​Kembali lagi, ojek online itu menderu di jalanan yang ramai. Di tanah orang lain, terkadang memang diperlukan sarana transportasi seperti ini. Terlebih dengan posisi zaman yang semuanya seperti serba online. Diuntungkan oleh mereka yang memanfaatkan teknologi sebagai sarana menunjang kebutuhan hajat manusia kebanyakan, salah satunya mobilisasi kegiatan manusia. 

Beberapa tahun lalu, mungkin tidak lebih dari tiga tahun, pertemuan salah seorang ustadz pembaca Manaqib Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani qs dengan aroma parfum yang begitu menarik. Aromanya seperti bebauan dupa yang begitu semerbak. Seperti menawarkan pada majelis-majelis dzikir dan maulidurrasul yang dipenuhi aroma semerbak harum dari kepulan asap dupa. 

Sering kali jika bertemu dengan ustadz ini, saya selalu berposisi sebagai pemalak. Memalak untuk meminta minyak wangi beraroma dupa itu. Setelah puas baru saya kembalikan kepada empunya. Jaminan wanginya bisa bertahan beberapa hari di baju koko berwarna putih itu. Maklum, biasa ketemu sang ustadz selalu berpakaian putih-putih. 

Hal yang kemudian mengganjal setelah beberapa saat memalak adalah rasa bersalah. Ingin rasanya insyaf untuk berhenti memalak. Maka salah satu jalannya adalah memiliki minyak wangi tersebut. Secara otomatis, perilaku memalak tersebut tentu tidak lagi berulang. Oleh karena itu, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada sang ustadz.

“Tadz, beli dimana sih itu minyaknya?” begitu saya menanyakan perihal minyak wangi itu. 

“Di Ampel,” begitu jawab singkat beliau. 

“Wah, boleh dong kalau njenengan balik Surabaya, titip ye tadz,” begitulah pinta saya kepada beliau dengan amat tidak sopan, maklum saya sebagai pemalak. 

Hanya saja, selalu bertemu dengan ustadz tersebut tanpa hasil. Hanya berujung pada perilaku memalak lagi. Candi lagi. Memang baunya itu menjadi candu, seperti perilaku pada pemabok yang suka ngelem. 

Pada perhelatan Haul Akbar 2016 kemarin di Jalan Kedinding Lor 99 atas saran ustadz tersebut untuk membeli di Ampel sendiri. Tapi entah kenapa tidak jadi untuk pergi ke Ampel. Sang Ustadz sudah mengantongi dengan nama minyak dan nama tokonya via WhatsApp. Karena tidak jadi mampir di Ampel, maka kembali lagi untuk memalak sang ustadz kembali jika bertemu. 

Pada akhir perjalanannya, saya akhirnya mampir di Mustika Wangi. Toko yang di-WhatsApp-kan oleh sang ustadz kala itu. Setelah perhelatan Musyawarah Regional 2 KMNU maka saya sempatkan untuk sekedar mampir sambil berkirim doa kepada Sunan Ampel. Tentu saja untuk mencari minyak wangi yang selama ini saya palak dari sang ustadz. 

Ternyata warung penjual minyak wangi ini terlihat ramai.  Beberapa orang mengantri dan rela menunggu untuk berkesempatan untuk membeli sesuatu dari toko ini. Bahkan motor-motor itu berjejer di pinggir jalanan sekedar menemani sang majikan untuk ke toko tersebut. Meski beberapa toko di sekitar kebanyakan tutup pada hari itu (Ahad), Mustika Wangi tetap membuka diri melayani pembeli setianya. 

Setelah ku dapatkan apa yang selama ini saya cari. Maka kemudian saya mencoba kembali menghubungi ustadz asal Madura itu via WhatsApp. Sekedar melaporkan hasil ‘klayapan’ di Ampel dan membeli oleh-oleh dari kawasan religi tersebut. Setidaknya memberikan informasi jika nanti ketemu sudah tidak lagi malak, sepenuhnya insyaf. 

“Alhamdulillah, Anda Beruntung,” begitu balasnya di WhatsApp. 

Bantul, 27 Desember 2016Kembali lagi, ojek online itu menderu di jalanan yang ramai. Di tanah orang lain, terkadang memang diperlukan sarana transportasi seperti ini. Terlebih dengan posisi zaman yang semuanya seperti serba online. Diuntungkan oleh mereka yang memanfaatkan teknologi sebagai sarana menunjang kebutuhan hajat manusia kebanyakan, salah satunya mobilisasi kegiatan manusia. 

Beberapa tahun lalu, mungkin tidak lebih dari tiga tahun, pertemuan salah seorang ustadz pembaca Manaqib Sayyidina Syaikh Abdul Qodir Al Jailani qs dengan aroma parfum yang begitu menarik. Aromanya seperti bebauan dupa yang begitu semerbak. Seperti menawarkan pada majelis-majelis dzikir dan maulidurrasul yang dipenuhi aroma semerbak harum dari kepulan asap dupa. 

Sering kali jika bertemu dengan ustadz ini, saya selalu berposisi sebagai pemalak. Memalak untuk meminta minyak wangi beraroma dupa itu. Setelah puas baru saya kembalikan kepada empunya. Jaminan wanginya bisa bertahan beberapa hari di baju koko berwarna putih itu. Maklum, biasa ketemu sang ustadz selalu berpakaian putih-putih. 

Hal yang kemudian mengganjal setelah beberapa saat memalak adalah rasa bersalah. Ingin rasanya insyaf untuk berhenti memalak. Maka salah satu jalannya adalah memiliki minyak wangi tersebut. Secara otomatis, perilaku memalak tersebut tentu tidak lagi berulang. Oleh karena itu, saya memberanikan diri untuk bertanya kepada sang ustadz.

“Tadz, beli dimana sih itu minyaknya?” begitu saya menanyakan perihal minyak wangi itu. 

“Di Ampel,” begitu jawab singkat beliau. 

“Wah, boleh dong kalau njenengan balik Surabaya, titip ye tadz,” begitulah pinta saya kepada beliau dengan amat tidak sopan, maklum saya sebagai pemalak. 

Hanya saja, selalu bertemu dengan ustadz tersebut tanpa hasil. Hanya berujung pada perilaku memalak lagi. Candi lagi. Memang baunya itu menjadi candu, seperti perilaku pada pemabok yang suka ngelem. 

Pada perhelatan Haul Akbar 2016 kemarin di Jalan Kedinding Lor 99 atas saran ustadz tersebut untuk membeli di Ampel sendiri. Tapi entah kenapa tidak jadi untuk pergi ke Ampel. Sang Ustadz sudah mengantongi dengan nama minyak dan nama tokonya via WhatsApp. Karena tidak jadi mampir di Ampel, maka kembali lagi untuk memalak sang ustadz kembali jika bertemu. 

Pada akhir perjalanannya, saya akhirnya mampir di Mustika Wangi. Toko yang di-WhatsApp-kan oleh sang ustadz kala itu. Setelah perhelatan Musyawarah Regional 2 KMNU maka saya sempatkan untuk sekedar mampir sambil berkirim doa kepada Sunan Ampel. Tentu saja untuk mencari minyak wangi yang selama ini saya palak dari sang ustadz. 

Ternyata warung penjual minyak wangi ini terlihat ramai.  Beberapa orang mengantri dan rela menunggu untuk berkesempatan untuk membeli sesuatu dari toko ini. Bahkan motor-motor itu berjejer di pinggir jalanan sekedar menemani sang majikan untuk ke toko tersebut. Meski beberapa toko di sekitar kebanyakan tutup pada hari itu (Ahad), Mustika Wangi tetap membuka diri melayani pembeli setianya. 

Setelah ku dapatkan apa yang selama ini saya cari. Maka kemudian saya mencoba kembali menghubungi ustadz asal Madura itu via WhatsApp. Sekedar melaporkan hasil ‘klayapan’ di Ampel dan membeli oleh-oleh dari kawasan religi tersebut. Setidaknya memberikan informasi jika nanti ketemu sudah tidak lagi malak, sepenuhnya insyaf. 

“Alhamdulillah, Anda Beruntung,” begitu balasnya di WhatsApp. 

Bantul, 27 Desember 2016

Advertisements