Membaca sambil berpikir itu mungkin yang jarang sekali dilakukan oleh sebagian orang. Padahal proses membaca itu menambah wawasan yang lumayan, apalagi kalau ditambah dengan berpikir. Mudah-mudah sulit tentu, tapi disaat era media sosial seperti kali ini, tentu akan banyak manfaatnya.

Dalam sebuah novel yang belum lama saya baca. Saya mulai berpikir tentang ‘ruweting jagad persilatan’ tentang agama. Ini bukan melecehkan atau menghina agama, tapi mohon dapat dimaknai sebagai sebuah sarana peluasan wawasan. Apalagi ini berkaitan dengan Siyasah atau politik.

Jika Anda mengikuti fanspage Damar Shashangka atau minimal mengikuti novel terbarunya yaitu Suluk Tambangraras maka sedikitlah untuk berpikir sejenak. Terjadinya ‘Runtuhnya Giri Kedaton’ itu karena apa? Kedaulatan atau kekuasaan? Mungkin ini juga akan menjadi resensi tersendiri bagi novel tersebut.

Alur cerita dari Tambangraras diruntutkan sejak masa Sunan Ampel (Susuhunan ing Ngampeldenta). Ini menjadi kilas balik seri novel sebelumnya yaitu Sabdo Palon sebanyak lima seri. Detail alurnya lebih didetailkan di Sabdo Palon pada masa Sunan Ampel ini, tapi inti-inti sesuai dengan babad dapat dibaca melalui Tambangraras.

Sunan Ampel begitu toleransi terhadap Majapahit, wanti-wanti beliau ke Sultan Fatah yaitu birrul walidain, itu salah satunya. Demak Bintoro di masa awal pendiriannya tidak head to head memusuhi Majapahit, sebab Sang Prabhu adalah ayahanda dari pemilik nama Panembahan Jin Bun. Hanya ketika Sunan Ampel wafat dan posisi sesepuh Wali Songo beralih ke Sunan Giri maka peta politik terhadap Majapahit ini berubah. Sunan Ngudung menjadi senopati yang memimpin bala tentara Demak Bintoro marak ke Majapahit. Meski dalam beberapa versi lain menyebutkan yang diserang Demak Bintoro sudah bukan lagi Bhre Kertabhumi tetapi Girindrawardana, Raja Daha yang telah menyerang dahulu Majapahit.

Meski Sunan Giri merupakan murid dari Sunan Ampel, tetapi mereka berdua memiliki perbedaan cara pandang politik (siyasah). Terlebih lagi jika maju beberapa tahun kemudian di pergolakan politik pasca Sultan Trenggono mangkat. Antara Sunan Kudus dengan Sunan Kalijaga seperti mempunyai dua kutub yang berbeda. Kedua sunan ini memiliki pandangan siapa yang pantas menduduki tahta Demak Bintoro, Jaka Tingkir atau Arya Penangsang, menantu Sultan Trenggono atau cucu Sultan Patah. Dua wajah ini akan selalu berdampingan dan timbul. Tetapi eloknya para sunan ini, meski berbeda, mereka tetap rukun dalam naungan Dewan Waliyul Amri (Wali Songo).

Terakhir itu pertikaian antara Kasultanan Mataram dengan Kasunanan Giri Kedaton. Kekuasaan ataukah kedaulatan yang sedang diperebutkan. Giri Kedaton dapat saja dikategorikan sebagai kelompok makar terhadap Matatam setelah diplomasi yang dilakukan oleh Pangeran Pekik (Keturunan Sunan Ampel) kepada Suhuhunan Ageng Giri. Dalam diplomasi, Pangeran Pekik menawarkan jalan damai dan maslahat bagi kedua belah pihak. Tetapi Susuhunan Ageng Giri menolaknya dan mengangkat senjata demi martabat Giri Kedaton dan Islam. Akhirnya meletuslah perang antara Mataram dengan Giri Kedaton.

Tapi, di bagian mendekati ending novel ini. Salah satu putera Susuhunan Ageng Giri mencoba menyadarkan Ayahandanya tentang ketamakan kekuasaan. Jayengresmi berargumen panjang lebar kepada forum terutama kepada Ayahandanya. Akan tetapi, Susuhunan Ageng Giri menolaknya dan hal ini dinadai serupa oleh Tumenggung Endrasena (Pimpinan Pasukan Tiongkok di Giri) dan putra penguasa Giri Kedaton yang lain. Setelah pertahanan Kasunanan Giri Kedaton dijebol bala tentara Mataram di bawah Pangeran Pekik, Susuhunan Ageng Giri baru sadar akan apa yang pernah dipertimbangkan Jayengresmi. Getun tibo buri.

Korelasinya dengan keadaan sekarang adalah marilah kita kembali untuk membaca keadaan dan berpikir. Membaca keadaan yang sedang terjadi serta baik tidaknya dalam mengeluarkan sebuah statemen. Itu pun harus melalui sarana berpikir, memikirkan hal yang akan terjadi jika mengeluarkan pendapat seperti ini atau seperti itu. Atau mungkin berpikir pantaskah saya mengeluarkan pendapat tentang orang ini atau orang itu. Karena justru hal terakhir ini yang membuat tambah ruwetnya dunia persilatan.

Menambahi dari dawuh KH Ahmad Musthofa Bisri, dunia maya (media sosial) itu seperti hutan belantara, jadi harus hati-hati karena banyak yang palsu. Hal itu mendasar lagi pada membaca dan berpikir. Sangat sejalan dengan dawuhnya Gus Mus. Konklusi hati-hati dan kepalsuan itulah yang perlu dibaca dan dipikirkan.

Pada akhirnya, marilah saya dan Anda untuk kembali merenung, membaca dan berpikir. Bersama-sama mengurai keruwetan yang ada. Menjalin silaturrahim dan kebersatuan dalam wadah yang dinamakan Indonesia. Bersyukurlah karena limpahan rahmat Allah, Indonesia begitu subur, indah nan kaya. Fabiayyi alaaa-i robbikuma tukadzdzibaan.

Bantul, 27 November 2016

Advertisements