​(#BukuUntuk2016)

Selesai baca buku ke-19
Santri Jalanan – Ahmad Naufa Khoirul Faizun
Gema Media, Wonosobo (2016)
263 halaman

Kembali lagi, saya dapatkan sebuah buku langsung dari penulisnya. Komunikasi melalui media sosial Facebook, mengantarkan saya untuk juga ikut serta membeli karya perdananya dalam menerbitkan buku. Mungkin inilah salah satu bentuk apresiasi terhadap karya orang lain. Mutualisme yang harus terus dilakukan sebagai bentuk interaksi sosial.

Saya tertarik pada judul buku yang mengangkat Santri Jalanan. Santri yang biasanya berdiam diri dalam kurungan penjara suci yaitu pondok pesantren maka kali ini penulis mengangkat Santri Jalanan. Santri yang berada di jalanan untuk menimba ilmu-ilmu yang diberikan oleh dunia luar dari batas keilmuan pondok pesantren.

Isi bukunya pun tidak begitu berbeda drastis dengan judulnya. Seperti bunga rampai, buku ini berisi dari tulisan-tulisan kecil dari penulis sebagai reportase maupun respon atas segala problematika. Tidak ada tulisan yang mengangkat cerita tentang pesantren secara khusus. Kebanyakan tulisan merupakan perjalanan pribadi penulis, baik segi pengalaman, mengikuti Maiyah, dan berkhidmah di NU. 

Latar belakang penulis sebagai Santri di An Nawawi Purworejo dan Aktivis Muda Nahdlatul Ulama membuat tulisan yang dirangkainya menjadi sarat akan makna. Terlebih dalam bab Pengalaman dan Perjalanan yang menceritakan baik segi pengalaman yang pernah di temui maupun perjalanan yang merupakan musabab dari sebuah pengalaman tersebut dilalui. 

Bahasa yang digunakan untuk menuliskan bunga rampai ini cukup untuk membuat pembaca mengikuti bagaimana cara berpikir dan membangun suatu paradigma. Sebuah buku yang sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh santri dan aktivis Nahdlatul Ulama. Begitu juga kepada para penggiat Maiyahan ataupun penggemar Cak Nun, silakan baca.

Lama Baca : 25 November – 7 Desember 2016 

Advertisements