Sabtu (3/12) setelah shalat Dzuhur, mendung memang mengambang di langit Yogyakarta. Sedikit rintik membasahi tanah dan jalanan. Tetapi saya mencoba melawan semua mendung dan rintik hujan dengan menyusuri jalanan menuju Cangkringan, Sleman. Saya blandangkan laju sepeda motor di Ring Road yang melingkari Kota Yogyakarta hingga menuju Jalan Raya Tajem, Maguwoharjo.

Saya merasakan ini adalah perlawanan di tengah batuk dan flu. Bayangan saya hanya mencoba agar sakit yang sedang menjadi mainstream di musim ini tidak bertahan lama di tubuh saya. Kali ini harus memaksakan naik di lereng Merapi adalah karena beban moral yang sangat besar. Justru rasa bersalah yang teramat menyiksa jika tidak meluangkan waktu untuk naik.

Sampai di lokasi, yaitu di Pondok Pesantren Salafiyah Al Qodir saya disambut dr. Alfan Nur Asyhar. Seorang dokter kebanggaan timnas yang juga menjabat sebagai salah satu Majelis Syuriyah KMNU UII. Jabatan yang sama dengan saya saat ini ditubuh KMNU UII. Inilah sebuah acara terpenting dalam regenerasi di KMNU UII, yaitu Sekolah Kader Aswaja yang disingkat menjadi SAKA.

Acara belum di mulai, saya lihat hanya beberapa panitia dan peserta. Saya persilakan kepada dr. Alfan Nur Asyhar untuk memimpin pembacaan Asmaul Husna. Sebuah amaliyah yang beliau wajibkan setiap kegiatan KMNU UII. Beliau berpendapat wasilah dari Asma Allah inilah yang membuat setiap acara mempunyai sebuah makna spiritual tersendiri. Ibaratnya inilah jalan tol untuk menuju wushul ilallah. Kemudian beliau membawakan sebuah permainan, Ice Breaking untuk lebih memperkenalkan sesama peserta.

Acara selanjutnya yang dirangkai oleh panitia adalah pembukaan secara simbolik. Momen inilah yang sebetulnya ingin saya ceritakan. Pembukaan SAKA kali ini dirangkaikan dengan Tasyakuran Hari Lahir KMNU UII ke-2 yaitu melalui pemotongan tumpeng. Sesuatu yang pernah saya lakukan di tahun sebelumnya dalam Tasyakuran Harlah yang pertama KMNU UII. Hanya saja tahun ini saya hanya melihat tumpeng itu terbelah karena dipotong oleh Muhammad Syah Barin Al Rasyid, Ketua Tanfidziyah KMNU UII sekarang.

Ternyata sudah menginjak usia ke dua tahun. Ibarat bayi, usia inilah sedang berlatih berjalan dengan baik. Masih harus terjatuh-jatuh ketika disapih. Tapi itu adalah sebuah ikhtiar yang dilakukan untuk mendidik bayi agar dapat berjalan dengan baik. Itulah sebuah dinamika yang dialami oleh bayi. Tapi outputnya jelas, bayi akan dapat berjalan dengan baik. Orang Jawa pun sering kali akan memberikan penilaian kelayakan bayi berjalan dan kegiatan lainnya dengan faktor “iguh“.

Diungkapkan dalam kata-kata mutiara, jatuh itu untuk bangkit kembali. Sebuah kata yang memiliki semangat motivasi diri untuk melakukan hal yang lebih baik. Selain sebuah dinamika, faktor sunnatullah juga mempunyai peran terutama berkaitan dengan konsep Cakramanggilingan. Ada jatuh untuk bangkit dan pasti akan kembali terjatuh dan siap untuk bangkit kembali. Seperti roda berputar, kadang berada di sisi atas, terkadang juga harus berada di sisi bawah.

Pada usianya kini, artinya KMNU UII akan bersiap terhadap dinamika yang lebih besar lagi. Bukti kesiapan tersebut diejawantahkan dengan diselenggarakan Sekolah Kader Aswaja. Mempersiapkan kader selanjutnya yang mempunyai daya tangkap yang baik. Menangkap semua kemungkinan untuk dilakukan (do it) baik menyelesaian persoalan ataupun gerak-gerak yang mempunyai nilai positif bagi lingkungan, masyarakat. Dalam arti lain mempunyai kepekaan sosial yang baik.

Terlebih hal tersebut kemudian dikuatkan dengan materi Stadium General yang disampaikan oleh Bagus Irwan Masduqi, Lc. Lulusan Mesir itu menyampaikan bahwa kader mahasiswa Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja) harus mampu untuk membuka wawasan seluas-luasnya. Membaca salah satunya caranya, membaca kitab (buku) dari pol kiri hingga pol kanan. Dengan demikian, mahasiswa Aswaja memiliki kecerdasan sesuai prinsip Tawasuth.

Membaca dinamika yang terjadi, sekali lagi, Gus Irwan mengungkapkan bahwa sebagai kader Aswaja juga perlu Tasamuh. Ini artinya cerdas, tidak hanya menjadi kader yang taqlid, tetapi menjadi mahasiswa yang dapat membaca dinamika. Toleransi itu sebagai bentuk menghargai pendapat orang lain, tanpa harus bersikukuh dengan pendapat sendiri secara kaku. Hal ini perlu ditanamkan oleh mahasiswa yang cerdas.

Tujuannya dengan prinsip yang benar ditekankan oleh Nahdlatul Ulama, seorang mahasiswa NU tentu memiliki posisi tawar tersendiri. Karena tentu, mahasiswa tersebut memiliki prinsip kuat terhadap apa yang menjadi landasan filosofinya. Terlebih dalam mengamati dinamika nasional yang tengah terjadi, mahasiswa harus benar-benar membuka cakrawala wawasan yang sangat lebar. Sehingga nanti perlu untuk menerapkan Tasamuh, Tawasuth, dan Tawazun secara baik dan bijak.

Aplikatifnya melalui Analisa Diri yang menjadi salah satu materi di SAKA. Mahasiswa harus mampu memiliki analisa terhadap diri sendiri. Dalam bahasa pondokan dikenal sebagai Muhasabah. Cara muhasabah inilah yang digiring menggunakan analisa SWOT. Penggunaan akal untuk kembali berpikir dengan jernih dan obyektif. Mengetahui kelebihan, kekurangan, peluang dan ancaman diri sendiri.

Prinsip tadi dapat dimasukkan dalam kelebihan ataupun kekurangan yang dimiliki oleh seseorang sebagai faktor dilakukannya muhasabah. Terdapatnya kekurangan bukan lantas menjadi hambatan tetapi harus disiasati untuk penguatan di kelebihannya. Bahkan diperlukannya mahasiswa yang telah selesai dengan dirinya sendiri. Analisa Diri menjadi jalan untuk menuju mahasiswa yang menyelesaikan dirinya sendiri.

Harapan saya sangat kuat terhadap mereka yang mengikuti SAKA ini. Suatu kebanggaan memiliki kader seperti idealnya di materi. Akan tetapi dinamika diri sendiri pun menjadi suatu yang terbaik untuk membangun diri sendiri. Materi memiliki sifat das sollen yang lumayan kuat untuk melakukan doktrin. Tetapi tetap, manusia sebagai kader memiliki sifat yang menentukan das seinnya.

Saya berbangga di tahun kedua ini, SAKA memiliki peran penting mencetak kader yang menjadikan Indonesia lebih baik, secara umumnya. Terkhusus terhadap kebaikan di Nahdlatul Ulama dan KMNU sendiri. Secara tidak langsung saya berharap prestasi mahasiswa yang tergabung KMNU UII mengharumkan nama Almamater Universitas Islam Indonesia diberbagai macam gelangang perlombaan.

Bantul, 5 November 2016

 

Advertisements