan oleh pendidikan yang layak.

Kampus Perjuangan, 25 November 2016

Advertisements