Malam itu (3/12) di tengah perhelatan yang diselenggarakan oleh KMNU UII, saya dipertemukan kembali dengan seorang ustadz yang telah saya kenal. Perkenalan dengan ustadz ini mempunyai momentum yang bagus kala itu. Di tengah penelitian akhirnya di Balai Konvervasi Borobudur itu, saya diajak untuk main ke Candi Borobudur secara gratis. Tentu saja saya tidak tolak ajakan tersebut.

Sedikit flashback awal pertemuan kami kala itu. Kali ini pada acara Sekolah Kader Aswaja (SAKA) KMNU UII, beliau menyempatkan untuk hadir meramaikan. Padahal beliau tidak mempunyai apa-apa yang berkaitan dengan struktral dalam organisasi mahasiswa kultural ini. Hanya saja, secara emosional beliau mempunyai keterkaitan untuk peduli dan menyempatkan mendampingi peserta SAKA. Nama beliau, Muhammad Malthuf Jazuli.

Di satukan dalam satu forum sendiri, kami berdiskusi panjang lebar. Forum kecil hanya beberapa gelintir orang yang disatukan oleh kopi dan kepulan asap rokok. Mengeluarkan pertanyaan yang mengusik untuk didiskusikan secara lebih detail dan mendalam. Secara tidak langsung ingin mengurai benang keterusikan dalam pertanyaan yang selalu mengganjal di pikiran.

Sekaliber seorang ustadz, beliau menjadi sumber dari kawruh yang ingin kita gali. Pertanyaan kami untuk beliau kemudian menjadi topik bahasan yang selalu menarik untuk diikuti dan didalami secara menyeluruh. Tentu, karena beliau seorang ustadz maka pertanyaan kami seputar khazanah keislaman. Sebab kami tahu bahwa ilmu yang kami miliki masih sedikit dari yang beliau ketahui.

“Kang, apa bisa dikatakan thoriqoh dan berfilsafat itu mempunyai keterpaduan?” begitu tanya saya kepada beliau.

Beliau menguraikan panjang lebar. Bahkan digunakan pula analogi berpikir agar kami mudah untuk memahami. Beliau mengibaratkan thoriqoh adalah setapak kecil dari jalan besar yang bernama syariat. Setapak inilah yang berhulu pada jalan besar syariat untuk menuju jalan besar lainnya yang bernama ma’rifat.

Dalam kaidahnya, seorang mursyid merupakan seorang yang sudah benar-benar mapan keilmuannya. Sehingga juga dapat dikatakan bahwa seorang mursyid tersebut berfilsafat. Tetapi filsafat yang digunakan tentu menggunakan sistematika yang lebih luas, tidak hanya berpikir menggunakan akal tetapi juga pengerahan spiritualitas sehingga menjadikan filsafat itu berisi nuansa ruhani ala thoriqoh.

“Seorang mursyid ataupun datuk dari thoriqoh memikili tingkat pemahaman yang tinggi pada bidang syariat dan bidang lainnya, sehingga ia mampu untuk membuatkan jalan setapak kecil untuk menuju jalan besar lain,” begitu pandangan beliau terhadap posisi seorang mursyid, selaku pembaiat thoriqoh.

Kemudian pembahasan sedikir melebar terhadap pengijazahan. Tidak seperti ijazah yang dikeluarkan oleh sekolah sebagai bukti transkrip sebuah nilai setelah menimba ilmu sekian tahun. Ijazah disini merupakan bentuk dari pemberian sanad suatu amalan tertentu dari pengijazah kepada orang yang diberi ijazah.

Pertanyaan sederhana dari Chumaydi, “Bagaimana mekanisme pengijazahan thoriqoh?”

Membahas seputar mekanisme tentu akan menelisik sebuah prosedural. Ustadz Malthuf memberikan pemahaman bahwa setiap manusia berhak untuk dapat diijazahi thoriqoh sesuai dengan keinginan dari manusia tersebut. Ijazah thoriqoh ini dalam bentuk baiatan terhadap seorang mursyid. Secara otomatis, amaliyah yang dijalankan oleh thoriqoh tersebut diwajibkan kepada seseorang yang diijazahi untuk diamalkan.

Akan tetapi, beliau kemudian memberikan tambahan pemahaman. Ini sekaligus penting agar tahu siapa yang berhak untuk memberikan ijazah thoriqoh. Tidak semua yang mengamalkan thoriqoh mempunyai hak untuk memberikan ijazah thoriqoh kepada orang lain. Hanya seseorang yang berkedudukan mursyid saja mempunyai kewenangan untuk menjadi tempat baiat.

Regenerasi thoriqoh pun juga menggunakan jalan ijazahan. Antara mursyid terdahulu kepada mursyid yang baru, ilmu kethoriqohan diturunkan dengan memberikan ijazah kepada orang yang benar-benar mampu dan ditentukan oleh mursyid terdahulu. Sehingga dengan hal ini, tidak setiap orang berhak menyandang dan dipilih menjadi seorang mursyid. Hanya mursyid terdahululah yang mempunyai kewenangan memilih mursyid penggantinya.

Ustadz Malthuf kemudian menganalogikan dengan sebungkus rokok. Ketika ada seseorang menawarkan rokok kepada orang tertentu, maka hanya orang tertentu itu yang menikmati rokok, tidak untuk ditawarkan kembali kepada orang lain oleh orang tertentu tersebut. Akan tetapi ketika seseorang memberikan satu bungkus rok0k kepada orang tertentu, maka orang tersebut memiliki hak untuk memberikan ataupun menawarkan rokok tersebut kepada orang lain.

Beliau memberikan pemahaman menggunakan analogi yang kemudian menjadikan lebih mudah untuk dipahami. Diskusi yang bermanfaat untuk menambah pengetahuan. Tapi setidaknya membuka wawasan tentang ilmu yang jarang ditemui dalam khazanah umum. Atau setidaknya menyandarkan ilmu pada tempat yang tepat.

Kampus Perjuangan, 7 Desember 2016

Advertisements